Sastra / Tokoh

Pram, Anak Manusia di Negeri Bahagia

18/12/2019

Tags:

pramoedya ananta toer - toetoer.com

Dalam anak rohani Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (NSSB) Jilid I, Pramoedya Ananta Toer (1995) – pada bab Permenungan dan Pengapungan – pernah belajar menyanyi lagu berjudul Just A Prayer Away. Menurutnya, lagu yang dibuka dengan kalimat There’s a happy land itu merupakan lambang hari depan untuk setiap orang. Inilah kisah negeri bahagia.

Dengan harapan sebagai pimpinan, keringat sebagai lambang jerih payah sendiri dan dengan masa kini sebagai titik tolak dan masa lalu sebagai pesangon ia bergerak menuju ke happy land somewhere, atau dalam terjemahan bebas sebut saja tanah bahagia di masa depan. Orang tidak tahu pasti, hanyalah just a prayer away

Saya mencoba menelusuri lagu Just A Prayer Away dari bilah mesin pencari. Tembang yang dilantunkan Bing Crosby (The Ken Darby Singers) dan beberapa penyanyi lainnya itu direkam pada 24 Juli 1944. Lagu dua bait yang dua kali diulang itu pada intinya ingin menyatakan negeri bahagia yang entah ada atau tidak itu bisa dijangkau melalui doa. Begini kira-kira terjemahan bebasnya saya susun: 

Ada negeri bahagia yang entah di mana

Dan itu hanya sejauh doa

Semua punya rencana dan bermimpi

Dan itu hanya sejauh doa

 

Saat langit terlihat indah, di suatu kota yang ramah

Dipenuhi anak-anak yang bermain dan tertawa

Hatiku akan bernyanyi, sebab itu berarti satu hal

Aku akan pulang pada akhirnya

Ada negeri bahagia yang entah di mana

Dan itu hanya sejauh doa. 

 

Kisah itu Pramoedya tuliskan untuk putrinya, Astuti Ananta Toer, yang masa itu bersiap memasuki bulan madu. Dalam tulisannya, Pram, demikian ia biasa disapa, mencoba membandingkan apa yang dialaminya dengan kondisi putrinya yang tengah berbahagia.

Kurun waktunya adalah 16 Agustus 1969. Ia menyebut putrinya akan berbulan madu ke negeri bahagia yang sudah jelas. Lantas, bagaimana dengan Pram? Pram seperti diketahui akan berlabuh ke pulau Buru yang lebih besar dari Bali. Pram menjalani pembuangan dan kerja paksa seperti di Kepulauan Gulag atau Gulag Archipelago.

Teringat Pulau Buru, sejawat Pram, Hersri Setiawan, juga menuliskan dalam bukunya Memoar Pulau Buru. Buku ini menjadi penting dan menarik karena di dalamnya terdapat sejarah kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan bangsa khususnya para penguasa negeri ini dan sekaligus menjadi referensi pengetahuan bagi generasi muda untuk melacak kebengisan penguasa kala itu. Hersri adalah satu dari ribuan tapol lainnya yang mengalami penderitaan karena rezim penguasa yang saat itu sangat gencar membungkam segala hal berbau komunisme. Hersri beruntung karena dia masih mendapatkan “petunjuk” atau “pencerahan” dari Pulau Buru.

Ya, Pulau Buru adalah momok sekaligus petunjuk. Dikutip dari laman Wikipedia, Pulau Buru merupakan pulau besar di Kepulauan Maluku dengan luas 8.473 km² dan panjang garis pantai 427 km. Untuk ukuran besar-kecil, ia menempati urutan ketiga setelah Pulau Halmahera di Maluku Utara dan dan Pulau Seram di Maluku Tengah. Secara umum, Pulau Buru berupa perbukitan dan pegunungan.

Masih dari Wikipedia, pulau ini terkenal sebagai pulau pengasingan bagi para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Di sini, Buru tampil sebagai momok. Betapa tidak, berdasarkan riwayat para penghuninya, ribuan orang diasingkan dari keluarga, kehidupan sebagai manusia yang sudah merdeka serasa terkungkung, hidup dan bekerja dengan terpaksa selama puluhan tahun di daerah terpencil tersebut.

pramoedya ananta toer - toetoer.com

Di Pulau Buru semua tahanan politik dihukum tanpa proses peradilan, menghasilkan dampak tragis, seperti adanya tahanan yang meninggal, bahkan terganggu mental karena kerasnya derita yang dirasa. Namun, izinkan saya menyebut untuk pulau Buru, Pramoedya adalah sang pemula yang membawa Pulau Buru dengan segala kompleksitasnya ke dunia internasional.

Menyebut nama Pram, terbentanglah beragam kisah kemanusiaan dan perjuangan anak manusia dalam belantara kehidupan yang pernah dicatat sejarah suatu bangsa. Sejarah dalam goresan Pram bukan hanya milik nama-nama besar dan terkenal. Sejarah juga punya orang biasa. Baca juga, Pramoedya Ananta Toer, Menyusuri Jejak Sengsara untuk Keabadian

Di tangan Pram, sejarah bukan hanya dikuasai oleh para pemenang. Mereka yang terus berjuang tetapi kalah juga berhak tampil dan menentukan nasibnya sendiri. Oleh sebab itu, tidak berlebihan rasanya jika Pram disebut sebagai Sang Pemula.

Berkat Pram, nama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang belum seberapa terkenal menjadi populer ke seantero penjuru Tanah Air. Sejumlah “anak rohani” karyanya juga mengisahkan sosok Tirto dengan detail.

Sang Pemula, Pram, dalam melahirkan anak-anak rohaninya, memang selalu melakukan riset. Ia tekun mengumpulkan berbagai literatur sejarah, koran, dokumen dan sebagainya untuk memperkaya khazanah jalinan cerita yang dibangun.

Itu baru sekelumit pencapaian yang telah dilakukan Pram untuk bangsa. Begitu banyak yang telah dia perbuat untuk negerinya. Sayangnya, rezim penguasa tega membuangnya. Pram menjadi identik dengan penjara dan pembuangan. Tragis tetapi bukan tragedi.

pramoedya ananta toer - toetoer.com

Pergulatan dan pergumulan hidup Pram yang tragis ini yang memantik dan memengaruhi sejumlah anak muda untuk sekadar mengagumi dan mengidolakan sastrawan besar itu. Anak-anak muda itu ada yang mengikuti jejak Pram dalam laku kepenulisan dan pemikiran. Mereka biasa disebut dengan istilah ‘Pramis.’ Ya, sosok Pram memang menginspirasi siapa saja yang bergelut dalam dunia menulis, dunia abadi. 

Tidak salah rasanya jika banyak orang meneladani Pram, anak manusia dari Blora, Jawa Tengah, yang juga tidak luput dari segala kesalahan dan dosa.

***

 

10 likes
Wandi Barboy Silaban

Author

Wandi Barboy Silaban

Comments (2)

  • December 18, 2019 by Puger82

    Puger82

    Teruslah berkarya, saudaraku.. setidaknya setiap goresan penamu adalah sebuah catatan dan proses pembelajaran serta menambah khazanah ilmu pengetahuan..berguna bagi orang banyak..
    Krn ilmu yg berguna, adalah ladang ibadah kita..
    🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    • hannysog

      December 19, 2019 by hannysog

      hannysog

      Betoel! #Bertoetoer

Comments are closed.