Nasional / Politik / Tokoh

Kala Senja Menyapa Sang Putra Fajar

20/06/2019

Soekarno

Soekarno yang gagah, yang pemberani, yang revolusioner, yang pidatonya menggelegar, ternyata juga Soekarno yang kesepian, yang terkadang berurai airmata, yang takut sendirian, yang hatinya kosong, dan yang jiwanya selalu mengembara.

Ia memang hanyalah manusia biasa, yang kebetulan dikaruniai oleh Tuhan dengan segenap kemampuan yang nyaris lengkap: gagah, tampan, berkharisma saat bicara, cerdas dalam berpikir, memiliki sosok seorang pemimpin, dan.. memiliki jiwa seni yang tinggi. Darah seninya yang rupanya diwarisi dari seorang Ibu berdarah Bali itulah yang membuatnya sangat mencintai keindahan.

Setiap benda betapapun kecilnya pasti mempunyai keindahan, dan aku senang menikmati keindahan itu, keindahan yang diciptakan oleh Tuhan kepada yang diciptakan-Nya,” katanya suatu ketika. Salah satu kegemaran Soekarno adalah menikmati lukisan, terutama lukisan karya Basuki Abdullah yang bergaya naturalis. Dalam bingkai itulah Soekarno tenggelam, bersama dengan angannya yang mengembara tanpa batas. Ia mengoleksi lukisan-lukisan wanita cantik yang digoreskan oleh kuas Basuki Abdullah, juga lukisan-lukisan pemandangan alam Indonesia. Di saat semangatnya berkobar, ia bisa berjam-jam memandangi lukisan samudra yang gelombangnya menampar-nampar batu karang yang teguh berdiri. Dan di saat hatinya gundah, ia terpaku memandangi lukisan sawah, sungai dan gunung berkabut tipis yang membuat hatinya ayem-tentrem.

Selain penikmat karya seni, Soekarno juga bisa melukis. Ia pernah melukis pemandangan pantai yang tenang dengan pebukitan terjal di sepanjang pantai, juga melukis seorang wanita dengan kebaya berwarna hijau.

Jauh sebelumnya, pada suatu masa Soekarno terpaksa harus mengekang jiwanya untuk menikmati keindahan demi perjuangan meraih cita-cita kemerdekaan. Ia menyekap perasaannya yang begitu memuja keindahan dan mengalihkan perhatiannya kepada revolusi. “Aku terpesona oleh revolusi. Revolusi melonjak, berkedip, mengguntur hampir di setiap penjuru bumi. Teruslah mengipasi kobaran api dan menjadi kayu bakar yang memberi makan api revolusi!” teriaknya membakar semangat di masa pergolakan.

Tetapi naluri keindahannya ternyata tak pernah mati. Ia bagai sebuah bara yang hanya meredup sementara tetapi kemudian pelan-pelan berpijar dan apinya menyala kembali. Lalu di masa damai iapun menyusuri waktu dan mencari keindahan-keindahan yang tersembunyi. Sikapnya yang gallant terhadap wanita membuatnya dikagumi oleh banyak wanita, tetapi sekaligus menariknya masuk dalam sebuah labirin.

Selama ia menjabat Presiden, jiwanya selalu dahaga manakala ia merasakan kesepian. Di saat-saat seperti itu ia merindukan sosok wanita yang bisa menjadi istrinya, dan wanita yang mampu menjadi sahabatnya sekaligus menjadi ibunya. “Aku telah memperhatikan, kalau engkau membelah dada seorang laki-laki termasuk aku sendiri maka akan terbaca dalam dadanya itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si isteri merupakan perpaduan dari seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin diibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijitnya. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Manakala bajuku koyak, aku ingin istriku menambalnya,” katanya. Betapa kerinduan yang sederhana dan sangat manusiawi.

Tetapi pencariannya akan wanita yang sempurna dengan tiga peran sekaligus itu tak pernah ia temukan sepanjang hidupnya. Soekarno rupanya membutuhkan istri yang bukan sekadar menjadi istri tetapi juga menjadi sahabat, karena ia adalah seorang yang cerdas yang butuh sparing-partner sebagai teman ngobrol, diskusi, agar jiwanya yang membuncah dengan inspirasi itu bertemu dengan kecerdasan orang terdekatnya. Dan ia juga membutuhkan istri yang dapat mendekap jiwanya yang meletup-letup lalu mendinginkannya dalam belaian sayang seorang Ibu.

Maka Soekarno bagaikan sebuah kapal yang tak pernah berlabuh lama. Setelah pelayarannya mengarungi lautan kehidupan bersama dengan tiga istrinya terdahulu – Oetari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, dan Fatmawati – ia melabuhkan jangkarnya kepada enam wanita berikutnya yang masing-masing memiliki kisah cinta sendiri-sendiri. Tetapi dari sembilan istrinya itu, sepertinya Naoko Nemoto, seorang wanita Jepang yang ia taklukkan ketika melawat ke Jepang di tahun 1959 lah yang mendapatkan tempat paling istimewa di hatinya. Nemoto menyisihkan wanita-wanita lain yang pernah mengisi hidupnya. Pada tahun 1962 mereka menikah secara Islam, dan Soekarno memberi nama baru kepada istrinya itu: Ratna Sari Dewi.

Soekarno dan Ratna Sari Dewi

Sebuah surat dari Soekarno tertanggal 6 Juni 1962 menulis, “Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku.

Semua orang menilai bahwa Ratna Sari Dewi yang terpaut usia 39 tahun dengan Soekarno itu memang paling cantik dibandingkan dengan istri-istri Soekarno yang lain. Boleh jadi Soekarno menuliskan surat itu karena perasaan sentimental-nya yang hanyut karena kecantikan Dewi. Soekarno bagai menemukan kemudaannya kembali dalam sketsa keindahan lukisan Dewi yang memabukkan. Mungkin juga di kala senjanya waktu itu ia begitu tertekan oleh situasi politik ditambah pula dengan kerunyaman urusan istri-istrinya yang lain, sehingga kehadiran Dewi seperti melenakan jiwanya dari segala kepenatan.

Tetapi masa-masa indah bersama sang dewi nan jelita itu tak berlangsung lama. Peristiwa G30S di tahun 1965 memukul Soekarno dari segala arah. Kekuasaannya dipreteli, dari seorang yang sangat powerful menjadi lame-duck, dari seorang yang dipuja menjadi seorang yang terhina. Ia tersisih dari panggung yang menjadikannya singa podium. Lalu pelan-pelan gerak raganya dibatasi, dan jiwanya diamputasi.

Dalam tahanan rumah ia begitu terasing dan sendiri. Sahabat-sahabatnya yang ingin menjenguknya dipersulit kalau tidak bisa dikatakan dilarang. Bahkan keluarganya sendiri tidak memiliki kemewahan waktu untuk menemaninya di saat-saat yang paling menyiksa batinnya, kecuali Hartini, istrinya yang keempat. Lalu tiba-tiba apa yang sangat ditakutkan oleh Soekarno menghampirinya: kesendirian dan kesepian. Bukankah Soekarno adalah seorang yang jiwanya selalu bergolak, merdeka, dan tak bisa sendiri? Kesendirian adalah momok yang paling mengerikan baginya.

Selama tiga tahun ia terasing, tubuhnya yang menua makin lemah karena digerogoti sakit ginjal. Kesakitan itu mungkin masih bisa ia tahan sebagai seorang pejuang, tetapi jiwanya yang merana lebih menyiksanya. Ratna Sari Dewi, pujaan hatinya dibiarkannya meninggalkan Indonesia dalam keadaan mengandung anaknya agar mereka tidak menjadi korban politik. Tim dokter kepresidenan yang merawat Soekarno dan memegang rekam medisnya dibubarkan oleh penguasa. Sejak itu, Soekarno yang perkasa tumbang pelan-pelan. Jika mau, sebenarnya ia masih bisa memberikan satu komando kepada para loyalisnya untuk melakukan perlawanan, tetapi ia tak mau melakukannya. “Biarlah aku yang robek dan hancur daripada anak-anak bangsaku terluka karena perang saudara,” katanya lemah di tempat tidur.

Itulah waktu yang terentang di ujung senja bagi Soekarno. Tak ada warna jingga pada senja itu, tak ada semburat warna tembaga pada senja itu. Hanya awan kelabu kehitaman menggayut di langit, yang sebentar kemudian terusir oleh gelapnya malam.

Soekarno di kala senjanya

Pada hari Minggu, 21 Juni 1970, ketika fajar baru menyingsing, anak-anak Soekarno dari Fatmawati mengerumuni tubuhnya yang tergolek di atas tempat tidur. Masih terlihat dadanya naik-turun dengan pelan, nadinya masih berdenyut dengan lemah. Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya yang bibirnya terkunci tetapi berusaha untuk mengikutinya. Sayangnya kalimat itu tak sampai selesai. Soekarno mengucapkan kata “Allah…” sebagai kata akhir, sebagai ucapan selamat tinggal, tepat di jam 07.07.

Sang Putra Fajar, Proklamator, Pemimpin Besar Revolusi, yang lahir enam puluh sembilan tahun sebelumnya tatkala fajar merekah, telah kembali kepada Sang Pencipta dengan dihantar oleh fajar yang dulu menyambut kelahirannya.

Bunga mawar tidak pernah mempropagandakan harumnya, namun keharumannya sendiri menyebar melalui sekitarnya.–Soekarno

***

7 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan