Nasional / Sastra / Tokoh

Pramoedya Ananta Toer, Menyusuri Jejak Sengsara Untuk Keabadian

22/07/2019

“Dalam hidup cuma satu yang kita punya, yakni keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” (Pramoedya Ananta Toer)

Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah sebatang tebu dari Blora. Ia tumbuh sampai matang hanya untuk ditebang, lalu diperas untuk menghasilkan gula. Kisah hidup Pram adalah kisah tentang sengsara. Ia diperas oleh jaman untuk menghasilkan mahakarya dan orang mengecap manisnya, melalui kisah yang ia tulis. Saat membaca tulisan Pram, kita hanyut terbawa oleh cerita. Dan setelah kita selesaikan halaman terakhir, cerita itu tertinggal di dalam jiwa. Lalu ia sendiri, Pram, surut pelahan, tinggal karyanya yang tetap abadi.

Hingga hari ini tak habis-habisnya orang membicarakan karyanya, terutama tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) yang sudah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa di dunia. Sekuel pertama dari tetralogi itu, Bumi Manusia, diangkat ke layar lebar oleh Hanung Bramantyo dan rencana akan tayang perdana di 15 Agustus nanti.

Pram bahkan tak sempat menikmati glory itu. Tapi seandainya ia masih hidup hari ini, agaknya ia tak begitu peduli, apakah orang mau membaca bukunya atau bahkan memfilmkannya. Ia hanya ingin menulis, karena dengan menulis mungkin ia bahagia.

Kiranya tak berlebihan jika kita katakan bahwa kehidupan Pram puas dalam sengsara. Demi sebuah keteguhan niat menjadi penulis, ia pernah jadi “kere”. Suatu hari ia pernah mendatangi rumah Ajip Rosidi dengan perut kosong. “Kau ada nasi, tidak? Sudah beberapa hari aku tidak makan,” tanya Pram dengan lemas. Ajip membuka tudung saji di atas meja makannya. “Hanya  ada nasi dingin ini,” jawabnya. Lalu Pram menggarami nasi dingin itu dan makan dengan nikmat.

Setelah itu hampir sepanjang hayat, sengsara demi sengsara tak bosan mengunjunginya. Dialah yang mengalami dinginnya lantai penjara dalam tiga jaman: Dipenjara oleh Belanda di Bukitduri, dipenjara oleh Orde Lama, dan terakhir oleh Orde Baru. Bahkan setelah ia dibebaskan dari Pulau Buru pun, ia masih dikenakan tahanan rumah selama beberapa tahun lagi dan wajib lapor ke Kodim seminggu sekali.

Tetapi yang mengagumkan dari sengsara Pram adalah, bahwa sengsaranya justru menghasilkan energi yang seolah tak pernah habis untuk berkarya. Ia melakoni semuanya, walaupun sebagai manusia ia pun pernah berada di titik terendah. “Hidup ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang kepada keceriaannya saja, ia gila. Barangsiapa memandang hanya pada penderitaannya saja, ia sakit,” katanya. Akhirnya iapun menerima sengsara sebagai teman akrabnya.

Ibarat seorang ibu, Pram adalah ibu dan tulisan-tulisannya adalah “anak-anak rohani”nya. Ia melahirkan “anak-anaknya” itu dengan jiwa, bukan iseng-isengan dan asal-asalan. Itulah sebabnya – seperti seorang ibu – Pram begitu terluka ketika tulisan-tulisannya dirampas, dibuang, dan dibakar terutama setelah meletusnya peristiwa G30S tahun 1965.

Menengok sejarah di pertengahan Oktober tahun 1965 itu, malam hari, rumah Pram diserbu sekelompok orang dan dilempari batu. Ia saat itu adalah aktivis di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) – sebuah organisasi seni budaya yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dicap berada di belakang peristiwa yang bikin geger itu. “Pengecut! Bukan begini caranya berjuang! Saya juga pejuang! Mana pemimpin kalian!” tantangnya di depan pintu rumahnya sambil menyandang samurai.

Tetapi malam itu akhirnya ia dibawa oleh tentara. Kertas-kertas berisi naskah yang ia tinggalkan di rumah dibakar di belakang rumahnya, disaksikan oleh istrinya. Untuk naskah-naskahnya yang lain, ia memohon kepada tentara agar tidak diapa-apakan. “Jangan dirusak, jangan dibakar. Kalau Negara membutuhkan, ambil saja, tetapi jangan dibakar,” katanya menangisi anak-anak rohaninya itu. Tetapi permohonannya hanya menggema di ruang kosong.

Tanpa membawa secuil kertaspun Pram digelandang dari ruang tahanan yang satu ke ruang tahanan yang lain, hingga akhirnya ia terlempar ke Pulau Buru. Yang ia pikirkan semata-mata hanyalah anak-anak rohaninya. Jika ia mengingatnya, peristiwa itu membuat hatinya tercabik dan kepedihannya terus menggenang di sanubarinya hingga akhir hayatnya.

Sebagai tapol (tahanan politik), kertas dan pena pun terlarang baginya. Ia tak dapat lagi menulis, dan itu adalah derita baginya, karena isi kepalanya bagaikan mesin boiler bertekanan tinggi yang terus meletup-letup. Saking penuhnya isi kepalanya dengan cerita – sedangkan ia tak punya kertas dan pena – maka ia menuturkannya secara verbal kepada teman-temannya sesama tahanan di Pulau Buru. Setiap ada kesempatan Pram terus bertutur. Kata demi kata tersambung menjadi kalimat, lalu kalimat berjalinan menjadi kisah. Ketika serpihan yang tercecer itu dikumpulkan, maka lahirlah – salah satunya – mahakarya Bumi Manusia yang sangat indah.

Nama Pram yang sudah mendunia sebelum dipenjara lewat karya-karyanya seperti Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950), Mereka Yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Cerita Dari Blora (1952), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Cerita Calon Arang (1957), Panggil Aku Kartini Saja (1963), dan masih banyak lagi, membuat pemujanya (fans-nya) dari luar negeri terus mengkritik pemerintah Orde Baru atas pemenjaraan Pram di Pulau Buru tanpa proses pengadilan. Orang-orang luar negeri itu seakan tak rela jika Pram disetop untuk menulis, sebab tulisannya selalu dinantikan.

Pada bulan Oktober 1973, Pangkopkamtib kala itu, Jenderal Sumitro, mengunjungi Pulau Buru untuk melihat dari dekat para tapol dan mengetahui kehidupan dan perkembangan jiwa mereka. Untuk maksud itulah Jenderal Sumitro membawa serta beberapa psikolog seperti Fuad Hassan, Saparinah Sadli dan Susmaliah Suwondo dari Universitas Indonesia (UI). Kehadiran para Psikolog itu dimaksudkan agar dapat mempelajari psikologi para tahanan, cara berpikir terhadap ideologi komunisme, juga seberapa pengaruh pendidikan agama yang diberikan disana.

Tetapi satu hal penting lainnya yang ingin dilakukan oleh Jenderal Sumitro adalah: menemui Pram. Nama Pram inilah yang mengusik hatinya karena pada saat ia berkunjung ke Eropa, orang-orang disana mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Pram. Akhirnya  iapun bertemu dengan Pram.

“Pak Pramoedya, saya dengar dari kolega Bapak, para wartawan yang bersama saya kesini, bahwa Bapak marah-marah, berontak, putus-asa. Bapak bahkan mengatakan bahwa di sini tidak ada harapan, sehingga Bapak berkata mati sekarang atau besok sama saja,” kata Jenderal Sumitro. Dalam dialog itu Jenderal Sumitro memberikan motivasi dan semangat, dengan mengutip pepatah Jerman, “Man kann alles verlieren nur die hoffnung nicht. Hoffnung das schonste des lebens,” yang berarti bahwa seseorang bisa kehilangan segala-galanya, kecuali harapan, karena harapan adalah hal terindah dalam hidup manusia.

Dialog itu – seperti yang dikisahkan oleh Jenderal Sumitro dalam biografinya – berlangsung konstruktif. Ia menilai Pram adalah sosok fenomenal, penulis dengan talenta yang luar-biasa yang perlu diberikan kesempatan untuk berkarya.

Karena masih ada harapan itulah maka Pram sanggup bertahan. Ketika Jenderal Sumitro sudah waktunya harus meninggalkan Pulau Buru, ia bertanya kepada Pram apakah ada sebuah permintaan. “Mesin ketik, kertas dan notes,” jawab Pram, “Juga kamus dan buku-buku berbahasa Perancis,” pintanya. Sesampainya di Jakarta, Jenderal Sumitro memerintahkan stafnya untuk mengirim barang-barang itu kepada Pram di Pulau Buru agar bisa melanjutkan proses kreatifnya. Tetapi entah kenapa, barang-barang itu tak pernah diterima oleh Pram.

Tetapi terbukti bahwa proses kreatif Pram sama sekali tidak bergantung kepada sarana. Ia terus menulis walau tanpa kertas dan pena, dengan cara bertutur kepada sesama tapol. Hal ini mengingatkan kita kepada Ludwig Van Bethoven, seorang maestro musik dari Jerman yang pada usia 31 tahun kehilangan pendengarannya secara pelahan bahkan tuli total ketika berusia 47 tahun. Komposer musik tanpa fungsi telinga sebenarnya sama persis dengan penulis tanpa kertas dan pena. Tetapi justru dalam rentang waktu “ketulian yang makin memburuk” itulah Bethoven menghasilkan mahakarya, diantaranya Piano Sonata in C Major ‘Waldstein’, Op. 53, Piano Sonata in F Major, Op. 54, dan Piano Sonata in F Minor ‘Appasionata’, Op. 57.

Dari sinilah kita melihat orang-orang istimewa di jamannya yang tak pernah menyerah oleh keadaan, oleh kesakitan, oleh kesukaran, oleh penderitaan, oleh belenggu, dan oleh penindasan.

Telah beberapa kali nama Pramoedya menjadi kandidat peraih Nobel bidang sastra, sebuah award yang prestisius. Tetapi award itu tak kunjung datang. Rumor yang beredar bahwa ada “seseorang” telah melobby komite Nobel agar mempertimbangkan baik-baik orang yang kepadanya hadiah Nobel itu akan diberikan. Entahlah.

Urung menerima hadiah Nobel, Pram menerima penghargaan Ramon Magsaysay – yang dianggap sebagai “Nobel versi Asia” – pada tahun 1995. Keputusan ini memicu kritik keras dari sejumlah sastrawan di antaranya Mochtar Lubis, Taufiq Ismail, HB. Jassin, WS. Rendra, Asrul Sani, dan lain-lain. Mereka mengingatkan perlakuan Pram ketika masih di Lekra yang suka “mengganyang” sastrawan-sastrawan yang tidak sealiran dengannya. Pram juga pernah menuduh novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijck karya Buya Hamka sebagai plagiat.

Sastrawan-sastrawan itu masih terluka. “Kita semua diperanjingkan. Gaya rabies klongsongan. Hamka diludahi Pram. Masuk penjara Sukabumi,” tulis Taufiq Ismail dalam puisinya Catatan Tahun 1965. Bahkan Mochtar Lubis yang juga sebagai penerima hadiah Ramon Magsaysay tahun 1966 mengembalikan penghargaan itu ke Filipina sebagai bentuk protesnya.

Perjalanan cinta Pram dengan istri pertamanya, Arfah Iljas, tak banyak yang bisa diceritakan karena berlangsung singkat. Mereka bercerai karena istrinya tak tahan dengan kehidupan seorang penulis. Pram diusir dari rumahnya dan sejak saat itu ia “menggelandang”. Beberapa waktu kemudian, ketika Pram masih bergulat dengan kemiskinannya, ia bertemu dengan Maemunah Thamrin, seorang wanita muda yang sedang menjaga stan pameran buku. Maemunah mencintai Pram dalam keadaan Pram yang “kere” walaupun Maemunah anak orang kaya. “Aku sayang padamu,” kata Maemunah kepada Pram. “Bukan karena buku-buku dan karya-karyamu, tetapi karena kamu begitu melarat!” kata Maemunah seakan sebuah cerita dongeng. Terbukti Maemunah setia mendampingi Pram hingga Pram menutup mata di tanggal 30 April 2006, di usia 81 tahun.

Menjelang kematiannya, dengan tubuh yang renta dimakan usia dan penyakit, dalam kesakitannya karena terkena infeksi paru-paru dan komplikasi akibat rusaknya ginjal, mulut Pram mendesah serak, “Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang!”

Kalimat terakhir itu adalah kalimat perlawanan. Bukan saja kolonialisme, feodalisme dan fasisme yang ia lawan selama hidupnya, bahkan mautpun seakan ingin ia lawan. Pram tak mau tunduk dengan maut yang mau menjemputnya. Dasar Pram!

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian” –Pramoedya Ananta Toer

19 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan