Sastra / Tokoh

Refleksi Kritis dalam Gelitik Joko Pinurbo

09/10/2019

“Di ujung gang aku bertabrakan dengan seekor anjing. Aku tak memperhatikannya. Aku terlalu khusyuk berjalan tunduk. Aku dan anjing tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih dulu menabrak. Aku terjatuh, kacamataku terpental, jidatku membentur pagar. Sungguh jalan asu.”

Joko Pinurbo - toetoer.com

Beberapa malam ini saya menghabiskan akhir pekan di musim -ber dengan bacaan karya sastra yang cukup menggelitik. Srimenanti, kisah kasih yang bisa saja kita sebut hanya milik Joko Pinurbo (Jokpin). Karya yang sangat membumi dengan imaji sederhana dan nakal. Sebab jika kamu telah mengenal JokPin sejak Celana, antara fiksi dan realita dalam Srimenanti sangat kental ditemukan di antara keduanya, menyatu pada karya satir dalam bungkus remeh dan humor. Sehingga tak salah novel ini memang didaulat untuk menjadi karya yang JokPin “banget”. 

Gamblangnya, Srimenanti sebagai karya novel pertama JokPin bisa-bisa membuat kamu selalu tersesat dengan jalan ceritanya. Karena banyak diksi yang terlalu melenakan, membuat kita tersadar dengan hal remeh yang jangan-jangan punya makna dalam. 

Namun bila berbalik lagi pada refleksi batin, bukankah hidup memang selalu begitu? Manusia sudah terlalu banyak bercanda, sampai lupa ada rasa baper yang harus diselesaikan di sana. 

Sedikit pada Srimenanti, banyak yang mengapresiasi namun banyak pula yang merasa novel pertama JokPin ini hanya kumpulan cerpen yang sudah dibaca pada surat-surat kabar. Perbedaan sudut pandang “saya” yang saling bergantian, kalimat-kalimat humor dan juga satiris, hingga panggilan untuk para sastrawan Aan Mansyur, Faisal Oddang, Yusi Avianto, Shinta Febriany sebagai figuran membuat Srimenanti jadi tempat reuni bagi semua penikmat sastra. Ada kecurigaan yang timbul sebenarnya. Mungkinkah, Srimenanti telah diciptakan terlebih dahulu sebelum JokPin mengeluarkan setiap fragmen cerpen-cerpennya? Hanya JokPin yang tahu.

Perjalanan Karir hingga Kekaguman pada Sapardi Djoko Damono

Joko Pinurbo - toetoer.com

Sulit menemukan JokPin sebelum Celana yang melambungkan namanya. Jauh sebelum itu, JokPin yang menciptakan banyak tema tanpa identitas pernah putus asa pada ratusan puisi yang ditulisnya sendiri. Sejak 1979, ia selalu tertarik dengan puisi dan sajak-sajak yang sudah lebih dulu dibawa oleh sastrawan terkenal. Namun selama menyukai dan mengamati, ia lupa bagaimana menemukan penciptaan karya sebagai identitas diri kepenyairannya.

Hingga tahun 1999, kumpulan puisi yang ia kumpulkan selama dua tahun akhirnya terangkum dalam sebuah tema “Celana.” Karya ini tentu menjadi sebuah penyegaran dari narasi-narasi puisi lain yang memiliki bahasa melangit. Dengan diksi nyeleneh dan remeh, JokPin berhasil masuk sebagai warna baru dan bersanding dengan sastrawan yang lebih dulu melejit.

Berkat kejeniusannya, JokPin mulai percaya diri dengan kematangan identitas puisi-puisi yang ditulis. Sebab tak hanya Celana, kumpulan puisinya yang lain seperti Selamat Menunaikan Ibadah Puisi tak kalah renyah sebagai refleksi kritis atas iman dengan diksi yang sangat dekat. Belum lagi, setiap narasi yang dibuatnya sanggup membuat pembacanya berpikir dan tertusuk tergelitik.

Karya ini cukup kontroversi untuk dinikmati secara keagamaan atau murni sebagai sebuah karya sastra pada waktu itu. – Bahkan mungkin sampai sekarang – Salah satu yang banyak mendapat sorotan adalah puisi “Celana Ibu” sebagai karya yang dekat dengan soal keagamaan. Padahal di dalam puisi tersebut, JokPin berhasil memunculkan interpretasi mendalam tentang Yesus, Maria, dan makna Paskah dari sisi yang lain.

CELANA IBU

Karya: Joko Pinurbo

Maria sangat sedih

menyaksikan anaknya

mati di kayu salib tanpa celana

dan hanya berbalutkan sobekan jubah

yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian

Yesus bangkit dari mati,

pagi-pagi sekali Maria datang

ke kubur anaknya itu, membawa

celana yang dijahitnya sendiri

dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.

“Pas!” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,

Yesus naik ke surga.

(2004)

Joko Pinurbo

Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Dalam sebuah interview, JokPin menceritakan bagaimana ia mengambil sebuah ruang kosong dalam memaknai Paskah. Yakni kesedihan dan hancur hati Maria sebagai ibu Yesus dalam mengantarkan proses kesakitan dan kematian Putranya. Metafor Celana menjadi simbol cinta yang intim, tulus, dan sangat personal dari seorang ibu Maria ketika Yesus harus disalib dan ditelanjangi hingga tersisa kancut (baca:celana) di tubuhnya. JokPin tentu sangat jenius memaknai Celana sebagai simbol mental dan harga diri bagi seorang ibu, Maria sendiri. 

Pada akhirnya JokPin yang sejauh ini dikenal apa adanya telah mendapat banyak penghargaan. Sejak tahun 1999, sudah lebih dari 10 buku kumpulan puisi diluncurkan, diantaranya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacar Kecilku (2007), Kidung Cinta Pohon Kurma (2010), Tahilalat (2012), Haduh Aku di-follow (2013), Baju Bulan – Seuntai Puisi Pilihan (2013), Borrowed Body & Other Poems (2015), Surat dari Yogya (2015), Buku Latihan Tidur (2016), Malam ini Aku akan Tidur di Matamu (2016), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Jentayu (2018), dan Srimenanti (2019).

Joko Pinurbo - toetoer.com

Kembali pada karya terakhirnya bertajuk Novel Srimenanti, nampaknya ada sosok yang tidak dapat diabaikan bila berbicara tentang Joko Pinurbo. Sebab sama seperti perjalanan karir JokPin yang sering memanggil Sapardi, buku Srimenanti juga memperlihatkan sekali lagi kekaguman penulis pada karya Sapardi. Dan jelas sedari awal buku ini sudah menyebut bahwa ia lahir dan berangkat dari Pada Suatu Pagi Hari-nya Sapardi. Di luar karya Sapardi, nampaknya JokPin juga mengagumi sosok Sapardi sendiri.

“Meneladani Sapardi, memelihara ketekunan, masih tekun kreatif, itu sesuatu yang tidak mudah diteladani banyak orang,” Tegasnya dalam acara 77 tahun Sapardi Djoko Damono 2017 lalu. 

JokPin memang mengaku ingin sekali menjadi seproduktif itu. Kreativitas Sapardi tidak mengenal usia, bahkan sampai saat ini masih terus bereksperimen dan terus mencari. Baginya, Sapardi merupakan sosok yang sangat langka di Indonesia sebab setua itu tetap produktif dan juga kreatif.

Arti Puisi Bagi JokPin

JokPin yang terlihat dalam berbagai waktu tak pernah muluk-muluk. Setiap karyanya tak pernah lepas dari benda sehari-hari, namun tetap memiliki penghayatan sangat mendalam hingga menyindir sampai membentuk ironi. Dengan cerdik JokPin menggunakan kepolosan benda-benda masa kini untuk menggambarkan refleksi kritis. Baik dalam konteks ketuhanan maupun sosial dan cinta yang jenaka. 

“Tuhan itu benar-benar multidimensi,”Joko Pinurbo

Banyak dimensi ketuhanan, sensualitas, dan sosial dengan metafor yang disuarakan bahkan tanpa intervensi dari JokPin sendiri. Ia akan selalu berbagi tentang penghayatan yang mungkin nyeleneh. Sebab telah terbukti proses penghayatan itulah yang berpengaruh pada karya-karyanya. Gelitik, berhasil dibuktikan bukan pada bahasa yang setinggi langit, melainkan bahasa sehari-hari dimana makna itu berada. Melihat salah satu karyanya “Kamus Kecil” yang kini masih banyak dicari, diketahui pria kelahiran 11 Mei 1962 ini sedang menggiati keunikan bahasa Indonesia dengan bunyi-bunyi yang mirip namun menyimpan makna menggelitik. 

Joko Pinurbo - toetoer.com

Penghargaan:

Beberapa buku kumpulan puisinya memperoleh penghargaan seperti Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta, Hadiah Sastra Lontar, Sih Award, penghargaan puisi terbaik jurnal puisi Tokoh sastra versi majalah Tempo, Khatulistiwa Literary Award lewat bukunya, Kekasihku. Dalam lingkup internasional, Joko Pinurbo pernah diundang membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001 di Jakarta, diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten 2002 di Belanda, diundang pada Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman, diundang dalam Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo. Dan terakhir, Joko Pinurbo meraih Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2019. Penghargaan diberikan langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan HB X sebagai pelaku atau pelestari seni bersama dengan 21 pelestari seni lainnya.

Sumber:

https://majalah.tempo.co/read/141490/joko-pinurbo-dan-tahi-lalat

https://www.gramedia.com/blog/review-buku-srimenanti-selamat-menunaikan-ibadah-novel-joko-pinurbo/#gref

http://www.harnas.co/2019/04/05/eksplorasi-fiksi-joko-pinurbo

https://www.gatra.com/detail/news/251958-sapardi-di-mata-jokpin

https://www.kompasiana.com/amosaja/5acea6e2dd0fa8791035de12/interpretasi-sajak-celana-ibu-dari-joko-pinurbo?page=all

6 likes
Ester Ria

Author

Ester Ria