Ideologi / Nasional / Tokoh

Pancasila Eksis Dalam Aliran Darah Kita

01/06/2019

Soekarno dan beberapa tokoh pergerakan

Jika kita simak pemikiran para bapak pendiri bangsa (founding fathers) kita dengan seksama, kita akan mengerti dan mengagumi betapa tolerannya sikap dan pemikiran mereka. Karena sejatinya memiliki jiwa besar, maka pemikiran mereka pun juga besar.

Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Radjiman Wediodiningrat, Soepomo, M. Yamin, adalah sebagian dari nama-nama yang sangat sibuk di kisaran masa-masa menjelang kemerdekaan Indonesia 1945. Setiap hari mereka mengadakan rapat, berdiskusi hingga jauh malam, semata-mata untuk memikirkan nasib bangsa yang saat itu masih dikuasai oleh Jepang.

Kala itu, Indonesia seperti tengah hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan.

Untuk kelahiran si jabang bayi, tokoh-tokoh hebat itu harus bersegera mempersiapkan segala hal yang diperlukan. Atas ijin Jepang, dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang beranggotakan 67 orang, dan diantara anggotanya ada beberapa orang Jepang.

Salah satu topik diskusi dalam sidang BPUPKI yang paling menguras tenaga dan pikiran mereka adalah soal bentuk Negara, sebuah persoalan yang sangat mendasar yang harus ditentukan dengan tepat dan tidak boleh salah.

Tokoh-tokoh itu, pada saat itu, mengibaratkan bahwa Indonesia nanti akan menjadi rumah bersama untuk semua. Mereka perlu memancangkan fondasi terlebih dahulu, dan perkara membangun di atasnya adalah urusan berikutnya. Pada saat itu mereka sudah memikirkan masa yang masih jauh, yaitu soal dasar yang benar hingga kelak kita tidak akan dan tidak perlu lagi membongkarnya, sebab membongkar fondasi rumah akan meruntuhkan rumah itu sendiri.

Walaupun dalam menentukan bentuk Negara terjadi perdebatan panjang antara dua kelompok yang mewakili kubu Nasionalis dan kubu Agamis, antara pilihan bentuk Negara kebangsaan atau Negara Islam, para founding fathers itu telah membiasakan diri untuk memusyawarahkan segala sesuatu untuk mencari titik temu. Mereka adalah orang-orang intelek, terpelajar, cerdas, sehingga persoalan sesulit apapun pasti akan ketemu solusinya di meja diskusi. Di saat kritis itu, untuk menjembatani perbedaan, mereka membentuk Panitia Sembilan yang terdiri atas Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo, M. Yamin, Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Moezakir, Abikusno Tjokrosoejoso, H. Agus Salim dan A.A. Maramis.

Ini adalah soal jiwa besar. Mereka yang berjumlah puluhan itu mempercayakan persoalan yang very critical kepada sembilan orang agar diskusi bisa lebih fokus, tajam, dan produktif. Dari Panitia Sembilan ini, pada tanggal 22 Juni 1945 akhirnya keluarlah rumusan tentang dasar Negara yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang tertulis:

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Adalah Hatta yang kemudian melakukan lobby kepada anggota BPUPKI agar tujuh kata dalam piagam Jakarta, yaitu “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk dihapus. Tindakan Hatta tersebut didasarkan adanya keberatan yang disampaikan oleh Johannes Latuharhary yang mewakili teman-teman dari Indonesia Timur yang mayoritas memeluk Kristen dan Katolik.

Sekali lagi adalah soal jiwa besar yang dimiliki terutama oleh tokoh-tokoh Islam pada saat itu. Hatta yang berpikiran moderat mencoba melunakkan para tokoh Islam agar bersedia mengerti. Walaupun mereka berpendapat bahwa tujuh kata itu tidak mengikat terhadap mereka yang non-Muslim, tetapi Hatta menjelaskan bahwa yang sedang disusun itu adalah fondasi dalam bernegara sehingga tak sepatutnya bersifat eksklusif. Para tokoh itu akhirnya melunak dan menerima usulan Hatta sehingga tujuh kata itu dihilangkan. Setelah sepakat, dimasukkanlah kelima butir itu ke dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” ini terasa lebih universal bagi siapapun di Indonesia. Kita harus mengapresiasi sikap kenegarawanan dari para tokoh itu, yang bersedia mengakomodir concern dari anak ibu pertiwi yang lain walaupun jumlahnya kecil.

Kelima butir dari Piagam Jakarta yang dikeluarkan tanggal 22 Juni 1945 itu sebelumnya telah melalui proses panjang. Pada sidang pertama BPUPKI tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945, diawali dengan usulan dari M. Yamin soal dasar Negara, kemudian perubahan usulan dasar Negara oleh Soepomo, akhirnya di hari terakhir sidang, 1 Juni 1945 tampillah Soekarno. Ia memperkenalkan lima dasar yaitu Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kelima butir ini nantinya menjadi cikal bakal Pancasila.

Proses rumusan Pancasila

Banyak orang menganggap bahwa Soekarnolah yang melahirkan Pancasila. Tidak. Bahkan Soekarno sendiri dengan jujur mengatakan, “Aku tidak melahirkan Pancasila. Aku hanya menggalinya saja, sebab Pancasila itu sudah terlahir bersama dengan rakyat Indonesia, sudah menjadi darah dan daging rakyat Indonesia.”

Maksud dari Soekarno adalah bahwa keunikan Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah benar-benar aliran darah bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai luhur ini tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia, tidak pula berasal dari contekan dari bangsa lain, melainkan terlahir dari rahim ibu pertiwi sejak dahulu kala. Dari penggalian nilai-nilai luhur itulah kemudian Soekarno menamakannya Pancasila. “Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 itulah kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila.

Sejak kelahirannya hingga kini, Pancasila sebagai dasar Negara sudah  mengalami beberapa kali usaha untuk mendongkelnya untuk diganti dengan dasar yang lain. Tetapi betapa pun usaha itu dilakukan bahkan hingga merenggut korban, Pancasila tetap kokoh hingga sekarang.

Sepakat dengan Soekarno, bahwa Pancasila adalah darah-daging bangsa Indonesia sejak dahulu kala, sehingga selama bangsa ini eksis, Pancasila tetap eksis, sebab ruh Pancasila itu ada di dalam aliran darah kita sendiri.

***

1 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan