Nasional / Tokoh

HR Rasuna Said: Singa Podium Pergerakan Perempuan Indonesia

21/12/2020

Tags: , ,

Majukan perempuan dengan pendidikan agar mereka merdeka.

HR Rasuna Said

Kalau menapaki kawasan Kuningan di Selatan Jakarta, pastilah kita akan sering melewati Jalan HR Rasuna Said. Jalan ini cukup terkenal karena di jalan ini banyak sekali gedung kedutaan besar negara sahabat dan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdiri. Tak hanya itu, di kawasan ini juga ada bangunan paling ikonik yakni Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro.

Tapi mungkin tak banyak yang sadar siapa sosok H.R. Rasuna Said yang namanya diabadikan menjadi nama jalan utama tersebut. Dia adalah nama pahlawan emansipasi wanita asal Sumatera Barat yang giat memperjuangkan hak-hak kaum Hawa di tanah kelahirannya. 

Nama lengkapnya adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Dia terlahir di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumbar pada 14 September 1910 dari keluarga bangsawan Minang Muhamad Said. Selain saudagar, sang ayah juga dikenal sebagai aktivis pergerakan di wilayahnya. 

Sebagai seorang yang berpikiran moderat, sang ayah tak ragu merogoh koceknya demi menyekolahkan sang buah hati di beberapa jenjang pendidikan. Namun anehnya, meski tergolong mampu, Muhammad Said hanya menyekolahkan anaknya di Sekolah Dasar (SD) kampungnya, dan bukan sekolah dasar Belanda. 

Pemikiran Kritis Rasuna Muda

Selesai dari sekolah rakyat, Rasuna kemudian dikirim untuk melanjutkan pendidikan sebagai satu-satunya santri perempuan di pesantren Ar-Rasyidiyah, bimbingan Syekh Abdul Rasyid. Sampai akhirnya Rasuna menuntaskan pendidikan di Diniyah Putri, Padang Panjang yang didirikan Rahmah El Yunusiah.

Di bawah bimbingan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib, yakni gerakan reformis Islam Sumatera Barat yang dipengaruhi oleh pemikiran Nasionalis Turki, Mustafa Kemal Ataturk, semangat Rasuna kian berkobar. 

Dia mulai memikirkan kemungkinan perempuan-perempuan Minang yang belum dianggap setara dengan kaum laki-laki, dapat memperoleh kemajuan dan pendidikan. Dari sanalah, Rasuna muda kemudian memutuskan untuk berkarir sebagai seorang tenaga pengajar Diniyah Putri pimpinan Rahmah El Yunusiyyah itu. 

Dengan semangat berapi-api, Rasuna muda memberikan orasinya di hadapan para murid tentang pentingnya memerdekakan kaum perempuan. Tak heran kalau kemudian popularitas Rasuna bisa melampaui popularitas Rahmah sang pendiri sekolah itu. Akibatnya, sebagian besar pelajar Diniyah Putri sangat menggandrungi sosok Rasuna, terutama tentang pola pikirnya. 

Melihat semangat para murid, Rasuna kemudian mengusulkan agar elemen pendidikan politik bisa dimasukkan sebagai bahan pengajaran di Diniyah School Putri. Namun gagasannya ini ditolak mentah-mentah para pengurus, apalagi memang Rasuna kurang disukai para guru. Maka secara halus para guru berusaha menyingkirkannya dengan alasan para guru tak ingin Rasuna memberi contoh kurang baik kepada murid-murid sekolah itu. 

Rahmah el Yunisiyah

Rahmah el Yunisiyah

Kritik pedas pada penindasan kaum perempuan

Tekanan demi tekanan terus menerpa, hingga Rasuna akhirnya memutuskan hengkang dari pekerjaannya. Selepas dari kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu, Rasuna pun memutuskan kembali menimba ilmu secara pribadi dengan tokoh intelektual Minangkabau Haji Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul). Haji Rasul ini adalah ayah dari Buya Hamka. 

Haji Rasul merupakan pendiri sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Nama sekolah yang didirikannya adalah Sekolah Thawalib. Haji Rasul juga yang memperkenalkan jenjang kelas, buku teks, dan metode pengajaran teori dan aspek filosofi dalam Islam. Dia juga merupakan pelopor gerakan kaum muda Minangkabau yang cenderung berpikir progresif. 

Di bawah bimbingan Haji Rasul, pemikiran-pemikiran Rasuna semakin terbuka lebar. Dia semakin getol belajar banyak hal tentang perjuangan bangsa dan perlawanan terhadap penindasan kaum penjajah, serta pembaharuan pemikiran keagamaan dan kebebasan berpikir. Secara perlahan namun pasti, gaya perjuangan Rasuna banyak diilhami oleh pemikiran Abdul Karim, sang guru.

Dalam perkembangannya, Rasuna Said juga mulai berpikir bahwa kemajuan kaum perempuan di tempat kelahirannya tak sekadar bisa diperoleh melalui sekolah, namun perlu dilandaskan pada perjuangan politik juga. Rasuna pun kerap membuat kritik kontroversi dalam aksinya, salah satunya tentang poligami di tanah kelahirannya yang langsung viral dan jadi polemik di ranah Minang. 

Dalam kritiknya, Rasuna Said menganggap kebiasaan poligami telah menyebabkan meningkatnya angka kawin cerai dan ini merupakan salah satu bentuk pelecehan terhadap kaum wanita.

Perjuangan politiknya kemudian dimulai dengan memilih beraktivitas sebagai sekretaris Sarekat Rakyat. Selepas itu dia memilih bergabung sebagai anggota di Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Di organisasi ini, Rasuna Said ikut mengajar di sekolah-sekolah milik PERMI. Lepas dari sana, Rasuna kemudian mendirikan Sekolah Thawalib di Padang serta memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukit Tinggi. 

Pada tahun 1930, Rasuna kembali membuat kontroversi. Kali ini dia tak mengkritik kaum Adam, tapi perempuan kelahiran 4 September 1910 ini secara terang-terangan mengkritik pedas penindasan yang dilakukan pemerintah Belanda dalam sebuah pidato politiknya.

Kritik ini kemudian membuat kuping petinggi Belanda di Ranah Minang panas, akibatnya Rasuna bersama rekan seperjuangannya, Rasimah Ismail kemudian dijebloskan dalam penjara di Semarang (1932). Menariknya Rasuna adalah perempuan pertama yang dijebloskan ke penjara dengan menggunakan pasal Speek Delict (Bahasa Belanda -Red), yaitu semacam pasal ujaran kebencian di zaman sekarang. 

Masuk penjara tampaknya tak membuat Rasuna jadi jera. Setelah keluar dari penjara, dia melanjutkan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja dan tetap beraktivitas melancarkan kritik-kritik pedasnya kepada pemerintah Belanda. Hanya saja, arah perjuangannya pasca keluar dari penjara dilanjutkan dalam bidang tulis-menulis (jurnalistik). Kritik-kritik pedasnya kerap menghiasi media massa, hingga akhirnya pada 1935 Rasuna ditunjuk menjadi pemimpin redaksi Majalah Raya. Namun karena ruang geraknya terus diberangus oleh Belanda, Rasuna pun memilih hijrah ke Medan dan mendirikan sekolah Perguruan Putri, sambil juga menerbitkan majalah Menara Putri sebagai saluran baginya untuk bersuara.

Ketika terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke pendudukan Jepang, Rasuna Said pun aktif menjadi pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Walau kemudian organisasi itu dibubarkan oleh Pemerintah Jepang. Tak mau berhenti di sana, Rasuna bersama Khatib Sulaiman juga aktif memperjuangkan dibentuknya barisan Pembela Tanah Air (PETA). Laskar inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sekolah Thawalib - Rasuna Said

Sekolah Thawalib

Akhir Perjuangan Rasuna Said

Perjuangan Rasuna tak berakhir ketika Indonesia berhasil merengkuh kemerdekaannya, karena tokoh emansipasi perempuan ini tetap menyuarakan aspirasinya melalui Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Sesudah itu Rasuna terpilih sebagai anggota  Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatra Barat dan kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS) dan terakhir menjadi Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. 

Rasuna menghembuskan nafas terakhirnya setelah digerogoti kanker darah pada tanggal 2 November 1965. Dan oleh pemerintah, Rasuna Said dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. 

Hingga kini orang tetap mengenalnya sebagai sosok “Singa Betina Pergerakan Indonesia Merdeka” karena kepiawaiannya dalam melakukan orasi politik.

***

1 likes
Wahyu Wibisana

Author

Wahyu Wibisana