Nasional / Tokoh

Dr Soetomo ; Antara Nasionalisme dan Romantisme

17/05/2019

Tags: ,

“Poenika satoenggaling pedamelan saé serta nélakaken boedi oetami (Ini meroepakan perboeatan baik serta mentjerminkan keloehoeran boedi) ”

Penggalan kalimat ini muncul ketika dr Soetomo bertemu dengan dr Wahidin Soedirohoesodo dalam sebuah acara di sekolah STOVIA, Batavia pada tahun 1907. Kata-kata ini berikut cerita soal mimpi Wahidin membangun sumber daya manusia dalam menentang “perangkap kebodohan” yang diciptakan penjajah, begitu membekas di hatinya. Soetomo muda pun terinspirasi untuk membela rakyat negerinya.

STOVIA – Sekolah kedokteran tempat Soetomo menempuh pendidikan

Apalagi pasca perjumpaan dengan Wahidin tersebut, Soetomo kembali disambangi sahabatnya dr Danoedirdja Setjaboedi alias Douwes Dekker, seorang Indo Belanda yang berjuang untuk membela rakyat kecil dari penjajahan lewat “dunia politik” bersama Ki Hadjar Dewantara dan dr Tjipto Mangoenkoesumo.

Letupan-letupan semangat perlawanan ini kian menggugah pola pikir pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur 30 Juli 1888 ini untuk mendirikan sebuah organisasi modern pertama di Indoensia. Tanpa banyak basa-basi lagi, bersama kawan-kawannya di STOVIA seperti Soelaiman, Soewarno, Goenawan Mangoen Koesoema dan lain-lain, Soetomo muda mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Nama Boedi Oetomo sendiri terinspirasi dari kata-kata dr Wahidin tadi.

Dalam waktu singkat, organisasi ini berhasil mengumpulkan sejumlah mahasiswa STOVIA untuk bergabung melakukan “perlawanan” dan hal ini kemudian ditentang oleh sejumlah dosen di STOVIA karena gerakan Boedi Oetomo dianggap sebagai gerakan makar terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Bahkan Soetomo pun diancam akan didrop out (DO) dari bangku kuliah karena menjadi penggerak organisasi tadi.

Beberapa anggota Boedi Oetomo

Beruntung Rektor STOVIA, dr H Roll malah mendukungnya, bahkan Roll malah memberi “modal” berupa uang pinjaman kepada Soetomo untuk menyelenggarakan kongres Boedi Oetomo untuk kali pertama di Yogyakarta.

Berkat sokongan sang rektor, Boedi Oetomo secara perlahan namun pasti mulai bertumbuh secara luar biasa. Dalam tempo tak terlalu lama, anggotanya mencapai angka 10.000 orang dengan 40 cabang baru di berbagai kota Indonesia. Organisasi ini pun kemudian yang menginsipirasi pergerakan pemuda Indonesia lain untuk melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda dengan caranya masing-masing. Inilah yang menyebabkan Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal 20 Mei (hari kelahiran Boedi Oetomo) sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Ternyata selain mengelola organisasi, Soetomo juga aktif menjadi wartawan salah satunya di majalah bulanan Goeroe Desa yang digagasnya. Lewat media ini, dia menerbitkan beberapa petisi untuk meminta Pemerintah Hindia Belanda meningkatkan mutu pendidikan bagi rakyat jelata. Bahkan ketika Boedi Oetomo berubah haluan dengan terjun ke “dunia politik pada tahun 1915, organisasi ini kembali membentuk organ pers yang diberi nama surat kabar Boedi Oetomo (terbit di Bandung dan Yogyakarta).

Selain di Boedi Oetomo, dr Soetomo juga terlibat dalam Indonesische Studieclub Surabaja (ISC) sejak 27 Juli 1924. Awalnya, kelompok ini hanya ditujukan bagi para cendekiawan Surabaya, namun akhirnya bermunculan kelompok studi sejenis di Kota Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Solo.
Pada 1925, dr Soetomo meninggalkan Boedi Oetomo yang dinilainya terlalu primordial (kejawa-jawaan) dan memilih konsen pada ide-ide nasionalis dalam Indonesische Studie Club yang kemudian menyalurkan ide-idenya lewat surat kabar bulanan “Soeloeh Indonesia”. Koran ini kemudian dimerger dengan majalah Indonesische Studie Club Bandung dan diberi nama “Soeloeh Indonesia Moeda”.

Karena perubahan bentuk perjuangan “Soeloeh Indonesia Moeda”, dari nonkooperatif jadi kooperatif, pada 16 Oktober 1930, Soetomo beserta para pengurus sepakat menghapus ISC dan mengubahnya jadi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI) dan menerbitkan harian Soeara Oemoem menggantikan Soeloeh Indonesia Moeda. Tak hanya sampai di situ, Soetomo pun ikut berperan dalam menerbitkan sejumlah media tanah air seperti Tempo (Yogyakarta), Panjebar Semangat dan Pedoman.

Sisi Lain

Dari tadi kita hanya membahas dr Soetomo dari sisi pergerakan nasionalismanya, namun tak banyak sumber yang mengungkapkan sisi lain dari dokter ini. Sebenarnya, jika digali lebih dalam, ada banyak sekali sisi menarik dari kehidupan Soetomo ini.

Secara garis keturunan, Soetomo bukanlah rakyat biasa. Dia berasal dari kalangan priyayi karena dia adalah anak dari pasangan Wedana Maospati Malang yang bernama Raden Soewaji dan Soedarmi, Tapi Soetomo tetap tumbuh seperti layaknya anak-anak biasa.

Soetomo dan keluarga besar

Namun ini yang menarik, saat dilahirkan kedua orang tuanya memberi nama padanya sebagai Soebroto, bukan Soetomo. Dan sedari kecil, Soetomo sudah dititipkan pada kakek dan neneknya, baru pada saat menginjak masa sekolah, Soetomo diajak pamannya untuk tinggal di rumahnya dengan maksud melanjutkan sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) alias sekolah rendah Bumiputera. Sayang, Soebroto tak diterima bersekolah di sana.

Tapi sang paman tak kehilangan akal, beberapa hari kemudian, dia kembali mendaftarkan keponakannya dengan nama Soetomo dan kali ini si bocah cilik diterima di sekolah itu. Maka sejak saat itu, nama Soebroto tak lagi digunakan, dan nama Soetomolah yang menjadi nama baru tokoh pergerakan nasional ini hingga lulus sebagai dokter di STOVIA.

Pasca menjadi dokter, Soetomo bekerja ke berbagai daerah termasuk salah satunya menghadapi wabah pes di Blora pada tahun 1917. Tapi siapa mengira, kalau di kota kecil itu Soetomo malah mendapatkan jodohnya, yakni seorang perawat Belanda bernama Everdina Broering.

Cinta mereka bersemi, ketika Broering mendapat tugas dari Pemerintah Hindia Belanda untuk membantu para dokter menghadapi wabah penyakit pes di Blora. Kala itu, Soetomo kerap diminta untuk menjemput suster Broering di statsiun. Ibarat pepatah tresno jalaran soko kulino (cinta datang karena sering bertemu), kedua pasangan ini pun akhirnya memutuskan untuk memadu kasih.

Tapi kisah cinta mereka tak berjalan mulus, karena bukan saja mereka berbeda budaya, tapi mereka pun berbeda keyakinan. Itulah yang membuat percintaan kedua sejoli ini ditentang keluarga masing-masing. Hanya keteguhan cinta mereka yang membuat kedua insan tetap melangsungkan pernikah beda agama itu di Blora, tepatnya ketika mereka masih berjibaku menghadapi wabah penyakit pes di sana.

Foto pernikahan Soetomo dan Everdina

Sejak itu, kedua pasangan seperti tak terpisahkan. Ke mana saja Soetomo pergi, Everdina pasti mendampingi. Ketika Soetomo mendapat beasiswa berangkat ke Belanda, Everdina pun ikut serta. Begitu pula ketika Soetomo kembali ke Indonesia. Bahkan kehadiran sang isteri yang orang Belanda pun, sama sekali tak mengganggu aktivitas Soetomo sebagai pejuang dan aktivis pergerakan menentang penjahana negeri sang isteri.

Namun malang tak dapat dihindari, ketika Soetomo mendapat tugas di Surabaya, Everdina menderita penyakit asma akut. Diagnosanya, Everdina tak cocok dengan cuaca panas kota buaya itu. Maka kemudian, Soetomo terpaksa mengungsikan sang isteri ke Malang dan ditengok 2 kali dalam sebulan.

Kabar duka kemudian datang pada tanggal 13 Februari 1934, karena sang isteri tercinta menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit yang dideritanya. Namun yang menarik, sejak kematian isterinya, Soetomo tak pernah lagi mau menikah meski sang isteri tak memberinya seorang anak. Bahkan pilihannya untuk tetap melajang pasca kematian Everdina dapat dipertahankan sampai ajal menjemputnya 30 Mei 1938.

5 likes
Wahyu

Author

Wahyu