Kebangkitan / Nasional / Tokoh

Percikan Api Soetomo Untuk Soekarno

20/05/2019

Soekarno muda

Adalah Ki Hajar Dewantara alias R.M. Soewardi Soerjaningrat yang mengusulkan pertama kali untuk ditetapkannya Hari Kebangkitan Nasional. Ia memilih tanggal 20 Mei karena di tanggal itulah organisasi Boedi Oetomo berdiri, di suatu pagi di hari Minggu tahun 1908.

Boedi Oetomo yang digagas di sebuah ruang kelas oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA itu – dengan Soetomo sebagai motornya – rupanya telah menjentikkan api yang mengobarkan semangat anak bangsa yang lain untuk melahirkan organisasi-organisasi setelahnya termasuk partai politik. Di situlah awal perjuangan. Di situlah sebuah tonggak dipancangkan, menandai bangkitnya kesadaran bangsa Indonesia untuk mengatur hidupnya sendiri di tanah sendiri.

Peristiwa itu terjadi di Batavia.

Sementara itu, jauh dari Batavia, di sebuah rumah kecil di Tulungagung, Jawa Timur, Soekarno yang masih bocah 7 tahun sedang membantu kakeknya membersihkan kandang ternak yang berisi cuma beberapa ekor. Ia memang tidak menghabiskan seluruh hari minggunya itu dengan bermain bersama teman-temannya, karena pesan ayahnya untuk bisa ‘rumangsa’ di rumah kakeknya tempat ia dititipkan. Saat itu ia belum mengerti apa-apa tentang pergerakan, apalagi kenal dengan dr. Soetomo, pencetus Boedi Oetomo atau dr. Wahidin Sudirohusodo, pemimpin pertama organisasi itu.

Tak lama di Tulungagung, Soekarno dibawa oleh ayahnya yang baru dipindah-tugaskan ke Mojokerto sebagai seorang mantri guru. Tetapi hanya sebentar ia sekolah di sekolah pribumi tempat ayahnya mengajar. Karena ayahnya adalah golongan priyayi dan melihat bahwa sekolah Belanda lebih baik, Soekarno dimasukkan ke ELS (Europeesche Lagere School). Di sinilah awal mula matanya terbuka. Ia melihat perbedaan. Ia melihat diskriminasi yang menyakitkan.


Diskriminasi itu benar-benar ia rasakan, baik di ruang-ruang kelas maupun di luar sekolah. Bahkan untuk keinginannya bermain sepak bola saja, ia harus menyingkir, hanya bisa berdiri di pinggir lapangan menyaksikan sinyo-sinyo Belanda menggiring bola dengan sepatu mahal dan kostum yang indah. Ia tak sampai hati menuntut ayahnya membelikan bola untuk bermain dengan teman-temannya, mengingat gaji ayahnya yang sangat kecil sebagai mantri guru.

Sekolah Jaman Old

Baiklah, jika ia tak berhak mereguk kemewahan untuk bermain sepak bola, tetapi bahkan uang jajanpun, ia harus sangat berhemat. Keharusan berhemat dengan luar biasa itu kemudian meletupkan kebenciannya kepada Belanda, sebab jika keluarganya harus hidup dengan 1 benggol sehari, teman sekolahnya para sinyo dan noni Belanda itu dengan mudah membelanjakan paling tidak 25 sen (10 benggol) untuk makanan anjing herdernya. Soekarno yang masih bocah itu dadanya meletup. “Ketika aku kesal melihat kesombongan sinyo-sinyo Belanda itu, aku lari ke sungai, bukan untuk memancing ikan, tetapi disana aku bisa berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan kemarahanku,” katanya.

Rupanya api yang dijentikkan oleh Soetomo di Batavia itu telah mengenai dan membakar hati Soekarno. Ketika ia masuk sekolah di HBS (Hoogere Burgerschool – setingkat SMU sekarang) Surabaya, dalam dadanya terus berkobar-kobar api kebangkitan. Di waktu luangnya ia menghindari bioskop atau tempat pelesir, sebab ia lebih suka melalap buku-buku dan menghabiskan waktunya di perpustakaan milik perkumpulan Teosofi yang tak jauh dari tempat kostnya. Di perpustakaan itulah ia mengganyang dengan rakusnya karya-karya Gandhi, Krisnamurti, Anie Besant, dan sebagainya. Figur-figur yang ia baca itu memberi asupan gizi untuk otaknya dan sekaligus memperkaya wawasan kebangsaannya.

Sehabis maghrib, ia mengendap-endap mendekati ruang tamu, tempat bapak kostnya – HOS Cokroaminoto – berdiskusi tentang politik dengan tamu-tamunya. Matanya semakin bersinar walaupun malam semakin larut, demi menguping perbincangan tentang politik di ruang tamu itu. Ketika Cokroaminoto tahu bahwa Soekarno suka menguping, ia mengajaknya duduk bergabung. Walaupun awalnya ia diremehkan oleh tamu-tamu itu, akhirnya pendapat dan pemikirannya selalu dinantikan juga oleh mereka karena argumentasinya yang cerdas. “Diskusi-diskusi politik itu semakin membuka cakrawala batinku tentang kesengsaraan rakyat akibat penjajahan, sehingga aku harus berbuat sesuatu,” demikian Soekarno berpikir. Tak lama berselang ia mendirikan organisasi Trikoro Darmo (tiga tujuan mulia), sebuah organisasi pemuda. Di organisasi ini Soekarno mengajak para pemuda untuk memikirkan bangsa dan tidak hanya mengejar kesenangan.

Saat itu giliran Soekarno yang menjentikkan api sehingga api itu kian menjalar dan menyulut jiwa dan semangat anak bangsa seantero nusantara. Soekarno lantang meneriakkan tantangannya terhadap imperialisme. Puluhan tahun setelahnya, di tahun 1948, untuk pertama kalinya Hari Kebangkitan Nasional dirayakan pada tanggal 20 Mei. Kala itu Soekarno – yang telah menjadi Presiden Republik Indonesia – menggunakan moment itu untuk menyerukan persatuan demi mengusir Belanda yang ingin comeback dan melakukan agresi.

Pada tahun 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No. 316 yang menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Ia meyakini apa yang dipilih oleh Ki Hajar Dewantara mengenai tanggal 20 Mei – hari lahirnya Boedi Oetomo – sebagai pilihan yang tepat, sebab percikan api kebangkitan nasional itu berawal dan bersumber dari sana.

Keppres 316/1959


Kiranya percikan api dari Soetomo dan kawan-kawan di Batavia tahun 1908, yang menyulut jiwa dan semangat Soekarno di Tulungagung – Mojokerto – Surabaya, juga menyulut jiwa dan semangat kita yang hidup di jaman teknologi sekarang, dengan cara dan gaya yang berbeda, demi Indonesia.

***

*) HBS Surabaya tempat Soekarno sekolah, sekarang menjadi Sekolah Kompleks (demikian orang Surabaya menyebut), dimana di area ini beroperasi empat sekolah, yaitu SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 9 di Jalan Wijaya Kusuma no. 48 Surabaya.

6 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan