Sastra

MEMBALUT LUKA LAMA

23/05/2020

”Kita dulu mengira bapak-bapak kita adalah dua musuh bebuyutan yang tak terdamaikan. Ternyata, mereka dua sahabat karib, bahkan memanggil dengan panggilan “saudara”. Bukannya itu justru sangat menggembirakan?” — Kambing dan Hujan, hlm. 152

 

Mif dan Fauziah saling mencintai. Tapi hampir tak mungkin bagi keduanya untuk menikah. Bukan karena beda agama, mereka hanya berbeda keyakinan. Mif adalah orang Muhammadiyah, Islam modern. Sedangkan Fauziah NU, Islam tradisional. Keduanya anak dari pimpinan masing-masing masjid di desanya. Mereka seolah dipisahkan oleh sebuah tirai tak terlihat bernama ego.

Menarik. Buku Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Sungguh sangat layak diapresiasi, karena pria lulusan Sastra Indonesia UGM ini berhasil dengan apik membahas persoalan sensitif yang masih terjadi sampai sekarang. Masalah perbedaan aliran dalam satu agama. 

Mahfud mengambil setting latar di sebuah desa kecil di Jawa Tengah bernama Centong. Di desa itu terdapat dua masjid. Masjid selatan dengan Islam tradisionalnya yang bernaung di bawah organisasi NU, dan masjid utara dengan Islam pembaharunya yang bernaung di bawah organisasi Muhammadiyah. Tentu kedua masjid ini tak terhindarkan dari konflik berkepanjangan.

Cerita diawali dengan ingin kaburnya Fauziah dari rumah karena dia tak kunjung mendapat restu dari orang tuanya untuk menikah dengan Mif. Tentu hubungan mereka berjalan sembunyi-sembunyi. Sampai saat yang tak bisa mereka tahan mereka pun meminta restu orang tua masing-masing agar dapat bersanding menjadi suami-istri. Bukanya mendapat persetujuan, Mif dan Fauziah justru mendapat cerita mengenai masjid utara dan selatan.

Kambing dan Hujan. Meski didominasi oleh kisah roman, novel ini masih menarik. Sebab tidak saja roman yang manis-asam yang disuguhkan, pun tentang isu-isu yang bersangkutan seputar norma agama di kehidupan sosial diceritakan dengan sangat teliti.

Perselisihan yang terjadi bukan hanya masalah perbedaan aliran Islam yang mereka anut. Namun sedikit lebih rumit dari itu. Dulunya Is, ayah Mif, bersahabat baik dengan Mat, ayah Fauziah. Mereka sekolah di sekolah SR yang sama hingga lulus bersama.

Is anak seorang petani miskin. Untuk membantu orang tuanya dia harus menggembalakan kambing-kambing milik tetangganya. Berbeda dengan Mat, anak seorang pimpinan masjid yang saat itu hanya ada satu, tentunya Mat lebih berada. Is sering meminjam buku catatan Mat untuk belajar.

Mereka berdua sering menggembala kambing bersama di tempat favorit mereka, Gumuk Genjik. Orang-orang menganggap tepat itu angker sehingga sering memberi sesajen. Is dan Mat yang rajin mengaji tidak percaya dengan hal semacam itu. Sesajen dari masyarakat pun mereka yang makan.

Novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan

Setelah lulus dari SR Mat melanjutkan nyantri di pondok pesantren Jombang, Jawa Timur. Sedangkan Is, yang meskipun lebih cerdas, tak bisa melanjutkan pendidikan karena keluarganya yang miskin. Tak berarti Is berhenti belajar sampai disini. Dia bertemu dengan seorang guru yang sangat ia kagumi bernama Cak Ali. Menurut Is, Cak Ali adalah orang yang sangat luar biasa.

Kedatangan tokoh Cak Ali inilah konflik permulaan dari konflik di Centong. Mahfud menggambarkan sosok Cak Ali sebagai orang yang berwawasan luas dengan ide-ide pembaharuannya mengenai Islam. Dia juga cukup luwes dalam bicara yang dibuktikan dengan banyaknya pemuda yang lebih tertarik untuk belajar padanya. Juga dengan banyaknya koneksi yang ia punya. Namun Cak Ali tidak pernah diketahui asal-usul pendidikannya.

Awalnya kedatangan Cak Ali tidak begitu merisaukan. Orang-orang tua justru senang karena anak-anak mereka lebih rajin ke masjid. Namun setelah tahu apa yang diajarkannya. Pemuka masjid dan orang penting desa, yang kebetulan adalah keluarga besar Mat, begitu menentang ajaran yang dibawa oleh Cak Ali. Mereka berpendapat ajaran Cak Ali berbeda dengan Islam yang dibawa nenek moyang mereka, juga jauh dari ajaran Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya.

Pertentangan ini pada mulanya tidak mempengaruhi persahabatan Is dan Mat. Is bahkan memesan kitab pada Mat untuk dipinjamnya. Mereka bertukar pengetahuan, berdebat, bertengkar lalu damai lagi. Namun di sela-sela pergumulan mereka, Is tak pernah lepas dari cerita Cak Ali. Itu sedikit mengganggu Mat.

Si penulis cerita, Mahfud, pria yang aktif dalam Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI) ini juga menyinggung sedikit soal kejadian tahun 1965 dimana perpecahan dua masjid benar-benar dimulai. Konflik ini digambarkan ketika Cak Ali dan murid-muridnya sepakat untuk menjalankan shalat Jumat tanpa shalat sunnah dua rakaat sebelumnya. Kebiasaan ini berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya. Hingga terjadilah keributan.

Mahfud Ikhwan, sang penulis

Cak Ali dan beberapa muridnya sempat dibawa ke kantor polisi. Bahkan sempat dituduh komunis. Namun mereka dibebaskan karena selain Cak Ali punya kenalan mereka juga tak terbukti bersalah. Karena peristiwa ini Cak Ali dan dan muridnya berinisiatif untuk membangun masjid sendiri di bagian Utara desa.

Beberapa waktu kemudian meletuslah peristiwa G30S dan membuat warga yang tadinya risau akan adanya Cak Ali, murid-muridnya, dan ajarannya kini mau tak mau harus menerima mereka dengan hati legowo. Sayangnya ini tak bertahan lama. Keributan kembali terjadi. Kali ini terjadi adu jotos antara keponakan Pak kades, sepupu Mat, dengan murid Cak Ali yang berakhir dengan keponakan pak kades masuk bui.

Is, bagi sebagian besar dari kami, seperti kambing dan hujan–sesuatu yang hampir mustahil dipertemukan.

Kambing dan Hujan, sebuah judul cover yang mungkin sangat tidak menarik bagi sebagian orang. Namun ketika setiap lembaran cerita diselami lebih dalam, pemilihan diksi yang apik membuat pembaca paham pada kondisi pelik yang dialami para tokoh di dalamnya, 50 tahun yang lalu. Benturan cara bertutur Mahfud yang tiba-tiba membolak-balikkan alur, perubahan cara pandang menjadi “tuhan” dan “hamba” menggambarkan pesan sejarah yang sangat kaya, namun tanpa menggurui sama sekali.

Pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta ini sangat memberi banyak pelajaran. Terkadang terjadinya konflik bukan karena kepentingan ideologi semata namun juga mengenai ego, keangkuhan, kedudukan, atau kekaguman berlebihan pada seseorang.

Karena taklid jenis baru ini,” Pakde War Meneruskan, “beberapa orang jadi lebih keras dari seharusnya mereka buta atau membuta. Mereka sulit membedakan mana yang benar-benar urusan agama mana urusan organisasi….” (hal 295).

Realita seperti inilah yang kerap terjadi di negeri kita sendiri. Sehingga persatuan yang diinginkan selalu dikalahkan oleh ego masing-masing. Akibatnya kebenaran yang ingin disampaikan justru tertutupi oleh cara penyampaian yang tidak baik.

Mahfud menutup cerita dengan rapi. Ada bagian antiklimaks yang membuat sedih, dan klimaks cerita yang menggelitik sebelum akhirnya berakhir dengan perasaan lega. Dan memang benar, anak-anaklah yang mampu membalut luka orang tua yang telah lama terbuka.

***

6 likes
Yanu Setianingsih

Author

Yanu Setianingsih