Musik / Nasional / Sastra / Tokoh

Seni, Dalam Perjalanan Krisis Ekspresi oleh Fiersa Besari

15/07/2019

Fiersa Besari, mungkin bisa menjadi cermin dari psikologi generasi milenial, yang satu sisi dipuja dan satu sisi juga diumpat karena kemajuan zaman. Dalam ambang krisis ekspresi, ketika manusia bebas mengeluarkan pendapat namun juga dibatasi oleh pendapat yang lebih keras, karya sastra yang muncul dengan narasi refleksi diri menjadi sebuah jalan keluar berekspresi penghibur yang sangat diminati.

Fiersa Besari mengawali karirnya sebagai seorang musisi indie

Menjadi sosok pemuda Bandung yang banyak dikenal oleh millennials sebagai teman perjalanan cinta hingga patah hati, Fiersa justru mengawali karirnya sebagai musisi indie yang laku meski tidak disambang label musik. Namun jauh sebelum itu kecintaannya pada produksi musik saat kuliah, menjadi titik mulainya perjalanan dalam pencarian jati diri. Bung, sapaannya sejak dulu, mengembangkan kiprah sebagai musikus, petualang, dan penulis yang laris dicari.

Siapa yang sangka, patah hatinya di 2013 lalu berperan amat sangat berarti bagi lahirnya Fiersa sekarang. Fiersa muda yang -tak ingin lupa dan dilupakan- menuangkan perasaan dan perjalanannya pada media tulis dan melagukannya. Dari 160 karakter di Twitter, hingga merambah ke blog, facebook, dan instagram, ia mencoba membuat tulisan yang lebih serius dan menghasilkan “Konspirasi Alam Semesta”.

Tak berhenti di situ, “Garis Waktu” yang sempat ia kandung dalam masa-masa terpuruk akhirnya membukakan jalannya untuk dilahirkan bersama sebuah label Media Kita. Di sinilah buku pertamanya dikenal sangat luas hingga orang-orang menjadi lebih penasaran dengan sosok Fiersa.

Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, kau dan aku akan menjadi kita.

-Garis Waktu

Tentang karyanya di tengah krisis ekspresi

Setiap orang tentu memiliki proses tersendiri dalam mengenali karyanya sebagai jati diri yang akan selalu dibawa. Hal ini berlaku pula untuk Fiersa, seseorang yang sangat mendekatkan karya pada keseharian. Maka jangan dihakimi bila diksi, serta pilihan kata yang sederhana akan selalu ditemukan dalam setiap lantunan lirik si Bung kelahiran 3 Maret ini.

Kesederhanaan yang terungkap pada lirik-liriknya mengartikan bahwa sejatinya sebuah karya tidak perlu dipahami dengan cara yang sulit. Begitulah para pengamat mengartikan sastra kekinian sebagai karya yang dicari dan dihargai. Cukup dengan hidup dalam keseharian dan merasakan setiap detiknya, kau akan paham bagaimana mencintai karya-karya Fiersa Besari.

Namun bukan berarti mudah untuk menyamakan standar dengan sosok Fiersa. Sebab kecintaanya pada literasi dan sastra bukan semata untuk menjadi terkenal. Baginya dikenal hanya akibat dari proses untuk menuangkan apa yang ia ingin abadikan. Seni yang mengalir dalam dirinya, tentu tidak dapat digantikan begitu saja.

Fiersa dan salah satu buku karyanya : “Catatan Juang”

“Membacalah untuk tahu apa yang ada di masa lalu, dan menulislah untuk memberi tahu pada mereka yang ada di masa depan. Jangan hanya ingin diterbitkan, jangan hanya ingin terkenal. Itu cuma akibat, bukan tujuan. Jangan berhenti menulis, jangan berhenti untuk mengabadikan.”

Dari mulai terjun dalam musik, menjelajah, menulis, hingga kuotes yang ia hujani di medsosnya, Fiersa selalu laris disukai kalangan muda. Bahkan sebuah terobosan berupa albuk (red:album buku) telah berhasil melambungkan namanya dalam 11:11 di tahun 2018. Sebuah karya yang diproduksi ulang dengan konsep baru setelah jauh sebelumnya 11:11 laku keras di tahun 2012 dalam bentuk album.

Ditulis dan dilagukan dengan bahasa yang sederhana, lugas, dan mampu merefleksikan diri, menjadi gemaran era kekinian yang layak untuk dijadikan sebuah masa tersendiri. Sebab bukan hanya Fiersa, sebutlah Aan Mansyur, Beni Satryo, Mario F. Lawi, dan Norman Erikson Pasaribu, beberapa pengarang yang juga dibesarkan pada era kultur teknologi digital ini.

Kembali sadar bahwa bebas berekspresi di jaman milenial sejatinya justru dibatasi pada ekspresi orang lain, layaknya bentuk komentar nyinyir dan twit war yang semakin seru ketika umpatan banyak dilontarkan. Sebuah karya sastra yang sederhana, seharusnya dapat menjadi bahan penghibur dalam ruang pemersatu yang apik. Inilah peran Fiersa Besari yang mengisi ruang-ruang tersebut dalam berbagai karyanya yang indah.

Dan pada akhirnya, karya kekinian yang digemakan Fiersa dalam berbagai media merupakan karya yang “mudah” untuk dibaca dan diekspresikan kembali oleh penikmat karya kekinian. Sama seperti kebiasaan generasi milenial yang hidup dengan segala sesuatu serba mudah dan sederhana, tak salah bila Fiersa Besari menjadi sumber retweet dari milenial yang membutuhkan ruang “teman perjalanan”.

-Ester Ria Ivana

4 likes
Ester Ria

Author

Ester Ria