Peranakan / Tokoh

Ketika Penulis Peranakan “Memotret” Suku Tengger

11/05/2019

“Baroe terbit tjerita tentang keada’an alam, pendoedoek, hikajat, dongeng, oepatjara dan sebaginja dari pegoenoengan Tengger, di mana Tosari tempat tetirah jang terkenal, ada termasoek djoega”

Kalimat ini sekilas memang mirip sajak, tapi bukanlah sebuah sajak. Kalimat ini berasal dari nukilan sebuah iklan penerbitan buku. Ya, ini iklan buku yang bertajuk “Tengger”.

Apa itu Tengger? Tengger adalah sebuah suku yang bermukim di pegunungan Bromo – Tengger – Semeru yang kini masuk dalam wilayah Pasuruan, Purbolinggo, Malang dan Lumajang di Jawa Timur. Salah satu tradisinya yang cukup menarik untuk kita simak adalah tradisi Tugel Kuncung dan Tugel Gombak. Tradisi yang pertama adalah tradisi cukur rambut bagi remaja pria dan yang kedua adalah tradisi cukur rambut bagi kaum perempuannya. Konon upacara ini untuk membuang sial bagi mereka dan wajib diikuti oleh suku Tengger, minimal sekali seumur hidup.

Upacara potong rambut suku Tengger

Kembali ke masalah buku “Tengger” yang diiklankan tadi, konon buku ini diterbitkan tahun 1940, atau tepatnya 5 tahun sebelum Indonesia merdeka dan lima tahun sebelum sang penulisnya menghadap sang khalik. Namun sayang tak banyak yang dapat kita pelajari dari buku ini, karena memang bukunya sudah jarang beredar di masyarakat, kalau tak mau kita bilang tak ada.

Bahkan sinolog kenamaan macam Professor Claudine Salmon saja, hanya meneliti naskah karya penulis peranakan ini melalui lembaran-lembaran iklannya saja. Peneliti asal Prancis ini mengaku sudah tak dapat menemukan buku aslinya, karena keberadaannya memang sudah tidak diketahui lagi rimbanya.

Buku hasil penelitian Claudine Salmon mengenai budaya literasi Asia

Yang jadi menarik, bahwa buku yang berkisah tentang suku terasing Indonesia ini, bukan ditulis oleh kelompok cendikia “Boemi Poetra” atau penulis Belanda, seperti pada umumnya. Naskah ini malah ditulis oleh seorang pengarang bernama Liem Khing Hoo atau biasa dia menggunakan nama pena Romano.

Ketika menulis naskah ini, konon sang penulis harus mendalami budaya Jawa, khususnya suku Tengger dan Banyuwangi. Tak cuma itu, dia juga dikabarkan mempelajari bahasa Kawi (aksara Jawa Kuno) dan juga melahap bacaan-bacaan bernuansa Hindu, selain tentu saja dia mempelarjari masalah sosial budaya Jawa Kuno untuk menyelami suku satu ini.
Yang lebih hebat, ini bukan satu-satunya karya Liem Khing Hoo yang bercerita tentang suku Tengger. Karena kalau kita mau telaah lebih jauh, paling tidak ada tiga cerita lain dengan latar belakang suku yang sama ditulis oleh sang pengarang.

Sebut saja cerpen “Andjarsari” dan “Gandroeng” yang terbit tahun 1929 atau juga “Oejoeng” yang terbit 1932. Jadi betapa menariknya kalau kita kemudian punya kesempatan melihat kembali karya penulis kelahiran Blitar yang bicara soal suku Tengger ini.

Kita pasti kemudian bertanya-tanya siapa sih, Liem Khing Hoo ini? Mengapa karyanya dianggap fenomenal pada masanya?
Dia adalah seorang penulis peranakan Tionghoa yang lahir di Wlingi, Blitar 25 Juli 1905. Keingintahuannya terhadap budaya Jawa, ditularkan oleh ayahnya yang banyak mengoleksi cerita-cerita Jawa Kuno. Dan sepanjang hidupnya (hanya berumur 39 tahun – RED), Liem Khing Hoo memang banyak berkecimpung dalam “dunia wartawan”, posisi terakhirnya di bidang jurnalistik adalah Pemimpin Redaksi Majalah Liberty Surabaya.

Sebagai penulis roman, sebagian besar romannya bergenre etnografis alias berlatar sebuah suku atau daerah di Indonesia. Karya-karya bergenre etnografis miliknya antara lain “Gowok” yakni kisah tentang tradisi masyarakat Banyumas yang menyewa seorang guru seks bagi anak lelakinya untuk menghadapi malam pertama, atau “Dewa Poeti” yakni kisah seorang pemuda suku Baduy Dalam yang terpesona dengan keindahan kota sehingga meninggalkan budayanya.

Atau juga, “Brangti” yang menceritakan pertentangan keluarga terhadap niat seorang anak bangsawan yang ingin mengawini seorang penari di Bali. Padahal di Bali, kala buku ini terbit tahun 1934, orang-orang yang berbeda kasta tak diperkenankan menjalin hubungan asmara karena pasti akan mendapat tentangan, terutama bagi keluarga yang memiliki kasta lebih tinggi. Dan masih banyak lagi karya-karya Liem Khing Hoo yang bersifat fenomenal karena mengkritisi budaya kolot yang ada di negeri ini pada masanya.

Sayang, umur Liem Khing Hoo tidak panjang karena dia meninggal pada 4 April 1945, setelah mengalami berbagai siksaan di kamp tahanan Jepang karena dituding menjadi pelopor gerakan anti Jepang di Pulau Jawa. Walau demikian karyanya akan tetap kita kenang sebagai sebuah asset bangsa.

( Wahyu Wibisana, wartawan, editor dan pemerhati Kesastraan Melayu Tionghoa)

Sumber Tulisan :
*) Sastra Indonesia Awal (Kontribusi Orang Tionghoa), Claudine Salmon, Kepustakaan Populer Gramedia, Cetakan Pertama, Desember 2010
*) Liem Khing Hoo (1905-1945), Tjamboek Berdoeri, budaya-tionghoa.net, 21 Agustus 2012.
*) Upacara Potong Rambut Tengger, Kompas, 24 Februari 2008
*) Liem Khing Hoo, Wikipedia

1 likes
Wahyu

Author

Wahyu