Tokoh

Najwa Shihab: News Anchor Penabur Benih Kebaikan

10/11/2019

Tags:

“….profesi jurnalis bisa membawa kebaikan…”

najwa shihab - toetoer.com

News Anchor Najwa Shihab tidak hanya pandai berbicara. Rangkaian katanya berhasil membuat narasumber curhat,  sembari meneteskan air mata. Pertanyaan kritisnya membuat bintang tamu tidak bisa berkata-kata. Acaranya “Mata Najwa” berhasil merangsang daya kritis, menginspirasi dan menggerakkan kepedulian kepada sesama.

Masa Kecil yang Berpengaruh

Najwa Shihab lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 16 September 1977. Semenjak kecil ia suka melihat  reporter meliput kejadian secara langsung di lokasi dan news presenting yang sedang membaca berita. Ketertarikannya membuat dia sering meniru gaya reporter dan news presenting yang dilihatnya.

Bagi Najwa masa kecilnya sebagai sumber inspirasi untuk meraih kesuksesan.

Di tangan Quraish Shihab, Najwa dididik dengan nilai-nilai Islam terutama dalam hal ibadah. Bagi Najwa nilai Islam yang diajarkan Abinya – sebutan ayahnya – membawanya untuk percaya pada kekuatan doa dan dzikir yang menenangkan hatinya. Sampai ketika rapat, dia tak lupa memberi salam dan mengajak semua untuk berdoa. Dia ingat nasihat Abinya, “….kata ayah saya, kalau shalat kita benar dan enggak bohong kita bisa jalani hidup dengan sukses….”.

Sikap berani bermimpi dan mewujudkannya itu terpengaruh didikan ibunya, Fatmawaty Assegaf.  “Ayo dicoba, (kamu) pasti bisa. If you want something, go get it” itulah kalimat motivasi dari ibunya, membuat Najwa berani bermimpi dan ambisi untuk mengejarnya.

Sejak SD Najwa mulai terlihat prestasinya.  Menjadi juara 1 lomba baca puisi tingkat SD se-DKI Jakarta, hal itu yang menjadi inspirasinya. Lalu menjadi bintang pelajar SD, bahkan SMP dan SMA aktif terlibat di OSIS. Ketika kuliah pun ia aktif di Asosiasi Mahasiswa Hukum ASEAN.

Semenjak kecil Najwa bercita-cita menjadi hakim untuk anak-anak. Hal itu mendorongnya menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, fakultas hukum.

Awal karir sebagai jurnalis

Tahun 2000, saat sedang sibuk mengerjakan skripsi, Najwa daftar magang di Seputar Indonesia RCTI  sebagai jurnalis dengan tujuan untuk mendapatkan pengalaman.

Tugas pertamanya, meliput arus mudik lebaran di Pelabuhan Merak dan Stasiun Gambir. Saat jurnalis RCTI pada cuti lebaran, Najwa mendapat kesempatan untuk mewawancarai Menteri Luar Negeri Belanda dan Sekjen PBB, Kofi Annan di Indonesia. Dia merasakan kesenangan menjadi jurnalis karena bertemu beragam orang dan banyak belajar dari banyak hal. “Saya benar-benar merasakan nikmatnya jadi jurnalis. Jatuh cinta pada profesinya….”.

Tahun 2000 di  Seputar Indonesia, Najwa bertemu dengan Andy Noya yang menjadi pemimpin di Seputar Indonesia. Namun Andy ditawari oleh Surya Paloh menjadi pemimpin redaksi Metro TV.

Najwa Shihab ditawari Andy bergabung di Metro TV. Ia menerimanya dengan alasan bahwa konsep Metro TV sebagai televisi berita, yang sesuai dengan minatnya mendalami dunia jurnalis televisi.

“Televisi itu apa adanya, what you see, what you get. Enggak bisa berpura-pura kalau pada detik itu kamu enggak siap menguasai sesuatu. Itu jelas akan terlihat di layar,” papar Najwa tentang  alasan memilih jurnalis tv.

najwa shihab - toetoer.com

Tahun 2004 Najwa menjadi jurnalis televisi pertama yang meliput kondisi tsunami Aceh. Hatinya sangat terpukul dan prihatin melihat mayat berserakan dimana-mana dan bangunan hancur tak bersisa. Ia mendengar permintaan tolong para korban untuk mencari keluarganya.

Hati Najwa perih tak terkira, ketika menerima banyak sms sampai hp-nya rusak. Dia ingat sms yang sangat menyayat hatinya “Kalau anak saya sampai meninggal, itu tanggung jawab mbak ya, karena mbak enggak ngecek ke rumah saya”.

Apalagi mendapat laporan ada warga  yang kelaparan, padahal posko bantuan cuma  100 meter. Dia melaporkan fakta itu dengan kritis bercampur emosi yang membuat Najwa meneteskan air mata. Laporan itu sedang  mengkritik kebijakan pamannya, Alwi Shihab, sebagai Menko Kesra yang kurang sigap bekerja.

Laporannya telah memberikan efek pada masyarakat: Laporan kritisnya membuat Alwi Shihab harus berkantor di Aceh untuk menangani masalah sampai tuntas; Metro TV dianggap sebagai pelopor pemberitaan “CNN effect” yaitu pemberitaan yang memberikan efek di masyarakat; Melalui program “Indonesia menangis”, laporan Najwa  membuat menangis penonton dan berhasil menggerakkan masyarakat untuk peduli, sehingga kurang sepekan bisa mengumpulkan 4 milyar Rupiah; Mendapat penghargaan reporter TV terbaik oleh AJI dan PWI.

“Saya ingin karya jurnalistik itu berpengaruh dan berdampak terhadap kebijakan yang salah,” ujar Najwa terkait motivasinya dalam berkarya semenjak kejadian tsunami Aceh.

News Anchor yang Terampil

Setelah kesuksesan laporan tsunami Aceh membuatnya dipercaya sebagai program owner “Mata Najwa”. Butuh 4 tahun meramu format acara itu. Najwa mendapat ide dari Rachel Maddow Show di MSNBC yang membawakan program politik dengan ringan, penuh humor dan cerdas.

Najwa berharap “Mata Najwa” mewakili pertanyaan publik dan opini obyektif terkait isu baru atau lama, sehingga penonton dapat belajar tentang isu yang dibahasnya.

Di Mata Najwa, Najwa tidak hanya berperan sebagai news anchor namun memiliki banyak peran bersama tim untuk menentukan tema, narasumber, alur, program, seleksi gambar, promo off air kampus, strategi marketing dan bertemu klien.

Ilmu hukumnya sangat bermanfaat ketika menjadi news anchor karena bisa mengasah logika untuk membangun argumen yang rasional dan mengatur alur wawancara dengan narasumber.

Bagi Najwa menjadi News Anchor tidak seperti presenter dalam dunia hiburan yang tergantung dengan teleprompter. Profesi itu perlu peka terhadap langkah kerja jurnalis: mencari fakta, mengumpulkan, mengolah dan memproduksi, juga harus menguasai isu yang dibahas.

Mata Najwa hadir untuk membahas fakta yang memiliki nilai berita. Bagi Najwa nilai berita itu suatu informasi yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.  Ketika fakta itu bernilai manfaat maka bersama tim Mata Najwa mengumpulkan data dengan berbagai cara.

Ketika data dikumpulkan perlu dikelola. Pengelolaan data ini disesuaikan dengan apa yang ingin diketahui masyarakat, sehingga bisa bermanfaat bagi mereka. Lahirlah tujuan per episode: Mengulas untuk memberi informasi (mengulas pengungkapan kebenaran sejarah 1965); merangsang daya kritis (pemilu 2014 mengundang capres dan cawapres); menginspirasi (fakta-fakta kisah Risma); memengaruhi untuk bertindak (fenomena #saverisma).

najwa shihab - toetoer.com

Dari tujuan itu munculah teknik wawancara supaya bisa membuat narasumber memberikan informasi yang sesuai tujuan acara, yang disesuaikan dengan keinginan publik tentang isu. Teknik wawancara: Interogasi, klarifikasi, konfrontasi, menguji dan memancing narasumber.

Ketika Najwa mengundang capres dan cawapres, dia memiliki tujuan utama untuk mengajak berpikir kritis dan mengajak orang menyadari bahwa suaranya berharga. Hal itu muncul dari kebutuhan masyarakat untuk memiliki pemimpin yang baik.

Lalu lahirlah  teknik menguji yang tertuang dalam pertanyaan seperti “apa agendanya sehingga menjadi wakil publik?” dan “apa yang sudah ia lakukan?”. Diharapkan pertanyaan itu akan memberi Informasi yang menjadi pijakan masyarakat dalam memilih.

Menurut Najwa untuk bisa memunculkan pertanyaan, maka dia berusaha meriset, memahami isu itu dan menggali apa saja yang ingin diketahui oleh masyarakat. Dan diubah bentuk menjadi format pertanyaan. Baginya untuk bisa memperoleh data yang banyak dari narasumbernya perlu memberlakukan pertanyaan yang terbuka, contohnya “Apa janji anda untuk masyarakat?”

Dalam bertanya pun, Najwa memiliki prinsip yang tak biasa. Bagi kita, bertanya saat tidak mengetahui jawabannya. Tapi bagi Najwa bertanya ketika mengetahui jawabannya. Dengan taktik itu bisa mengontrol narasumber untuk bisa menjawab sesuai hasil riset yang mengarahkan kepada tercapainya tujuan acara.

Tidak hanya meriset berita saja, Najwa pun juga meriset narasumbernya supaya bisa menggali informasi. Dia berusaha meriset: Apa yang menarik perhatian narasumber, pengetahuan isu narasumbernya, kepribadiannya.

Dengan riset yang kuat bisa membuat ice breaking yang menyejukkan suasana sehingga narasumber merasa nyaman dan leluasa bercerita. Dalam episode “Apa kata Mega”, di awal segmen, Najwa sengaja memutar lagu kesukaan Mega yaitu “My Way” yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra. Hal itu membuat suasana cair sehingga Mega tidak segan menjawab pertanyaan Najwa, bahkan di akhir segmen Mega meneteskan air mata.

Tidak hanya kekuatan riset berita dan narasumber yang mengantarkan kesuksesan sebagai news anchor. Dengan kekuatan komunikasi non verbal membuat narasumber menjawab sesuai yang ditanyakan Najwa.

Bagi Najwa penting untuk mendengarkan narasumbernya supaya bisa mengajukan pertanyaan dan mengkritisi jawaban sesuai tujuan. Pastinya dengan mendengar, narasumber merasa dihargai kedatangannya.

Najwa menjelaskan pentingnya kontak mata kepada narasumber, “…Menurut penelitian, informasi yang masuk ke dalam otak seseorang 87% masuk melalui kontak mata. Oleh karena itu, tatapan mata sangat efektif buat news anchor memasukkan informasi”.

Menurut Najwa dengan kekuatan senyum membuat narasumber merasa nyaman serta memunculkan sikap akrab  dan terbuka dengan news anchor. Sehingga menjadi alat ampuh untuk bisa menggali informasi kepada bintang tamu.

Menjadi news anchor itu perlu empati terhadap kondisi narasumber, hal itu akan membuat narasumber merasa punya teman curhat dan bebas bercerita.

“Rasa simpati dan empati bisa ditunjukkan dengan menyampaikan kata-kata pendek pemacu semangat. Beberapa kata yang bisa digunakan antara lain, “saya mengerti…”, “oooh…”, “oh ya…” atau “tolong jelaskan lebih jauh lagi…”. Kata-kata pemacu semangat ini bisa mendatangkan dua kali lebih banyak informasi yang bisa digali dari seorang narasumber. Kalau kata-kata itu diiringi dengan anggukan kepala, bisa makin dahsyat hasilnya”, penjelasan Najwa terkait menunjukkan rasa simpati dan empati kepada narasumber.

najwa shihab - toetoer.com

Menurut Najwa seorang news anchor yang memiliki selera humor mempunyai nilai plus, seperti Rachel Maddow. Yang akan menciptakan energi positif dan suasana menyenangkan.

Dengan ketajaman riset dan kekuatan komunikasinya melahirkan karya jurnalistik yang tidak hanya memberi informasi tapi bisa  menggerakkan masyarakat untuk membela kebaikan. Ketika mewawancarai Risma, saat ada isu pengundurannya karena tertekan adanya suhu politik Surabaya yang memanas. Najwa berhasil membuat Ibu Risma mengeluarkan unek-uneknya sampai menangis. Akhirnya menjadi trending topic di sosmed dengan #saverisma.

“….profesi jurnalis bisa membawa kebaikan… sebab, penonton jadi tahu melalui berita yang kita sampaikan. Makanya, berita-berita yang kita sampaikan harus bermanfaat buat masyarakat dan bangsa ini.”

***

Sumber: “Berguru News Anchor pada Najwa Shihab”;  Brilianto K.Jaya; Republika; 2014.

9 likes
Iftitah Rahmawati

Author

Iftitah Rahmawati

Saya Sarjana Ilmu Komunikasi. Tulisan saya "Perjuangan Habibie Menerbangkan Indonesia" terbit di MainMgz M Radio. Saya punya 4 buku antologi. Kerja:conten creator&content writer.