Nasional / Tokoh

Menyemai Cinta Dari Lembah Tidar

04/06/2019

In Memoriam Ani Yudhoyono

SBY yang setia mendampingi Ani saat sakit

Wajah duka Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika ditinggalkan oleh istrinya, Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono) pada 1 Juni yang lalu begitu menggambarkan rasa pedih yang tak terperi. Fotonya yang mengenakan sweater hijau dengan gurat wajahnya yang lelah seraya terisak itu begitu cepat viral lewat media sosial. Saya melihat foto tersebut dari seorang teman ketika kami sedang makan di suatu tempat. Dari foto itu, saya melihat kesedihan SBY yang benar-benar sangat kentara. Itu duka yang sangat mendalam.

Selama kurang-lebih empat bulan SBY mendampingi Ani yang sedang dirawat di National University Hospital (NUH) Singapura karena menderita leukemia (kanker darah). SBY pasti mengerti perkembangan kondisi Ani dari hari ke hari, bahkan dari jam ke jam. Sebagai seorang suami yang mencintai istrinya, SBY tentu berharap Ani akan sembuh. Itulah sebabnya ia memilih rumah sakit terbaik, menyerahkan semua treatment kepada dokter dan perawat yang ia percayai.

Tetapi mungkin, jauh di lubuk hati yang terdalam, SBY seakan melihat sebuah ujung jalan, ujung jalan yang orang lain tak dapat melihat, ujung jalan dimana Ani akan menyelesaikan perjalanannya di rumah sakit itu. Perasaannya begitu peka ketika melihat ujung jalan itu, tetapi sebagai seorang yang beriman sebagai Muslim, ia tetap memanjatkan doa, bukan hanya lima kali sehari, tetapi mungkin setiap jam bahkan setiap saat ketika ia merasa begitu berat.

“Panjangkanlah usia istriku ya Tuhan, jika hal itu membawa kebaikan baginya. Tetapi aku ikhlas jika Engkau ingin memanggilnya pulang, apabila hal itu pun adalah kebaikan baginya,” demikian SBY mengucap di hadapan-Nya.

Dan ketika Tuhan mengambil keputusan untuk memanggil Ani, SBY tak kuasa menahan pilu. Pada detik ketika Ani menghembuskan nafas terakhirnya, ia tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang hilang, meninggalkan sebuah ruang kosong di dalam hatinya. Ruang kosong itu membuatnya begitu merana, sebab selama 43 tahun kebersamaannya dalam keluarga, ruang itu selalu terisi oleh Ani, seorang yang telah mengukir perjalanan panjang dan telah mewarnainya dengan segala suka dan duka.

Maka ia pun tersedu. Ia tak peduli orang menganggapnya cengeng. Statusnya sebagai seorang tentara berpangkat jenderal yang terbiasa tegar seakan ditanggalkannya. Ia tak ingin melawan perasaannya. Hanya karena cinta, dan hanya oleh cinta yang teruji oleh waktu dan zaman, SBY menangisi jasad Ani. Ia ikhlas melepas kepergian istrinya, tetapi cinta dalam hatinya seakan ingin menahannya agar selalu bisa bersama lagi. SBY hanya seorang manusia biasa.

Sebagai seorang manusia biasa itu pulalah, empatpuluhan tahun yang lalu, ia pun memiliki kisah cinta. Ia jatuh cinta kepada Ani pada pandangan pertama. Kala itu ia adalah seorang pemuda taruna Akmil (Akabri) di Magelang tingkat empat. Ani, putri dari Gubernur Akmil Mayjend. Sarwo Edhie Wibowo yang sedang ‘main’ di Lembah Tidar itu melihat SBY ketika sedang menghadap ayahnya. “Ia dewasa sekali,” aku Ani dalam suatu wawancara dengan sebuah majalah.

Ani yang muda dan cantik begitu terpikat oleh kesantunan SBY. Bukan hanya kesantunannya tetapi juga kecerdasannya dan kegagahannya. SBY yang berpostur tinggi terus mengisi pikirannya apalagi ketika mengenakan seragam taruna. Ia seperti Arjuna, demikian kekaguman Ani kepada idaman hatinya.

Ani yang kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta dan SBY yang menjalani pendidikan di Magelang terpaksa menjalin cinta lewat surat. Terlebih lagi ketika Ani mengikuti ayahnya yang ditugaskan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, surat adalah penyampai pesan yang setia dan selalu dinantikan dengan berdebar-debar.

Ketika Ani merasa siap dipersunting oleh SBY, ayah SBY di Pacitan, Soekotjo, mengingatkannya agar tidak terlalu jauh berangan-angan. Masa anak seorang Pembantu Letnan Satu berhasrat mempersunting anak seorang Mayor Jenderal? Tetapi ternyata ayah Ani tidak keberatan sama sekali. Sebagai taruna yang dididik dalam pengawasannya tentu ayah Ani mengenal dengan baik calon menantunya itu.

Maka menikahlah mereka di Jakarta pada tanggal 30 Juli 1976, sesaat sebelum SBY berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan Airborne dan Ranger. Dari pasangan ini, lahirlah Agus Harimurti Yudhoyono di tahun 1978 dan Edhie Baskoro Yudhoyono di tahun 1980.

Ani, putri seorang tentara yang kemudian menikah dengan seorang tentara tentu tidak pernah mengeluh sering ditinggal oleh SBY dalam tugas. Karakternya yang lugas telah terbentuk sejak kecil. Ia menjadi pendamping SBY yang sangat dewasa, tidak cengeng dan bukan seorang sosok wanita yang melodramatic. Ia ingin suaminya fokus dalam tugas dan berhasil dalam karir, sehingga tak sekalipun ia merecoki dengan urusan rumah yang menjadi tanggung-jawabnya sebagai istri.

Ani dan SBY yang selalu mesra

Bukan hal yang aneh, bahwa Anilah yang banyak menginspirasi SBY dalam keberhasilannya selama karir militer dan karir politiknya. Menjadi Presiden RI selama dua periode bukan perkara main-main. Seandainya SBY tidak memiliki seorang sosok yang kuat dan penuh inspirasi di sampingnya, sejarah akan menulis berbeda.

Ani jugalah yang selalu siap menjadi “bamper” keluarga. Ia tak segan mendamprat netizen yang membully keluarganya, dan untuk hal itu iapun siap dibully balik. Tidak apa-apa, sebagai putri seorang pejuang, karakter ‘fighting’nya sudah terasah dan pada saat tertentu ia perlu menunjukkannya.

Itu pula yang ia tunjukkan ketika berjuang melawan leukemia. Semangatnya tak pernah kendor, optimismenya tak pernah surut. Kita sering mendapat update status dari akun Instagramnya tentang kondisi terkininya. Dari semua status yang terupdate itu, Ani menunjukkan sikap yang tegar dan tak pernah mengeluh. “Saya telah memperoleh banyak kemuliaan sejak dilahirkan sebagai anak pejuang, dinikahi oleh seorang prajurit, menjadi Ibu Negara selama sepuluh tahun. Jika sekarang Tuhan mengijinkan saya menderita leukemia, saya tidak berhak mengeluh atau marah, tetapi harus ikhlas menerimanya,” kata Ani saat dirawat.

Karena sosok Ani itulah, SBY seakan tak ingin meninggalkan Ani sedetikpun ketika Ani dirawat di NUH Singapura. Kita sering melihatnya di media betapa SBY dan Ani selalu terlihat berduaan. SBY yang masih gagah bersama Ani yang lemah di kursi roda. Ia rela melupakan hiruk-pikuk politik pilpres dan pileg demi bisa selalu bersama orang yang ia cintai. Baginya mungkin, politik hanya sebuah arena sementara saja, hanya sampai pemenang berdiri di atas panggung. Tetapi dengan Ani ia sudah melalui perjalanan panjang sejak dari Lembah Tidar Magelang, sebuah perjalanan cinta yang tak ingin ia putus di tengah jalan, sebelum semua berakhir dengan tuntas.

Di pusara TMP Kalibata, 2 Juni 2019, jasad Ani menyatu dengan tanah. Setiap pelayat menaburkan bunga di atas tanah, tetapi Ani menabur bunga di hati Indonesia.

Selamat jalan Ani Yudhoyono. Be strong SBY, AHY dan EBY..!

Di pusara TMP Kalibata

***

3 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan