Tokoh

Mona Lohanda, Sejarawan Batavia Lama Itu Telah Tiada

20/01/2021

Tags: , , ,

“Kita sendiri membuat sejarah negeri ini terlupakan sebagai kekuatan yang diperhitungkan dan diminati, bahkan diincar oleh banyak kekuatan asing” 

Mona Lohanda - toetoer.com

Sepenggal kalimat itu terlontar dari seorang sejarawan asal Tangerang bernama Mona Lohanda. Dia seakan ingin mengingatkan kita betapa pentingnya sebuah sejarah bangsa sebagai sebuah kekuatan, namun sayang tak banyak pihak yang ingin menguliknya. Bahkan tak sedikit yang ingin melupakannya.

Mungkin kata-katanya tersebut merupakan kritik keras kepada generasi penerus yang enggan menggali lebih dalam tentang sejarah bangsa ini, sehingga tak heran kalau bangsa ini lupa pada sejarah.

Sebagai contoh, dalam makalahnya yang bertajuk, “Dunia Mencatat Nusantara Mengingat; Eksplorasi Kepulauan Dalam Sumber Sejarah”, Mona Lohanda mengatakan seharusnya bangsa ini menjadikan sejarah pelayaran dan niaga Nusantara menjadi salah satu primadona kajian Sejarah Nusantara. Terlebih lagi dalam usaha menggali kembali jejak-jejak kekuatan bahari negeri dan tanah air. Namun nyatanya kita malah mengabaikan posisi dan peranan Nusantara sebagai pusat bahari. Pencarian dan penjelajahan memerlukan kepiawaian dalam urusan navigasi. Dalam hal ini, bangsa Asia dan Barat berhutang kepada Nusantara, tutur Mona.

Ketika ditanyai di berbagai kesempatan, Mona mengaku terbeban dan berharap generasi penerus profesi arsiparis mau berinisiatif dan mengembangkan jejaring dengan para peneliti di seluruh dunia. 

”Waktu saya melayani para peneliti di ruang baca tahun 1970-an hingga 1985, tidak sekadar mencarikan arsip. Saya juga berdiskusi mencari pengetahuan baru dan saling menambah relasi dengan para peneliti. Sekarang ini banyak orang di dunia arsip hanya sekadar menjadi pegawai kantor arsip. Sayang sekali, padahal mereka bisa menghasilkan banyak tulisan hingga buku dari arsip yang setiap hari mereka geluti,” ujar Mona.

Mona menyebutkan masih banyak koleksi dokumenter film hitam putih zaman pendudukan Jepang yang sangat langka tersimpan di Lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Material-material tersebut didapat dari Imperial War Museum London, sayangnya material tersebut tak diolah dan dijadikan bahan yang berguna untuk pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Hanya beberapa stasiun televisi yang kerap menggunakan material tersebut untuk membuat tayangan sejarah.

Inilah wujud keprihatinan Mona terhadap kalangan anak-anak generasi milenial. Mungkin bagi kelompok milenial, sosok Mona bukanlah seorang idola yang patut dibanggakan. Padahal kepiawaiannya dalam bidang kearsipan dan sejarah telah diakui, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Mona Lohanda - toetoer.com

Sejumlah nama terkenal di kalangan para doktor dan pakar serta penulis sejarah Nusantara seperti Peter Carey, Anthony Reid, Aiko Kurasawa Inomata, Kenichi Goto, Aisawa Nobu, Claudine Salmon, Mary Sommers Heidhues, Heather Sutherland, Charles Coppel, John Ingleson, Robert Cribb, Merle Calvin Ricklefs, Ruth T. McVey, Henk Schulte Nordholt, Jaap Erkelens, Leonard Blusse, Adolf Heuken, Remco Raben, dan Bambang Purwanto, pasti selalu meminta pertolongan Mona kala berburu fakta yang berada dalam arsip tersembunyi.

Maka tak heran karena ketekunan dan dedikasinya dalam menggeluti sejarah Batavia dan VOC, membuat Mona menerima berbagai penghargaan seperti Nabil Award (2010), Cendekiawan Berdedikasi dari Harian Kompas (2012), dan Bakrie Award (2016). Bahkan dia juga dikenal sebagai sosok pencipta para sejarawan baru bagi negeri ini.

Selain sebagai sejarawan, Mona juga tercatat sebagai seorang penulis yang produktif. Beberapa buku dihasilkan selama karirnya. Sebut saja (Djambatan, 1996), (Masup Jakarta, 2007), Growing pains: the Chinese and the Dutch in colonial Java, 1890-1942, Yayasan Cipta Loka Caraka (2002), dan Membaca Sumber Menulis Sejarah Penerbit Ombak (2011).

Mungkin kalau mau dicatat, ada banyak lagi makalah maupun tulisan-tulisan tentang sejarah yang dapat menunjukkan betapa besar dedikasinya terhadap sejarah negeri ini. Sejak tahun 1972 hingga 2012 (60 tahun) hidupnya dihabiskan untuk bekerja pada lembaga ANRI tadi, di mana ia kemudian mengkhususkan diri pada sejarah masa kekuasaan VOC, terutama periode antara tahun 1683 hingga 1806. Dia juga menyusun indeks arsip VOC untuk memfasilitasi pekerjaan peneliti dan akademisi lainnya. 

Mona Lohanda - toetoer.com

Riwayat Mona

Mona Lohanda terlahir di Tangerang pada 4 November 1947 dari keluarga peranakan Tionghoa di Tangerang. Dia menghabiskan pendidikan SD hingga SMA-nya di Tangerang hingga pada tahun 1971, ia melanjutkan studi  jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dalam waktu empat tahun Mona berhasil merampungkan studinya dan  melanjutkan studi pascasarjana di Department of History, School of Oriental and African Studies di University of London dan berhasil lulus dengan tesis bertajuk ‘The Kapitan China of Batavia 1937-1942’. 

Dia mengawali karirnya di ANRI (1972) atas permintaan Kepala ANRI, Soemartini, yang juga dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI. Mona pun akhirnya tekun menjadi spesialis ahli sejarah masa VOC. Dia banyak membaca arsip sejarah kongsi dagang Belanda itu dan menekuni paleografi. Mona mengaku ia telah menyusun indeks arsip VOC selama lima tahun, sehingga dengan indeks itu memudahkan orang yang membaca arsip VOC. Selama hampir 60 tahun dia mengabdikan diri di ANRI dan pensiun pada tahun 2012. 

Tepat 16 Januari 2021 lalu, Sejarawan yang mengambil spesialis Batavia lama ini menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung di RS Sari Asih, Karawaci Tangerang. 

Selamat Jalan Bu Mona. Karya-karyamu akan selalu dikenang sampai kapanpun.

(dari berbagai sumber)

***

0 likes
Wahyu Wibisana

Author

Wahyu Wibisana