Nasional / Peranakan / Politik / Tokoh

Soe Hok Gie, Sebuah Idealisme Dan Kejujuran Yang Mati Muda

06/07/2019

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.” (Soe Hok Gie)

Soe Hok Gie - Profile

Membaca sebaris kalimat di atas harusnya telah cukup menggambarkan sosok pengucapnya. Dialah Soe Hok Gie (Hok Gie), pemuda dengan watak keras kepala, berani bahkan terkesan nekat, yang namanya kemudian tenggelam sementara waktu setelah kematiannya di tahun 1969.

Ah, kematian raga memang hanya sementara saja mematikan sebuah kenangan. Dan untuk seorang tokoh yang telah menggoreskan kisahnya pada sebuah perjuangan yang suci, jiwanya akan senantiasa hidup di atas bumi. Demikianlah Hok Gie, ia seolah mati suri, dilupakan sebentar, tetapi kemudian bangkit kembali di tahun 1983 setelah buku catatan hariannya yang tercecer dikumpulkan dan diterbitkan. Orang mencari sosoknya yang dituturkan melalui sebuah diary miliknya. Lalu di tahun 2000-an namanya kembali hidup dan bayangnya berlari di kepala kita setelah kisahnya difilmkan oleh Mira Lesmana dan Riri Reza.

Jika bertanya kepada orang-orang yang mengenal Hok Gie, jawabannya mungkin bisa berbeda-beda. Sebagian bilang Hok Gie orang yang kaku, tetapi yang lain bilang ia orang yang ramah dan riang. Sebagian bilang ia orang dengan kepala batu, tetapi yang lain bilang ia lembut, sebab terkadang iapun menulis sajak-sajak cinta. Hanya untuk satu predikat saja orang-orang itu tidak berbeda, bahwa Hok Gie adalah seorang idealis yang jujur.

Idealisme Hok Gie ditunjukkannya ketika ia melawan arus kebobrokan jaman di masa mudanya. Ia terus melontarkan kritik kepada penguasa (dan kritiknya selalu tajam bahkan terkadang kasar), seolah-olah dalam jiwanya itu ada kobaran api yang terus menjilat-jilat dan harus dikeluarkannya untuk membakar sekelilingnya. Ia rutin menulis artikel untuk dikirimkan ke surat kabar (tidak semuanya dimuat karena tajamnya terkadang kebangetan), tetapi paling sedikit ia menuliskan uneg-unegnya di diary-nya sendiri.

Soe Hok Gie - Cover

Wataknya yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan (kekuasaan absolut yang identik dengan ketidak-adilan) telah tertanam sejak kecil. Di usianya yang ke-15, ia sudah menyatakan muak terhadap kesewenang-wenangan guru Ilmu Bumi-nya. “Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan Ilmu Bumi-ku 8 tetapi dikurangi 3 menjadi 5. Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu. Kertasnya aku buang,” tulisnya di diary-nya tertanggal 4 Maret 1957. Hati yang mengeras seperti batu adalah ungkapannya betapa ia begitu marah tetapi tak bisa melawan, sehingga ia resapkan kemarahannya ke dalam hati menjadi dendam.

Aksi membuang kertas ulangannya itu saja sudah menunjukkan perlawanan. Ia ingin melawan kesewenang-wenangan gurunya tetapi mungkin saat itu ia masih memandang muka seorang guru, sebab kalau guru itu bukan seorang guru, mungkin sudah ia hajar. Hok Gie, biarpun badannya kecil dan kurus, nyalinya seperti singa. Suatu hari sehabis menerima rapor, ia menulis, “Pulang sekolah aku hampir berkelahi dengan cross boy karena aku ditantang berkelahi. Dia mengeluarkan rantai dan pisau, dan memanggil kawannya, besar. Tapi dipisahkan oleh si Hok San.”

Bukan saja Hok Gie adalah seorang yang idealis, tetapi ia idealis yang jujur. Ia punya prinsip, punya cara berpikir dan pendapat, yang ia nyatakan dalam setiap kritiknya. Memang tidak semua pendapatnya selalu benar, tetapi ia selalu jujur. Kejujurannya lahir karena itikad baik, tanpa hidden agenda atau motivasi yang kotor demi sesuatu. Ia mengkritik untuk sebuah perubahan dan cita-cita, apapun risikonya. Ia bukan mengkritik untuk memperoleh permen dan setelah mulutnya terasa manis lalu ia bungkam. Kejujuran inilah yang menjadi penyokong utama idealismenya, sebab tanpa kejujuran, idealisme akan gampang dimatikan.

Selalu, dimanapun, keadaan tak pernah berpihak kepada idealisme, sebab idealisme selalu melawan arus kebobrokan yang sudah established. Demikian halnya yang dialami Hok Gie. Karena terus melawan arus, di satu titik iapun pernah lelah. Kakaknya (Soe Hok Djin – yang kemudian berganti nama menjadi Arief Budiman) menceritakan bagaimana frustrasinya Hok Gie setelah sekian lama berjuang. “Saya berpikir, apa gunanya yang saya lakukan ini. Saya menulis dan mengkritik, tetapi kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan, bahkan makin lama musuh saya makin banyak, dan orang-orang yang mengerti saya makin sedikit. Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian,” demikian Hok Gie mengeluh kepada kakaknya.

Hok Gie adalah salah satu penggerak demonstrasi paska peristiwa G30S yang terjadi tahun 1965. Bersama mahasiswa Universitas Indonesia (UI) – ia sendiri adalah mahasiswa Fakultas Sastra – ia turun ke jalan, long march, menuntut turunnya harga-harga kebutuhan, memprotes penguasa, memaki menteri-menteri. Hampir tiap hari jalanan dipenuhi oleh mahasiswa. Nyanyian-nyanyian perjuangan berkumandang: “Tek, kotek, kotek, ada menteri tukang ngobyek. Blok, goblok, goblok, kita ganyang menteri goblok..”

Soe Hok Gie - Bersama Teman

Hok Gie memberi contoh kawan-kawannya untuk memegang idealismenya. Pernah ketika para mahasiswa long march di depan Hotel Indonesia (HI), mereka minta lem dan alat tulis kepada pihak hotel karena para mahasiwa itu ingin bikin plakat untuk ditempel-tempel. Tetapi pihak hotel memberi nasi bungkus untuk “membujuk” mahasiswa yang teriak-teriak, agar segera pergi dari sana. Tak ayal mereka marah. “Kita apakan nasi ini?” tanya seorang. “Menghina, lempar saja!” jawab yang lain. Dan nasi bungkus pun dilempar ke atas lantai hotel yang mengkilat.

Suatu hari ketika mahasiswa long march, sampai di depan Wisma Nusantara (WN) mereka kehausan dan ingin minum. Hok Gie berbicara tegas bahwa mereka hanya boleh minum air ledeng di WN. Pihak WN menawarkan limun, tetapi ia menolak. “Saya hanya butuh air kran,” kata Hok Gie. Ia ingin memperlihatkan kepada masyarakat, bahwa sementara para pejabat korupsi dan menghamburkan uang negara, para mahasiswa tetap idealis dan jujur. Mereka bukan pendemo bayaran.

Dalam sebuah perjuangan yang suci, selalu terselip kisah cinta pada sebagian pelakunya, tak terkecuali Hok Gie. Ia begitu jujur menuturkannya dalam kalimat-kalimat di diary-nya, tentang perasaannya terhadap wanita yang disukainya dan yang menyukainya. Terkadang ia menulis sajak cinta yang begitu romantis:

           Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah

            Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

            Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku

            Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

            Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Paling tidak ada tiga wanita yang pernah singgah dan mengisi hati Hok Gie, dan semuanya adalah kawan seperjuangan. Ia menulis sebuah catatan tentang Sunarti, “Saya terima surat dari Sunarti. Rupanya ia kesepian sekali. Saya juga merasa kehilangan. Akh, kalau ada dia lebih sedap. Ada bagian suratnya yang membuat saya berpikir jauh: ‘Gue rasa punya pacar seperti lu enggak rugi. Lu enggak membosankan, selalu penuh dengan ide. Gue kalau dekat lu rasanya hidup, semua kesusahan gue hilang. Tetapi sayang mama gue enggak suka sama lu. Kenapa kita tidak akrab dari dulu-dulu, kenapa baru sekarang?’

Dua insan yang saling mencinta itu rupanya terhalang tembok.

Kemudian ada Maria, wanita yang menyemangati perjuangannya, tetapi akhirnya juga putus. Ketika ditanya temannya tentang perasaannya setelah putus pacar, ia menjawab, “Nothing happened. As the sun rises in the East and go as down to the West.” Tetapi sebenarnya ia sendiri gundah. “Saya berusaha sebisa mungkin tegar, tetapi pastilah ada impact-nya. Yang mau saya hindarkan adalah sikap seperti laki-laki lain yang banci ataupun sleeping from one brothel to the other brothels,” tulisnya.

Dan hubungannya dengan Rina yang ia tuturkan mengalami nasib yang sama seperti dengan Sunarti dan Maria, karena mamanya tidak setuju anaknya bergaya hidup liar, naik gunung, ikut demonstrasi. Bergaul dengan Hok Gie bukan pilihan yang tepat bagi anak perempuan yang harusnya hidup “normal sebagai layaknya perempuan”.

Semua ibu dari pacar-pacar Hok Gie salut dan memuji perjuangan Hok Gie, tetapi tidak lantas bersedia jika anaknya dikawini oleh Hok Gie. Terlalu berisiko mempunyai suami seorang idealis yang suka melabrak keadaan. “Ia baik, tetapi sayang sekali ia akan terisolasi,” kata mereka.

Entah karena ia lelah bahwa idealisme dan kejujurannya selalu ditolak, ia mengungkapkan kegalauan, seperti tengah putus-asa, mengutip filsuf Yunani:

           Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan

            Yang kedua dilahirkan tapi mati muda

            Dan yang tersial adalah umur tua

            Berbahagialah mereka yang mati muda

Dan hari-hari setelah episode galau itu Hok Gie seolah mencium bau kematian. Di diary-nya tertanggal 8 Desember 1969, beberapa hari sebelum berangkat untuk mendaki Semeru, ia menulis catatan seperti kalimat perpisahan, “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu, saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru, dengan Maria, Rina, dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti…”

Apakah firasatnya itu menjawab kerinduannya yang ditulis sebulan sebelumnya?

           Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang

            Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

            Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku

            Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

            Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu


Apakah Hok Gie ingin mati membawa cintanya yang kandas kepada tiga gadis yang disebutkan namanya itu? Ia merasa orang membutuhkan perjuangannya tetapi bukan dirinya, bukan pula cintanya kepada anak gadisnya.

Soe Hok Gie - Wafat
Hok Gie, Wafat

Selasa, 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Hok Gie meninggal karena menghirup gas beracun di gunung Semeru.

Ia menyangka bahwa idealisme dan kejujurannya tertolak, tetapi ia tak tahu, bahwa ketika jenazahnya dibawa ke Malang dan peti mati sedang dipesan, si penjual peti mati bertanya kepada kakaknya, Arief Budiman, “Untuk siapa peti mati ini?” Dan ketika Arief menjawab untuk Soe Hok Gie, penjual peti mati itu menangis. Ketika pilot yang menerbangkan pesawat yang membawa jenazahnya menuju Jakarta tahu bahwa itu adalah jenazah Soe Hok Gie, pilot itu berkata dengan sedih, “Saya kenal namanya. Saya senang membaca tulisan-tulisannya di koran. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak kalau dia hidup terus.”

Soe Hok Gie - Nisan
Batu Nisan Soe Hok Gie, 17 Desember 1942 – 16 Desember 1969

Ternyata Hok Gie dan idealisme dan kejujurannya tidak sendiri. Banyak orang mendukungnya, tetapi hanya dalam diam, dalam sepi. Mereka ingin Hok Gie bisa berbuat lebih banyak lagi untuk negeri ini, tetapi rupanya Tuhan lebih ingin menjaga idealisme dan kejujurannya agar tetap suci dan tidak tercemar di kemudian hari – seandainya ia masih hidup dan menjadi pejabat.

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”Tan Malaka

13 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan