Peranakan / Tokoh

Azmi Abubakar, Putera Aceh Sang Pembela Etnis Tionghoa

13/02/2021

Tags: , , ,

“Salah satu anugerah Tuhan bagi Indonesia adalah orang-orang Tionghoa”

Azmi Abubakar, Putera Aceh Sang Pembela Etnis Tionghoa - Toetoer.com

Ungkapan ini muncul dari mulut seorang Azmi Abubakar, pendiri dan inisiator Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang terletak di bilangan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan ini. 

Dia mungkin adalah salah satu dari sekian tokoh di tanah air yang begitu giat menyuarakan peran orang Tionghoa dalam sejarah perjuangan bangsa ini.

“Ada banyak sekali peran orang Tionghoa di negeri ini yang belum diketahui oleh orang-orang selain Tionghoa atau bahkan orang Tionghoa sendiri. Di museum kami ada puluhan ribu buku hasil karya pengarang keturunan Tionghoa yang berhasil kami kumpulkan. Dan luar biasa ada catatan-catatan penting jasa orang Tionghoa bagi negeri ini,” ujar Azmi kala berjumpa dengan penulis beberapa waktu lalu.

Sayang, catatan-catatan ini seperti “dihapuskan” dari catatan sejarah bangsa hanya karena ulah segelintir orang yang tak ingin hal ini terekspose. Sehingga kemudian masyarakat Indonesia kebanyakan menganggap tak ada peran penting dari komunitas Tionghoa di negeri ini.

“Di sinilah, Museum Pustaka Peranakan Tionghoa memberikan informasi penting yang selama ini terkubur dalam-dalam. Informasi fakta sejarah perjuangan luar biasa orang-orang Tionghoa di bumi pertiwi ini, yang membentang dari Aceh sampai Papua. Karena orang Tionghoa hadir dan memiliki rekam-jejak hebat di negeri ini,” kata Azmi lagi.

Kegalauan-kegalauan itulah yang kemudian membuat, pria berdarah Aceh ini mencoba membuka sebuah museum yang khusus berisi buku-buku tentang Tionghoa sejak tahun 2011. Semula koleksi museum ini adalah koleksi pribadi yang dia kumpulkan, setelah cukup banyak kemudian mulai diinventarisir dan mulai dibuka untuk publik. Menariknya justru di awal-awal, museum ini lebih banyak dikunjungi oleh peneliti-peneliti dari luar negeri. Baru kemudian setelah dikenal cukup luas, belakangan peneliti lokal mulai berdatangan dan akhirnya banyak juga orang awam yang mulai tertarik mengunjungi museum ini.

Azmi Abubakar, Putera Aceh Sang Pembela Etnis Tionghoa - Toetoer.com

“Latar belakang berdirinya museum ini yaitu kegemaran saya mengoleksi buku-buku tentang etnis Tionghoa. Ketika terjadi peristiwa kerusuhan Mei 1998, banyak saudara kita dari etnis Tionghoa mengalami tindakan yang di luar perikemanusiaan, juga berbagai tindakan yang tak akan dapat kita tolerir,” ceritanya. “Ketika saya identifikasi, ternyata itu terjadi akibat minimnya informasi soal peran dan jasa etnis Tionghoa bagi negeri ini, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan,” kata pemandu Azmi Show di Radio Heartline ini.

Azmi menyatakan, kondisi itu diperparah dengan adanya “fitnah kejam” bahwa etnis Tionghoa adalah kaum yang bersama Belanda menjajah negeri ini. Bahkan ada stigma negatif lain bahwa golongan Tionghoa pro terhadap komunisme, hingga hal ini menggiring opini masyarakat luas bahwa orang-orang Tionghoa tidaklah nasionalis dan stigma negatif lainnya.

“Data-data menyesatkan seperti inilah yang coba kami sanggah lewat kehadiran pustaka-pustaka, baik itu buku, majalah, surat kabar bahkan catatan pribadi tokoh Tionghoa sendiri. Ternyata kalau mau ditelusuri ada banyak sekali jasa kaum peranakan Tionghoa yang selama ini tak terkuak, inilah yang kami ungkapkan,” katanya.

Kisah-kisah kepahlawanan orang Tionghoa nyaris lenyap dari ingatan bangsa ini, terutama kalangan generasi muda, baik dari kelompok Tionghoa maupun non Tionghoa. “Dari generasi muda Tionghoa pun tak menyadari kalau leluhur mereka adalah para pejuang tangguh dalam merebut dan mengisi kemerdekaan RI bersama-sama dengan etnis lainnya di Indonesia,” cetus pria kelahiran 3 Maret 1972 ini.

Siapa Azmi?

Azmi Abubakar, Putera Aceh Sang Pembela Etnis Tionghoa - Toetoer.com

Ini yang menarik dari sosok pria satu ini. Selain dia berasal dari suku Aceh, pria lulusan Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong ini, ternyata adalah anak dari seorang tokoh agama Islam yang cukup dikenal luas. Sehingga tentu orang heran mengapa dia mau terjun membela kaum minoritas Tionghoa di Indonesia.

Tak ada sama sekali ciri-ciri ketionghoaan yang ada dalam pria yang mendirikan Forum Silaturahmi Pemuda Betawi UNC dan Sekjen Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh Nusantara ini. Namun hatinya tergugah ketika membaca tentang kisah kepahlawanan Kapitan Sepanjang, Liem Koen Hian, John Lie dan sebagainya, ada kekaguman yang luar biasa membuncah dari dalam hatinya.

“Saya tergetar dengan begitu melimpahnya kisah-kisah hebat orang Tionghoa di segala aspek kehidupan berbangsa. Tapi mengapa bagian ini tak pernah muncul dari buku-buku sejarah, sejak SD sampai SMA, dan tak ada yang menyinggung nama-nama besar tersebut?” tuturnya.

Sejak itulah dia mulai melakukan pembelaan demi pembelaan, khususnya di bidang literatur yang selama ini jarang digarap orang. Tak sekadar membeberkan literatur, dia juga kemudian aktif menjadi pembicara di berbagai forum diskusi baik di dalam negeri maupun luar negeri mengenai masalah Tionghoa dan kebhinekaan.

Sebut saja dia pernah memberi ceramah umum tentang kewarganegaraan di Universitas Ciputra, lalu menjadi narasumber seminar “Menyingkap Sejarah Peranakan Tionghoa dalam Pendidikan Nasional” di Sekolah PaHoa, lalu jadi narasumber di Forum Dialog Kementerian Dalam Negeri dengan tema “Kita Bhinneka, Kita Indonesia.” Dan masih banyak lagi.

Untuk Forum Internasional, Azmi juga pernah menjadi narasumber Konferensi Internasional  Tionghoa Indonesia di Monash University Australia dan Seminar Internasional “Interaksi Dunia Melayu – China di Bawah Inisiatif Laluan Sutera” di Universitas Malaya.

Tak sekadar menjadi pembicara, Azmi juga menjadi orang Aceh pertama yang ditunjuk menjadi Dewan Pakar Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Begitu banyak jasa pria yang pernah menjadi juru runding dan inisiator Perdamaian Aceh ini terhadap etnis Tionghoa, sehingga dia pun kemudian dianugerahi nama Tionghoa oleh Paguyuban Marga Tionghoa Indonesia. Dia diberi nama Lim Se Ming dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dalam kegiatan rapat kerja nasional (Rakernas) PSMTI, Sabtu (16/11/2019) lalu.

Atas pemberian nama itu, Azmi menyampaikan rasa hormatnya karena sudah diperkenankan menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Tionghoa. “Satu kehormatan dan kemuliaan dapat menjadi bagian dari keluarga besar orang Tionghoa Indonesia,” tulis Azmi pada laman facebooknya kala itu.

***

0 likes
Wahyu Wibisana

Author

Wahyu Wibisana