Nasional / Tokoh

Rondahaim, Pejuang Simalungun Yang Tak Henti Mencari Soulmate Sejati 

04/12/2019

Tags:

“Besok pagi, jika matahari bersinar terang, saya akan mati.”

raja rondahaim - toetoer.com

Gadis bernama Roman itu benar-benar merasa tak berdaya. Takut, sedih dan putus asa bercampur-baur membuat dia tak pernah berhenti menangis. Ayahnya telah menjodohkannya kepada seorang pembesar dari kota seberang. Bagi Roman itu bencana. Pembesar yang dijodohkan dengannya sama sekali bukan tipe pria yang ia suka. Pembesar itu dikenal bengis; suka membunuh, suka berperang, dan suka wanita. Sudah puluhan wanita yang ia jadikan istrinya.

Hari itu orang-orang sudah ramai berkumpul untuk menjemput Roman. Untuk dibawa kepada sang pembesar, pria pilihan orang tuanya. Perjalanan menuju rumah pengantin pria mungkin akan sedikit memakan waktu. Mereka akan melewati bukit, lembah dan sungai. Roman merasa begitu tak berdaya di tengah kerumunan orang suruhan si pembesar. Begitu ramai tetapi tak satu pun membela dirinya.

Dalam keputusasaannya, Roman menyimpan rencana. “Si pembesar boleh merebut sebanyak mungkin tubuh wanita. Tapi hatiku tidak. Aku tak akan pernah bisa dalam genggamannya,” bisiknya dalam hati.

Tatkala Roman dan rombongan orang-orang yang mengawalnya berjalan di tepi sebuah sungai, ia mewujudkan niatnya. Ia meloncat, menjatuhkan diri ke sungai. “Biarlah aku tenggelam. Biarlah aku dibawa oleh arus sungai yang besar. Biarlah aku hilang, daripada tunduk pada pria yang bengis itu.”

Sayang sekali. Roman tak beruntung. Bahkan untuk bunuh diri pun ia tak berhasil. Sebab dengan cekatan rombongan pengawal dapat menyelamatkannya. Ia tetap hidup. Ia tetap sampai ke hadapan si pembesar. Dan ia tetap dijadikan istri. Walau pun sampai akhir hayatnya ia tak memiliki keturunan. Sebuah aib bagi seorang wanita di zaman itu.

II

raja rondahaim raya - toetoer.com

 

Kisah ini bukan fiksi. Itu benar-benar pernah terjadi, meskipun memang tak baru lagi. Kisah tentang Roman saya baca dalam sebuah buku berjudul Rondahaim, Sebuah Kisah Kepahlawanan Menantang Penjajahan di Simalungun, Suatu Pengantar Mendalami Karya Tulis Pendeta J. Wismar Saragih (Penerbit Bina Budaya Simalungun, 1987) karya Mansen Purba SH. Pembesar yang disebut pada pembukaan tulisan ini tidak lain dari Rondahaim itu sendiri. Ia raja di sebuah wilayah bernama Raya, pada suatu masa, yang kini merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Para ahli sejarah mengatakan Rondahaim hidup dari tahun 1828 hingga 1891. Roman adalah permaisurinya yang entah keberapa.

Sebetulnya, di luar citranya sebagai raja yang bengis dan berperilaku Don Juan, Rondahaim adalah sosok pahlawan bagi rakyat Simalungun. Di bawah kepemimpinan Tuan Rondahaim — sebutannya yang lazim — Kerajaan Raya menjadi salah satu kerajaan di Simalungun yang tidak pernah berhasil dikuasai Belanda. Selain gigih berperang untuk mengukuhkan dan memperluas kerajaannya, Rondahaim juga adalah raja yang keras menentang penjajahan Belanda. Rondahaim yang bernama lengkap Tuan Rondahaim Saragih Garingging berjuang bahkan tidak hanya di sekitar Pematang Raya, tetapi mencakup wilayah Aceh dan Sumatera Timur.

Ada rentang waktu yang sangat lama nama Rondahaim seperti terabaikan dari pelataran sejarah kepahlawanan Indonesia. Baru setelah 42 tahun Indonesia merdeka, Mansen Purba SH, tokoh Simalungun yang pernah menjadi anggota parlemen di Sumatera Utara, menginisiasi penulisan kisah perjuangan Rondahaim dalam buku. Lalu perlu waktu 12 tahun kemudian bagi pemerintah mengakui perjuangan Rondahaim, lewat pemberian Bintang Jasa Utama dengan nomor 2634/UI/1999. Bintang jasa itu merupakan pengakuan atas dirinya sebagai salah satu pejuang dari Sumatera Utara, meski belum sampai kepada pengakuan sebagai pahlawan nasional.

Tahun 2013 nama Rondahaim diabadikan lewat sebuah buku biografinya yang penerbitannya didukung oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun. Buku yang diberi judul Napoleon Der Bataks: Kisah Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Melawan Belanda Di Sumatera Timur 1828 – 1891 itu disunting oleh Erika Revida Saragih, guru besar FISIP USU yang juga merupakan rektor Universitas Efarina Simalungun. Nama Rondahaim pun disematkan pada Rumah Sakit Umum Daerah kabupaten Simalungun.

Rondahaim memang tidak lepas dari kontroversi. Di satu sisi ia dihormati. Di sisi lain ia ditakuti karena tangan besinya dalam mengelola kerajaannya. Itu mengakibatkan banyak rakyatnya di masa itu secara diam-diam menjulukinya Raja Raya Namabajan, yang berarti Raja Raya yang Bengis.

Pada saat yang sama, keperkasaannya di medan laga membuat ia juga dikagumi. Ia adalah contoh raja yang benar-benar teruji di lapangan. Baik di lapangan perang maupun di lapangan politik. Sejak muda ia telah memberanikan diri turut berperang hingga di barisan terdepan. Di masa ia di puncak kekuasaannya pun ia tetap terbiasa berada bersama prajurit-prajuritnya.

Selama hidupnya ia tak pernah berhenti berperang, termasuk melawan Belanda yang datang di kemudian hari. Ia membabat penguasa-penguasa lokal di wilayah kerajaannya, yang coba-coba membangkang atau memberontak. Penaklukan demi penaklukan ia lakukan dengan imbalan meluasnya wilayah kekuasaan. Tetapi kadang-kadang juga demi seorang wanita yang disodorkan kepadanya.

Roman dalam kisah yang dikemukakan sebelumnya, adalah wanita yang tergadai oleh ayah kandungnya sendiri. Podang Angin, sang ayah, adalah raja Tanah Jawa (Tanah Jawa adalah nama sebuah daerah di Simalungun) yang tersingkir oleh pesaingnya dan ingin kembali bertahta. Demi tahta yang lepas itu, raja Tanah Jawa meminta bantuan Rondahaim dengan imbalan Roman sang putri. Rondahaim menyetujui. Ia pun memerangi lawan Podang Angin. Ia berhasil melaksanakan tugasnya dan Roman pun jadi miliknya.

Bukan hanya Roman yang ‘digadaikan’ orang tuanya kepada Rondahaim. Nasib serupa juga menimpa Dormapulung, anak perempuan Tuan Paraja Huppul, penguasa Purba Saribu. Sama seperti dalam kisah Roman, Rondahaim dimintai bantuan oleh Raja Purba untuk menundukkan Tuan Paraja Huppul. Dan karena takut akan kekuatan pasukan Rondahaim, Paraja Huppul mencoba ‘menyogok’ Rondahaim dengan menyerahkan putrinya untuk dijadikan permaisuri. Rondahaim akhirnya mengambil jalan tengah. Untuk tidak mengecewakan Raja Purba yang memintainya tolong, ia tetap memerintahkan Raja Huppul enyah dari Purba Saribu, meskipun dengan janji kelak akan dikembalikan lagi ke tahtanya. Dengan demikian Dormapulung menjadi miliknya.

Selama hidupnya, Rondahaim dikatakan memiliki 80 istri. Dan, ini ikut melekat sebagai citra dirinya. Sampai akhir hidupnya tak pernah jelas apakah Rondahaim telah menemukan soulmatenya dalam arti wanita yang benar-benar menjadi belahan jiwanya. Menaklukkan wanita demi wanita di masa itu barangkali memang bukan kejanggalan terutama bagi para ksatria di lapangan perang. Apalagi ketika sistem budaya dan tradisi meletakkan perempuan di posisi yang sangat lemah. Namun tetap menjadi pertanyaan, apa yang dicari oleh Rondahaim dalam penaklukan demi penaklukan itu. Betulkah ia menempatkan perempuan demikian rendah, sementara pada saat yang sama ia sangat menghormati ibunya? Apakah pengalaman masa lalu yang membentuknya sehingga demikian atau ia sebetulnya masih dalam sebuah pencarian soulmate yang belum selesai?

Sekali waktu ketika belum menjadi raja, Rondahaim pergi ke Tebing Tinggi untuk mengunjungi Raja Padang, Tengku Muda Muhammad Nurdin. Dalam kunjungannya yang dirahasiakan itu, Rondahaim ingin belajar dari sang raja bagaimana tatacara memerintah. Dalam perjalanan pulang, ia melewati Sungai Pulou Malnou. Pada saat itulah ia melihat seorang gadis dari Silou Rama sedang mandi. Lalu Rondahaim mengawini perempuan itu dan sempat tinggal menjadi penguasa di daerah itu. Apakah itu cinta pertama Rondahaim? Ini hanya spekulasi.

Setelah itu wanita demi wanita ia jadikan istrinya. Diantaranya adalah Tuan Puteri Baja Linggei yang sesungguhnya adalah ibu tirinya. Tuan Puteri belum setahun dinikahi oleh Tuan Huta Dolog, ayah Rondahaim sendiri, ketika sang ayah berpulang. Lalu sang Tuan Puteri pulang ke rumah orang tuanya di Baja Linggei. Rondahaim kemudian menjemput sang Tuan Puteri dengan maksud menikahinya dan menjadikannya permaisuri.

Walaupun Tuan Puteri Bajalinggei ibu tirinya, bukan halangan baginya memperistrinya dan tidak ada hukum yang melarangnya ketika itu. Bahkan, menikahi Tuan Puteri menjadi salah satu prasyarat — bila tidak mengatakan kewajiban — untuk kesempurnaannya sebagai raja. Saat itu salah satu tradisi mewajibkan raja di Raya  harus memiliki posisi sebagai kemenakan dari penguasa Panei atau penguasa Baja Linggei. Dengan memperistri putri dari Baja Linggei, persyaratan itu terpenuhi. Dengan begitu, Rondahaim telah menjadi kemenakan Raja Linggei dan Rondahaim pun layak menjadi raja.

Mengawini janda raja pada masa itu adalah juga sebuah langkah politik. Tradisi di masa itu, walau pun raja meninggal, permaisuri raja tetap pada kedudukannya. Inilah alasan mengapa pengganti raja merasa perlu mengawini janda raja, demi kekuatan politik. Mengawini janda raja oleh pengganti raja disebut beten.

Meskipun demikian, tidak selalu motif politik menjadi alasan Rondahaim menaklukkan perempuan. Sekali waktu salah seorang penguasa bawahan Rondahaim datang berkunjung ke istana. Kunjungan itu sekaligus memperkenalkan istri yang baru dinikahinya. Tak dinyana, Rondahaim juga tertarik pada wanita itu. Pendek kisah, Rondahaim mengatakan bahwa si wanita tidak usah lagi pulang bersama suaminya. Ia mengatakan sang istri harus tetap tinggal di istananya karena tenaganya diperlukan untuk membantu persiapan tentara yang akan berperang di dapur umum. Sebagai penggantinya, si bawahan diberikan gadis lain. Dan ternyata kesepakatan tercapai.

Puluhan perempuan yang menjadi istri Rondahaim datang dengan alasan masing-masing. Sebagian berkat konsesi politik atau perang. Sebagian karena dijadikan sebagai legitimasi kekuasaan. Sebagian lagi tanpa alasan apa-apa, cukup karena ia menginginkan si wanita itu.

Lagu lama Bob Dylan mengalunkan pertanyaan, how many roads must a man walk down, before you call him a man?. Kepada Rondahaim kita bertanya, seberapa banyak wanita yang harus tunduk padanya sebelum ia dipandang benar-benar sebagai raja?

 

III

rondahaim - toetoer.com

Bagi Rondahaim satu-satunya wanita yang benar-benar dia hormati sekaligus dia cintai hanyalah ibunya, Ramonta Suha. Baginya Ramonta bukan hanya ibu, tetapi sekaligus ayah. Sebab sejak Rondahaim bayi hingga ia dewasa, Ramonta yang merawatnya sendirian. Ramonta memasak, Ramonta berladang, Ramonta menjagainya dari niat jahat siapa pun. Ramonta adalah pahlawan bagi Rondahaim.

Rondahaim adalah putra raja, tetapi ironisnya ibunya — salah satu dari istri raja — hidup miskin. Ibunya mungkin bukan istri favorit raja. Saat mengandung Rondahaim, Ramonta memilih hidup di sebuah perladangan, tinggal di sebuah dangau kecil. Ladang itu jauh dari desa, jauh dari istana. Ia hidup mencukupi dirinya sendiri dengan berladang. Ia hidup bergaul dengan rakyat jelata. Pakaiannya pun tak ubahnya seperti rakyat jelata. Ketika Rondahaim lahir, Ramonta hanya bisa bertahan berkat uluran tangan rakyat jelata yang menjadi tetangga mereka.

Lalu Rondahaim si anak raja itu, tumbuh dengan kebengalan seorang anak peladang yang bersahabat sekaligus menaklukkan alam. Statusnya sebagai anak raja tidak membuat ia menjadi istimewa. Sesekali ia pergi ke istana, tetapi kerap kali kehadirannya seperti tidak diinginkan.

Rondahaim sejak kecil dikisahkan rajin bercocok tanam. Ia pandai berburu. Ia pintar mengambil hati anak-anak kawan sebayanya di perladangan itu. Dan lebih dari semuanya itu, ia rupanya punya bakat memimpin sehingga banyak orang mau mematuhi apa yang ia minta.

Makin hari Rondahaim makin dewasa dan makin ia sadar bahwa dirinya adalah anak raja. Rondahaim juga rajin datang ke istana, walau pun dengan pakaian seadanya, persis seperti rakyat jelata lainnya. Jika ada upacara jamuan makan di istana, ia juga ikut duduk dan mendapat bagian. Memang adakalanya pegawai istana mencibir dirinya, melihat penampilannya yang jauh dari rupa keluarga kerajaan. Rondahaim tak menghiraukannya. Tapi ia menyimpannya di dalam hati. Menjadi semacam tekad, “Awas, kalau aku nanti suatu saat menjadi raja, aku akan membalas.”

Keinginannya untuk suatu saat kelak menjadi raja, mendapat respon dari pamannya (adik ibunya). Sang paman menjadi mentornya dan menasehatinya agar ia membuka ladang yang luas di pinggir jalan. Pamannya juga menyarankan agar ia menanami kebunnya tebu dan pisang di tepinya. Setiap ada orang lewat, dia mempersilakan mereka mengambilnya untuk dimakan. Dengan begitu, kata sang paman, akan makin banyak orang menyayanginya.

Nasihat pamannya ia turuti. Dan Rondahaim makin disayangi banyak orang.

Di lain waktu, Rondahaim membawa rombongannya ke hutan dengan ajakan untuk mengumpulkan jengkol. Rombongannya dia minta pula membawa sumpit masing-masing. Ternyata Rondahaim membawa rombongannya ke tempat kerbau-kerbau liar berkeliaran dan mereka pun memasang ranjau. Tiap kali ada kerbau yang tertangkap, mereka jagal dan mereka masak di hutan itu. Sambil menikmati daging kerbau, mereka berbincang-bincang tentang apa saja. Lambat laun persahabatan diantara mereka semakin kental. Lebih dari itu, nama Rondahaim harum. Karena orang berkata, kita pergi ke hutan mencari jengkol, pulangnya malah membawa daging.

Waktu kemudian memberikan jalan kepadanya menjadi panglima perang tak terkalahkan. Tak hanya itu. kejayaannya di medan perang, sekaligus kepiawaiannya mengatur strategi politik sehingga pejabat-pejabat kerajaan mendukung dirinya, menempatkan dirinya menjadi salah satu Raja Raya yang paling jaya dalam sejarah Simalungun. Ia tak pernah berhenti berperang sepanjang hayatnya.

Sehari menjelang kematiannya, konon Rondahaim berkata kepada seorang bawahannya. “Besok pagi, jika matahari bersinar terang, saya akan mati.” Firasatnya itu ternyata benar. Rondahaim meninggal keesokan harinya. Dan ia pergi meninggalkan kisah yang selalu penuh perdebatan. Walau Rondahaim terkenal bengis, konon tak ada orang yang tidak menangis mendengar kabar meninggalnya Rondahaim. Dia dikagumi karena tak pernah berhenti melindungi rakyatnya dan kerajaannya.

raja rondahaim - toetoer.com

Kisah seperti Rondahaim yang sejak masa kecilnya yang menderita, lalu meniti ambisi dari nol hingga ia ditempa oleh pengalaman dan medan laga, adalah kisah heroik yang selalu menjadi sumber inspirasi dalam kelas-kelas kepemimpinan dan motivasi. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari tekad baja dan kegigihannya yang tak tertandingi untuk meruntuhkan penghalang mencapai cita-citanya, sebagai putra mahkota yang tersia-sia. Dan akhirnya ia bisa mewujudkan ambisinya. Hanya dalam urusan menemukan soulmate sejati petualangannya seakan tak berujung.

***

 

8 likes
Ramos Senna

Author

Ramos Senna

It is said most writers can't make a living writing. For 20 years I 've been proofing it is untrue. I am living by writing. I write biographies. I do ghostwriting.