Nasional / Tokoh

Perjalanan K.H. Gholib, Dari Santri Modjosantren Krian Menuju Pahlawan Pringsewu Lampung 

12/12/2019

Tags:

kh ghalib pringsewu - toetoer.com

K.H. Gholib juga dikenal dengan sebutan K.H. Ghalib, seorang pejuang yang angkat senjata melawan penjajahan Jepang dan Belanda di sekitar Pringsewu, Provinsi Lampung. Karena jasa-jasanya, pada tahun 1992 K.H. Gholib mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Lampung. Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto melakukan pemancangan bambu runcing sebagai penandanya.

Ditelusuri dari sejarahnya, sejak berumur 7 tahun, Gholib, kelahiran Modjosantren, Krian, Jawa Timur di tahun 1899, tak mengenal K Rohani bin Nursihan ayahnya. Pasalnya, ibunya Mursiti menyerahkan Gholib kepada Kiai Ali untuk ngangsu kawruh (menimba pengetahuan) dan ilmu agama Islam. Kemudian Gholib berguru dengan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebu Ireng, dan K.H. Kholil di Bangkalan Madura.

Sejak remaja, Gholib senang mengembara. Gholib tak hanya mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan masalah ubudiah. Ilmu hikmah pun dipelajarinya, dari pesantren ke pesantren, dari satu guru ke guru lainnya.

Sembari mengembangkan syiar Islam Gholib tak ada henti-hentinya belajar. Setelah dewasa, Gholib menikahi seorang gadis bernama Syiah’iyah. Namun, sampai akhir hayat beliau tidak punya keturunan. Tetapi Gholib dan istrinya mengangkat tiga anak yaitu; Jamzali, Siti Romlah, dan Rubaiyah.

Sebelum merantau ke Pringsewu Lampung, Gholib lebih dulu menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah pada tahun 1927 dari Singapura.

Usai berhaji, H. Gholib ke Lampung sekitar tahun 1927 – saat itu usianya kurang lebih 28 tahun – bersama sahabatnya M. Anwar Sanprawiro.  Beliau menumpang di kediaman M. Anwar Sanprawiro di daerah Pagelaran.

Setelah itu, Gholib membeli tanah di daerah Fajar Esuk. Ketika Belanda mulai mengusik keberadaannya Gholib pindah ke desa Bambu Seribu —sekarang dikenal dengan Pringsewu. Gholib membangun rumah dan masjid pada tahun 1928 dan ini merupakan Masjid Pertama di Pringsewu.

Melawan Jepang

kh ghalib pringsewu - toetoer.com

Sejak masa kanak-kanak Gholib menekuni ajaran agama. Oleh karena itulah maka dia tak rela untuk menggadaikan akidah dan prinsip yang telah membentuk jati dirinya sejak lama kepada penjajah.

Apalagi pada masa pendudukan Jepang di Pringsewu yang mewajibkan untuk menyembah dewa Matahari, Gholib tak bisa menerimanya.

Kemarahan Gholib kepada Jepang dimulai dengan perjuangannya menentang program Sei Kerie tahun 1942. Bagi Gholib tindakan Jepang sudah menindas, menyiksa, dan memeras.

Gholib segera menyiagakan pasukan mengusir Jepang dari tanah Bambu Seribu. Walaupun dengan persenjataan seadanya seperti pedang, golok, keris, dan bambu runcing, Gholib dan para pengikutnya tidak kenal lelah menggempur basis-basis Jepang.

Perlawanan yang dilakukan Gholib tentu menuai konsekuensi berat. Ia tercatat beberapa kali ditangkap militer Jepang. Jepang khawatir Gholib membangun propaganda supaya pengikutnya menolak ajakan untuk menyembah Dewa Matahari, Tenno Heika, dan Kaisar Hirohito.

Pada saat itu, suasana dunia internasional sedang memanas karena adanya Perang Dunia II. Jepang mengalami kekalahan sebab negaranya luluh lantak akibat gempuran bom atom pasukan Sekutu. 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat. Ketika terjadi kekosongan kekuasaan di tanah air, Gholib – yang kemudian dikenal sebagai K.H. Gholib – pun bebas dari kerangkeng penjara Jepang.

Masa Agresi Militer Belanda II

kh ghalib pringsewu - toetoer.com

 

Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun beberapa bulan kemudian pasukan Belanda (NICA) datang kembali ke Indonesia dengan cara menyamar di belakang tentara Sekutu yang berniat melucuti senjata tentara Jepang di Indonesia.

Di balik siasatnya itu, tentara Belanda ingin merebut kembali Indonesia. Pertempuran kembali terjadi di mana-mana; Surabaya, Ambarawa, Bandung, Medan, tak terkecuali Lampung.

Dalam Agresi Belanda II, tanggal 1 Januari 1949, Belanda mendarat di Lampung melalui Pelabuhan Panjang. Pemerintah bersama Tentara Republik Indonesia (TRI) mengungsi ke pedalaman Gedongtataan, Gadingrejo, Pringsewu, Kedondong, dan daerah lainnya.

Di Gadingrejo dibentuk pemerintahan darurat dengan presidennya Mr. Gele Harun dan wakilnya M. Yasin. Di Pringsewu, basis TRI ditempatkan di pesantren K.H. Gholib dengan tokoh-tokohnya Kapten Alamsyah dan Mayor Effendy. Melalui musyawarah para tokoh, K.H. Gholib ditetapkan sebagai pemimpin pasukan gerilya.

Pasukan K.H. Gholib adalah Pasukan Sabillah Hisbullah yang diambil dari santri-santrinya, kemudian dididik TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat). Mereka dilatih cara berperang oleh Mayor Inf. Herni, Mayor Inf. Mulkan, K.H. Gholib, dan Mayor Inf. Nurdin.

Pada kurun waktu 8 Agustus 1947 sampai 20 Oktober 1948, pecah pertempuran di front Baturaja dan Martapura. Pasukan Sabillah dan Laskar Hisbullah yang dipimpin oleh K.H.Gholib dan Kapten Alamsyah Ratuperwiranegara turut bertempur di sana.

Akibat pertempuran di Martapura banyak korban berjatuhan, baik di pihak Belanda maupun di pihak K.H. Gholib. Dengan menyisakan Mayor Herni, Sukardi, Mayor Nurdin, Sukemi, Mayor Mulkan, Supardi, Abdul Fatah, Silur, Irsan, Suparno, Suwarno, Mardasam, Harun, Hasan, dan Husen.

Tanggal 27 November 1949, terjadi perundingan clash order antara delegasi tentara Belanda dan delegasi RI/TNI di Kotabumi, Lampung Utara. Ketika itu hadir: Mayor K.L. Graaf von Renzouw, Mayor Inf. H.N.S. Effendi, Kapten A.L. Shohoka, Kapten Inf. Hamdani, dan Letnan Husen.

Setelah “perundingan damai” itu, mereka pulang ke Pringsewu. Belum lama K.H. Gholib berada di rumahnya, ia mendapatkan kabar bahwa Belanda sudah memasuki Gadingrejo. K.H. Gholib dengan sigap menentukan strategi dengan pasukannya. Kemudian mereka menghancurkan Jembatan Bulok. Belanda memutar arah menuju Gedongtataan, Kedondong, terus ke Pagelaran. Selain itu pasukan Belanda menerjunkan angkatan udara dan menghujani tempat-tempat persembunyian pejuang Pringsewu dengan peluru.

Situasi di Pringsewu menjadi tidak aman, karena tidak didukung oleh persenjataan yang sebanding dengan tentara Belanda. K.H. Gholib dan pasukan bergeser ke utara menyeberangi Sungai Way Sekampung, lalu bergerilya di hutan.

Selama K.H.Gholib bersembunyi, Belanda merusak dan menghancurkan harta benda yang terdapat di Pesantren K.H. Gholib. Sebagian pesantren dibakar, peralatannya dirampas oleh antek-antek Belanda. Bahkan, seorang Ustadz yang bernama Ustadz K.H. T. Nuh dibunuh karena tidak mau memberi tahu persembunyian K.H. Ghalib.

kh gholib

Selama di pengungsian K.H. Gholib sekeluarga gelisah memikirkan nasib warganya di Pringsewu. K.H. Gholib pulang dan berniat salat Idulfitri. Beberapa hari kemudian datang utusan Belanda. K.H. Gholib disergap Macan Loreng, kemudian dibawa ke Gereja Katholik Pringsewu, yang saat itu digunakan sebagai markas tentara Belanda.

Lima belas hari K.H. Gholib ditahan dan dibebaskan saat persetujuan gencatan senjata tinggal tiga hari diumumkan, malam Kamis Legi, 6 November 1949 (16 Syawal 1968 H). Pukul satu dini hari K.H. Gholib meninggalkan penjara, lalu berjalan pulang. Tapi baru 10 meter dia melangkah dari rumah tahanan, K.H. Gholib ditembak dari belakang. Beliau gugur ditempat.

K.H. Gholib meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Pringsewu yaitu tempat ibadah dan pendidikan pertama di Pringsewu. Selain itu, namanya diabadikan pada nama jalan. Makamnya kini sering dikunjungi peziarah, baik yang berasal dari Lampung maupun daerah lain seperti Sumatera Selatan, Jambi, Jakarta, Bandung, Bogor, Jawa, dan Madura. Nama santri dari Modjosantren tetap harum dan selalu dikenang. Bahkan pemerintah kabupaten Pringsewu sedang mengusulkan K.H. Gholib, karena jasa-jasanya melawan penjajah, untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional. 

***

 

2 likes
Christian Saputro

Author

Christian Saputro