Sastra / Tokoh

Nh. Dini, Menulis Realita Dalam Ruang Sastra

30/10/2019

“tulisan saya mengandung lebih banyak kehidupan nyata daripada fantasi.”

Pada Sebuah Kapal Nh Dini - toetoer.com

Nur Sri Hardini Siti Nukatin (Nh. Dini) merupakan definisi dari ketangguhan. Dialah sosok yang berani melawan cerita tabu di tengah krisis hidup dan realita. Apa yang disuarakan dalam karyanya, bersumber dari jeritan hati sebagai pengalaman hidup yang layak ditelanjangi, ditertawakan, Ia percaya semua cerita hidup adalah wajar, tak perlu ditutup-tutupi atau dipermalukan. Semua cerita adalah sebagai bahan pelajaran yang mendewasakan. 

Nh. Dini banyak membuka suara bahwa perempuan layak untuk mengambil keputusan. Diakuinya sendiri ketika menjadi seorang istri diplomat Perancis, kegelisahan Dini dalam masa pernikahannya adalah sebuah titik pergumulan dalam hidup. Namun siapa sangka di titik itulah ia banyak menuangkan tulisan masterpiece. Sebutlah Pada Sebuah Kapal – sebuah novel sastra yang sangat laris bahkan sampai dicetak ulang sebanyak 3 kali. Pencapaian yang langka, sebab kala itu Dini sangat berani menyuarakan suara perempuan yang melawan norma masyarakat: selingkuh

Tidak ada yang membenarkan norma tersebut, sekalipun untuk Dini sendiri. Ia mengaku perselingkuhan adalah perbuatan tercela dan tidak patut dibenarkan. Namun tetap saja, bukankah itu realita yang ada? Malah bukan cuma perselingkuhan, kejahatan seks hingga kepribadian ganda pun ditangkap oleh Dini sebagai cerita yang harus diketahui sebagai persoalan hidup perempuan. Dini, sastrawan yang pada akhirnya dijuluki sebagai sastrawan feminis telah berhasil melempar isu feminis dan sosial dalam karya memikat.

Antara Dini dan Sri, Realita dalam Fiksi yang disamarkan

Salah satu yang tidak bisa terlepas dari sosok Nh. Dini adalah novelnya, Pada Sebuah Kapal. Dikisahkan tragedi antara Sri orang pribumi yang menikah dengan diplomat asal Perancis akhirnya berpisah karena perselingkuhan. Yang menarik di sini adalah sang istrilah yang melakukan perbuatan selingkuh. Seorang wanita dengan latar belakang keluarga baik-baik bahkan tanpa cela. Di tengah biduk rumah tangganya, Sri mencoba memerdekakan diri dari perlakuan kasar suaminya. Ia berjuang untuk menjadi manusia.  

Sifat Charles sebagai suami selalu membuat Sri terluka dengan perlakuan kasar, egois, dan arogan. Biduk rumah tangga yang berada di ambang perceraian pun semakin panas setelah anak perempuan mereka lahir hingga seorang pelaut Michael Dubanton, pria beranak satu memberi kasih sayang untuk menyiram hati Sri yang kering.

Tak ayal seperti kapal yang nyaris karam di tengah laut, rumah tangga Sri dengan Charles Vincent yang sedari awal memang tidak disetujui oleh keluarga Sri, akhirnya berakhir. Tentu, bukanlah sebuah keputusan yang mudah bagi Sri namun sikap hidupnya yang tegas dan kuat mampu mendobrak nilai dan norma agung dalam kelas sosialnya. Ditambah lagi, pilihan Sri untuk bercerai tidak juga memberinya jalan untuk bahagia. Pelaut yang dikasihinya tidak juga memberi jalan akhir yang bahagia.

Bagaimanapun Sri hanyalah seorang wanita yang ingin hidup bebas meski harus melepaskan kesuciannya sebagai seorang istri. Dan sepenggal sinopsis populer ini pada akhirnya membawa kita pada sebuah ruang feminis yang sangat kuat. Dengan ajaib dan tegas, Dini membawa isu perempuan dalam sebuah karya yang sangat berani dan bahkan cukup sensual. Baginya perempuan bukanlah objek semata, namun sikap keterbukaan pada pemikiran norma yang mengikat. Apalagi, harus diakui Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, Cerita Kenangan sedikit banyak menjadi diary Dini yang disamarkan dengan tokoh dan latar fiksi. 

Banyak tanggapan bermunculan sejak novel-novelnya diluncurkan. Tentu saja ini tidak mengherankan sebab banyak pihak yang melihat karya Dini merupakan sebuah pemberontakan norma, khususnya pemberontakan atas nilai-nilai luhur pernikahan dengan alasan “ketidakbahagiaan.” 

Setelah ditelisik dari kumpulan Cerita Kenangan pun sebenarnya, Dini rupanya memang mengalami hal serupa yang dialami oleh tokoh karangannya, Sri. Saking nyatanya bahkan tokoh-tokoh utama dan latar yang muncul adalah sama. Baik di dalam novel maupun kehidupan asli, para perempuan ini menikah dengan Diplomat Perancis dan bertemu dengan seorang pelaut yang memiliki anak. 

Sebenarnya, Pada Sebuah Kapal hanya salah satu karya Dini yang berhasil mengundang perhatian karena bertema perselingkuhan. Selain itu banyak karya Dini yang sebenarnya menyuarakan tema kemanusiaan sehingga bila Anda berpikir Dini adalah sastrawan bertema selingkuh, ini bukanlah pengenalan yang tepat. Sebab sebagian besar karya-karyanya seperti Orang-orang Tran (1983), Tanah Air Kedua (1997), Tirai Menurun (1993) dan kumpulan cerpen lainnya sangat kaya pada tema sosial.

Nh Dini Sedari Muda

Memang Dini sudah dilahirkan menjadi perempuan yang istimewa. Ia lahir di Semarang pada tanggal 29 Februari 1936. Tanggal yang membuatnya harus merayakan ulang tahun selama 4 tahun sekali. Dini [nama panjang dihapus karena sdh disebutkan di atas] sudah gemar menulis sejak masa sekolah. Berbagai genre sastra dari puisi, drama, cerpen, novel ia tekuni, namun novel lah yang melambungkan namanya sebagai sastrawan Indonesia. 

Nh Dini adalah seorang putri bungsu dari pasangan Salyowijiyo pegawai perusahaan kereta api, dan istrinya Kusaminah. Darah Bugis dan Jawa mengalir kental di dalam dirinya, termasuk jiwa seni yang diturunkan dari ayahnya. Sebelum ayahnya meninggal, ia berpesan supaya Dini belajar menari dan memukul gamelan agar Dini memahami arti kelembutan dalam kehidupan. Pesan itu nampaknya tersimpan dalam diri Dini hingga ia menjadi pramugari dan dipersunting Yves Coffin, Diplomat Perancis. 

Namun pernikahannya tidak berjalan mulus begitu saja. Setelah menikah, Dini diboyong Coffin ke Jepang, Kamboja, hingga akhirnya menetap di Perancis dengan kehadiran dua orang anak. Namun setelah empat tahun berjalan, hubungan mereka tidak baik-baik saja. Coffin diketahui adalah seorang yang kasar dan pelit, bahkan bersikap baik hanya sebagai topeng saat menjamu kolega. Dini kian hari diremehkan sebagai penulis, diberi uang bulanan hanya sebanyak sepertiga uang saku Lintang (anak sulungnya), bahkan tidak diizinkan menjenguk ibunya yang sakit. 

 

Setidaknya dari cuilan kisah Dini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ia tidak bahagia dengan pernikahannya.

 

Saat-saat mengecewakan inilah Dini bertemu dengan Maurice. Seorang kapten yang membawanya berlayar selama dua minggu dari Marseille ke Saigon bersama Lintang (Dari Parangakik ke Kampuchea, 2003). Dini akhirnya memutuskan bercerai dengan Yves Coffin pada 1980. Namun seperti dalam novelnya, kisah Dini bersama pelaut pun hancur. Maurice yang saat itu juga menaruh hati pada Dini tidak mendapat umur panjang. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas (Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri, 2008)

Dini akhirnya mendapat kembali kewarganegaraan Indonesianya dan kembali ke tanah air dalam keadaan sakit kanker. Tanpa pendamping, ia menutup kisah asmaranya. Dini berjuang hidup hanya dengan mengandalkan tulisannya yang dimuat di surat kabar dan royalti atas karya-karyanya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Inilah kekuatan Dini. Meski ia tidak sempat mendapatkan pendidikan perguruan tinggi, ia tetap haus akan ilmu dan menulis, bahkan membimbing anak-anak dalam pondok bacaannya di Pondok Sekayu desa Kedung Pani. Pondok bacaan ini lalu pindah ke Yogyakarta dan buka cabang baru di Jakarta dan Kupang Timur. 

Keberhasilan dan Kesendirian bagi Dini

Dari pernikahannya, Dini mendapat anak-anak yang luar biasa. Putra bungsunya, Pierre Louis Padang Coffin berhasil sukses dan dikenal menjadi sutradara film Hollywood. Louis menjadi terkenal dan menjadi sosok yang dicari pada ajang-ajang penghargaan animasi Hollywood. Siapa yang tidak kenal dengan Despicable Me Series dan Minions? Selain itu ada pula Brad & Gary, Gary’s Day, dan Flanimals yang menjadi deretan film Hollywood terkenal lainnya yang menjadi besutan karyanya. Sementara itu putri sulungnya, Marie Claire Lintang Coffin lebih memilih jalur pendidikan. Ia sempat berkarier di hubungan masyarakat di kantor swasta di Perancis, menjadi wartawan di majalah ekonomi, dan menjadi dosen tidak tetap selama 10 tahun di University of Windsor di Ontario, Kanada. 

Marie Claire Lintang Coffin, Pierre Louis Padang Coffin, Nh Dini - Toetoer.com

Keberhasilan Dini sebagai seorang penulis dan ibu dengan anak-anak yang sukses tak membuatnya manja dan merepotkan. Justru ia memilih menyendiri di panti wreda. Membuat karya, mengisi seminar, dan terus melakukan ritualnya setiap hari dengan meditasi, melantunkan doa dari pukul 01.00-03.00 pagi. 

Dini tak pernah menganggap semua prestasinya sebagai keberhasilan. Meski banyak penghargaan telah ia dapatkan, Dini tetap hanya ingin dikenal sebagai seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan. Semua novelnya adalah karya sastra yang mempertanyakan dan menusuk norma-norma masyarakat. Sastra jelas bukan untuk ruang yang nyaman. Lupakan imaji tentang norma kebenaran, karena realita kehidupan sejatinya tidak pernah sesederhana itu. Inilah barangkali yang membuat Dini menjadi sosok sastrawan yang abadi.

8 likes
Ester Ria

Author

Ester Ria