Tokoh

Seriusnya Kisah Cinta Hatta Yang Serius

04/11/2019

Tags:

Entah ada hubungan yang linear antara sosok yang serius dengan selapis perasaan malu. Konon, hati akan bergejolak dan memerahnya muka bila bertemu dengan seorang gadis. Tak sadar, laku konyol pun hadir seketika melengkapi.

mohammad Hatta - toetoer.com

Itulah yang terjadi pada Mohammad Hatta (jejaka yang saat pulang dari studinya di Belanda, membawa 16 peti besi berisikan buku-buku, yang perlu sampai tiga hari untuk menertibkannya di rak, juga lemari) di suatu kejadian pada malam hari. Ia duduk di jok belakang, bersama satu-satunya penumpang lain selain dirinya, seorang gadis cantik. Nahas, di tengah perjalanan, ban pecah. Sang sopir terpaksa pergi mencari pertolongan. Sebab, tempat itu terasa asing dan lengang. Dua jam kemudian, si sopir kembali membawa apa yang dibutuhkan. Di sana, karena lama menunggu, gadis itu menyandar tidur di sudut dalam kendaraan, sedang di sudut lain yang letaknya berjauhan, Hatta juga terbaring.

Dalam dua jam penantian itu, adakah percakapan di antara mereka berdua untuk sekadar mengusir jemu?

Kita tak tahu, betulkah adegan itu pernah terjadi atau semata-mata guyonan Soekarno untuk menggambarkan pribadi karibnya, Hatta, yang menurutnya, tak pernah menari, sedikit tertawa, juga kaku? Tapi, kita segera tahu dan bersepakat dengan Soekarno bagaimana kikuknya kehidupan asmara Hatta. Sampai, di tahun 1943, dalam sebuah acara kecil-kecilan untuk merayakan kembalinya Bung Karno dari tanah pembuangannya, Bengkulu, Bung Hatta nampak hadir sendirian di saat kawan seperjuangannya yang seumuran sudah menikah. 

Ketika itu, ia telah menginjak 41 tahun. Barangkali, sebagai seorang karib, Soekarno merasa perlu membantunya dan kita tak ada keraguan bagaimana keahlian Bung Karno soal merayu dan memikat. Tiga bulan setelah teks proklamasi kemerdekaan dibacakan, barulah Hatta menikahi Siti Rahmiati, gadis 19 tahun asal Bandung itu, tentu lewat tangan Soekarno. Sebelumnya, Rahmi nampak takut dan Soekarno meyakinkan: “Hatta itu orang baik dan lempeng.” Dan agaknya, Rahmi pun menerima Hatta lebih karena pria itu orang pintar nan lugu yang taat beragama. Hal ini perlulah kita garis bawahi.

Sebab, rasa-rasanya, di masa itu, di Indonesia, jarang ditemui sosok yang mampu mendamaikan antara Islam dan modernitas. Tahun-tahun itu, hampir di tiap hasil pena, yang ada adalah perseteruan keduanya: agama dan negara, ilmu dan agama. Akhirnya, bermunculan orang-orang yang semakin pintar, yang justru kian jauh dari agamanya. Atau sebaliknya, siapa yang kokoh agamanya, ia susah berkompromi dengan modernitas. Terlebih, Hatta muda pernah lama menghirup udara Eropa (dari 1921-1932, 11 tahun) yang mesti serba rasional -pondasi dari dunia modern- itu tak ikut terbawa arus rekan-rekannya untuk menelusuri bukti adanya Tuhan. 

Hatta tak berdialektika ala Hegel, ia tidak mempertanyakan mengapa ia mempercayai rukun iman. Padahal, darah muda itu terkadang membuat manusia pongah pada Tuhannya. Apalagi saat itu, Hatta hidup di tanah Eropa yang sedang keranjingan rasionalisme di segala lini. Behaviorisme ala John B. Watson dalam psikologi, Max Weber dan rekan-rekannya soal ilmu-ilmu sosial, atau kian maraknya mazhab positivisme hukum. Hatta benar-benar beriman, percaya pada Tuhan begitu saja. Baginya, “…kepercayaan yang mutlak. Yang pokok dari agama ialah Tuhan tadi, dan peraturan Tuhan.”

Saya bisa menerima, boleh jadi, rumor sebuah niat Hatta yang tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka benar adanya. Suatu kebulatan tekad. Tapi, bolehkah saya mengira-ngira, niat itu pun terbentuk oleh situasi perjuangan yang hiruk pikuk, yang membuat Hatta sama sekali tak menoleh untuk sekadar memikirkan urusan asmaranya, atau memang, ia seorang yang sulit berbicara berlama-lama dengan seorang perempuan, sedari dulu –apalagi lewat obrolan ringan yang remeh-temeh? Barangkali juga, sebab Hatta yang sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang religius, lantas membentuk sikap-sikapnya tentang agama, yang masih kental warisan kaum Padri di tanah minang yang ketat, membuatnya enggan untuk berpacaran, sebab Islam menyeru untuk menjauhinya?

Saya tak tahu persis. Tapi, adakah korelasi antara orang yang gemar berteori – kesalehan – sikap gugup saat bertemu seorang perempuan? Atau ia yang taat beragama – canggungnya untuk sekadar memandang sesosok gadis? Atau kegemaran akan bacaan-bacaan berat – tingkah konyol ketika berhadapan dengan seorang gadis cantik?

Sekali lagi, saya tak tahu. Sebentar, tepat di daratan Tibet, ada kisah seorang biksu muda yang takjub melihat jari jemari lentik seorang perempuan yang sedang menata semangkuk makanan, bisa kita jadikan contoh. Ia cuma bisa melirik sebuah cawan yang sedang dihiasi gerak jari sang wanita itu. Nampaknya, cukup mengganggu khusyuk pertapaan sang biksu. Namun, adegan itu justru memberi kesan bagi seorang yang sedari kecil hidup dalam ajaran luhur buddhisme. Tentu, bukan hanya penampilan kikuk yang muncul saat pertama memandang paras ayu si perempuan, tetapi ia pun teringat akan selapis dosa…

Plot itu saya ambil dari film Samsara (2001) garapan sutradara tersohor asal India, Pan Nalin, yang berbicara tentang siklus manusia yang berulang-ulang tanpa henti, reinkarnasi –sebuah sa sara. Mungkin, kita akan berkomentar bahwa laku sang biksu itu berlebihan dan memicu dialog yang tak ada habis-habisnya soal batas atau hijab atau sekat. Saya pikir, poinnya ada pada hasrat atau nafsu yang merupakan binatang liar. Sebab itu, janganlah pula ia dibiarkan hidup di hutan belantara. Pasti ada cara, juga tempat yang pas untuk jadikannya jinak dan dapat dipelihara. Tanpa menghilangkan sifat aslinya yang memang liar, sejak awal.

Mungkinkah Hatta juga demikian? Sebab, seorang gadis Polandia yang jelita pun menyerah dan berkata, “Sama sekali tidak mempan, dia ini pendeta, bukan laki-laki.” Saat rayuannya ditanggapi dingin oleh Hatta. Laporan gadis itu rupanya tanda gagalnya misi penjebakan terhadap Hatta oleh kawan-kawannya saat di Belanda. Misi “nakal” itu lahir karena, bagi para sahabatnya, Hatta itu seperti tak ada ketertarikan pada perempuan. Mungkin serupa biksu di daratan Tibet itu, atau jangan-jangan justru sebenarnya, ia telah mampu menjinakkan liarnya seonggok nafsu itu.

Namun, tak benar-benar amat korelasi itu. Yang jelas hadir dalam sejarah, Hatta memang kepribadian yang punya oposisi dengan karibnya, Soekarno (yang saya rasa, koleksi buku-bukunya tak kalah banyaknya dengan Hatta). Ia yang piawai menyusun kata demi kata jadi sebuah retorika yang romantis. Ia yang tak tahan untuk memuji seorang perempuan yang menurutnya menarik dan melamarnya dengan segera. Tak terhitung berapa sudah pucuk surat yang ia tulis pada tiap gadis. Itulah ekspresi seorang Bung Karno mengagumi sosok wanita. Tak ayal, kegemarannya itu sering dijadikan cara bagi lawan-lawan politiknya untuk menjatuhkannya. Kita tak akan lupa bagaimana kedekatan Bung Karno dengan Marilyn Monroe yang lengket, atau rencana sinema “Happy Days” tak senonoh bikinan Badan Intelijen Amerika, CIA, yang buat gempar itu.

mohammad Hatta - toetoer.com

Soekarno berangkat dari pengalaman, sedang Hatta beranjak dari perpustakaan. Hatta miliki avontur serupa sebuah buku tentang etika yang lengkap. Karenanya, tak perlu terlalu banyak coretan di sana sini sebagai catatan kaki dan sebuah koreksi yang mengotori halaman demi halamannya. Sebab itu, “hidupnya tak berwarna-warni dan seakan ‘tak menikmati hidup,’” ujar Soekarno. Apalagi penuh kejutan tak terduga serupa cerita sandiwara: cinta dan perselingkuhan yang menguras energi atau perangai yang flamboyan nan glamor. Hatta itu aloof, datar, dan “orang cerdas yang patuh pada nilai-nilai agama,” tutur Rahmi, istri Hatta satu-satunya dan ia kagumi. Agaknya, itulah cinta Hatta dalam keluguan, dalam kesederhanaan, dalam konsistensi, dalam diam, dalam perbuatan yang lebih memikat dari bujukan bait-bait sajak yang menggoda. Dan seperti pelaksanaan petuah Petrarch, penyair dalam novel Milan Kundera berjudul Kitab Lupa dan Gelak Tawa, pada seorang mahasiswa:

Cinta adalah puisi

Puisi adalah cinta

Joke adalah musuh cinta dan puisi

Cinta tidak boleh ditertawakan

Cinta tidak ada persamaannya dengan gelak-tawa

Hatta mengerti esensi puisi dan cinta. Ia tak menutup rapat-rapat hidupnya dari sastra. Kendati ia tak semaniak Sjahrir, rekan seperjuangannya yang sama-sama dibuang ke Digul, Papua, lalu kemudian Banda Neira, Maluku bulan Januari 1935-1942. Karena itu, Sjahrir menyesali sikap Hatta yang terlalu membaca apa yang relevan dengan bidang studinya: “Dalam seluruh perpustakaan Hatta, misalnya, terdapat hanya satu buah roman saja, dan buku itu pun dihadiahkan orang kepadanya…” Memang, Hatta bukanlah tipe orang yang suka memperalat sastra guna mengumbar cinta. Sebab itu, di tengah mudahnya mencari pujangga-pujangga yang lembut nan anggun tutur puisinya, namun kelakuannya begitu susah mengontrol hasrat berahinya atau payah dalam menghargai wanita, Hatta jadi menarik karena ia bukan bagian dari mereka, bukan pula orang yang pandai menulis puisi. Ia sosok yang tak banyak tertawa. Ia sosok yang serius.

***

18 likes
Sofah D. Aristiawan

Author

Sofah D. Aristiawan