Sastra

Achdiat K. Mihardja dan Kontroversi Atheis yang Membuatnya Popular

05/03/2021

Tags: , , ,

“Kebenaran bukan untuk dipaksakan, melainkan untuk diyakinkan.”

Achdiat K. Mihardja - toetoer.com

Bulan Maret mungkin menjadi bulan spesial bagi pencinta sastera tanah air. Sebab sejumlah penulis sastera kondang terlahir di bulan ini. Tak cuma lahir, beberapa juga meninggalkan kita di bulan Maret.

Salah satu tokoh sastera nasional yang lahir di bulan ini adalah Achdiat Karta Mihardja atau yang lebih populer dengan sebutan Achdiat K.Mihardja. Beliau adalah sasterawan yang lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, tanggal 6 Maret 1911.

Dalam perjalanan karirnya sebagai seorang sasterawan, Achdiat melahirkan sebuah novel yang sangat fenomenal dan kontroversi dari zaman kali pertama diterbitkan bahkan mungkin hingga kini. Novel tersebut bertajuk “Atheis”, sebuah karya yang mungkin paling penting dalam khasanah kehidupan bermasyarakat di Indonesia hingga saat ini.

Bagaimana tidak, di tengah kondisi sensitifnya masalah keagamaan di tanah air, Achdiat malah bermain-main lewat goresan penanya soal masalah sensitif ini. Bahkan  dalam novel yang diterbitkan kali pertama pada tahun 1949 ini, Achdiat “meramu” sebuah kegelisahan manusia dalam mencari Tuhan. Pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat “diracik” demikian hebat, sehingga novel ini kemudian menimbulkan perdebatan-perdebatan sengit sejak kali pertama penerbitannya. 

Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi di masyarakat, novel ini tetap dianggap sebagai salah satu puncak karya sastra Indonesia modern ini. Tak sekadar populer, karya ini juga berulang kali dicetak kembali. Tak hanya dalam bahasa Indonesia, ternyata karya ini juga menarik minat  RJ Maguire yang kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris pada 1972. 

Tak cuma di tanah air, novel ini ternyata juga menarik minat penerbit Malaysia, Abbas Bandong untuk menerbitkan naskah ini di Negeri Jiran itu. Tak tanggung-tanggung, di Malaysia yang memang memiliki kultur tak jauh berbeda dengan Indonesia, naskah ini justru mengalami 3 kali naik cetak yakni cetakan 1966, cetakan kedua 1969 dan cetakan ketiga 1970. Jangan heran kalau kemudian, nama Achdiat juga cukup tenar di negeri Mahathir Muhammad ini.

Ternyata ketenaran Atheis tak hanya sebatas menarik minat para ahli bidang perbukuan saja, karena karya ini kemudian juga menarik hati sutradara kawakan Sjumandjaja untuk mengangkatnya ke layar lebar pada 1974 dengan judul yang sama.

Salah seorang tokoh sastera Indonesia, Ajip Rosidi pun menyebut bahwa Achdiat memperoleh kesuksesan besar dengan “Atheis” yang menjadikannya pengarang roman terkemuka di Indonesia. (Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia, 1969).

Berkat ketenaran dari novel Atheis ini, Achdiat dianugerahi Hadiah Tahunan dari Pemerintah RI pada tahun 1969. Kumpulan cerpennya yang diberi judul Keretakan dan Ketegangan pada tahun 1957 pun mendapat hadiah Sastra Nasional Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Banyak kalangan meyakini kalau karya Atheis Achdiat ditulis karena pengaruh ajaran keagamaan yang dianutnya. Achdiat disebut-sebut pernah mendalami ajaran mistik (tarekat), aliran Qadariyah Naqsabandiyah dari Kyai Abdullah Mubarak (yang juga dikenal sebagai Ajengan Godebag). Selain aliran-aliran itu, Achdiat juga dikatakan banyak mempelajari filsafat pada pater Dr. Jacobs S.J., dosen pada Universitas Indonesia. Dari Jacobs  ini dia mendalami Filsafat Thomisme. 

Dengan pendalaman itulah, Achdiat kemudian menjabarkan kegalauannya dalam mencari sebuah kebenaran lewat karya Atheisnya ini. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Achdiat yang seorang muslim saleh, sempat melontarkan sebuah kalimat soal kebenaran yang hanya cukup diyakini dan bukan untuk dipaksakan kepada orang lain.

Achdiat K. Mihardja - toetoer.com

Siapa Achdiat? 

Dari kecil Achdiat memang tumbuh dari sebuah keluarga yang gemar membaca. Maka sejak bisa membaca dia sudah membaca buku karangan Dostoevsky, Dumas, dan Multatuli. Buku Quo Vadis karya H. Sinkiewicz, Alleen op de Wereld karya Hector Malot dan Genoveva karya C. von Schmidt, bahkan telah dibacanya ketika kelas VI di sekolah dasar. Semua buku tersebut merupakan koleksi dari sang ayah.

Mungkin berkat didikan di lingkungan gemar membaca itulah yang kemudian membuat Achdiat tertarik untuk menggeluti bidang tulis-menulis, baik itu berupa karya sastera maupun esai tentang sastera atau kebudayaan. Tapi novel Atheis-nya lah yang membawa namanya naik ke deretan pengarang novel terkemuka di Indonesia.

Semasa kecil, Achdiat memulai pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Tasikmalaya. Dari sana kemudian dia melanjutkan studinya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau selevel dengan SMP di Bandung. 

Ia melanjutkan studinya ke AMS dan setelah itu Achdiat menjajal pekerjaan sebagai guru Perguruan Nasional Taman Siswa, namun karirnya itu tak berlangsung lama karena pada tahun 1934 Achdiat memutuskan untuk menjajal sebuah profesi baru yakni menjadi anggota redaksi Bintang Timur dan redaktur mingguan Paninjauan. 

Dari karir tulis-menulis itulah, dia mulai mengenal sejumlah penulis kelas wahid seperti Sanusi Pane, Armijn Pane, PF Dahler, Dr. Amir dan Dr. Sam Ratulangi dan lain-lain. Penulis-penulis itu kemudian menjadi sangat berpengaruh dalam perjalanan karir Achdiat sebagai seorang penulis.

Kecintaannya pada dunia sastera membuat Achdiat memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Kota Jakarta, tepatnya di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia (1948-1950). Hingga pada tahun 1956, karena dedikasi dan prestasinya dalam bidang sastera, dalam sebuah kesempatan dia mengikuti Colombo Plan, yang menempatkan Achdiat belajar bahasa dan sastera Inggris, serta dunia karang-mengarang selama satu tahun di  Sydney University, Australia.

Namun sebagai seorang penulis, perjalanan karir Achdiat tak mulus hanya di satu tempat saja, karena ia kerap melompat dari satu media ke media lain. Seperti pada tahun 1937, Achdiat menjadi pembantu harian Indie Bode dan Mingguan Tijd Beeld dan Zaterdag, juga sebentar bekerja di Aneta. Tahun 1938 jadi pimpinan redaksi tengah-bulanan Penuntun Kemajuan, lantas selanjutnya, pada tahun 1941, ia menjadi redaktur di Balai Pustaka. Balai Pustaka semakin menumbuhkan minatnya pada kesusasteraan. Tepatnya pada tahun 1943, saat masih masa pendudukan Jepang ia menjadi redaksi dan penyalin di kantor pekabaran radio, Jakarta.

Sempat memimpin mingguan Gelombang Zaman dan setengah mingguan berbahasa Sunda pada 1946 bernama Kemajuan Rakyat yang terbit di Garut, ia juga sekaligus menjadi anggota bagian penerangan penyelidik Divisi Siliwangi. Dan di akhir tahun 49an, Ia menjadi redaktur kebudayaan di berbagai majalah, seperti Spektra dan Pujangga Baru di samping sebagai pembantu kebudayaan harian Indonesia Raya dan Konfrontasi. 

Karir di bidang tulis-menulisnya terus berlanjut, hingga pada tahun 1951-1961, ia dipercaya memegang jabatan Kepala Bagian Naskah dan Majalah Pendidikan Masyarakat Kementerian PPK. Di tahun yang sama pula, ia menjadi Ketua Seksi Kesusasteraan Badan Penasihat Siaran Radio Republik Indonesia (BPSR) dan menjadi Ketua Pen-Club Internasional Sentrum Indonesia. 

Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Dr. Ir. Sam Udin, pada tahun 1951 mereka mewakili PEN Club Indonesia menghadiri Konferensi PEN Club International di Lausanne, Switzerland. Di kesempatan itu, ia juga mengunjungi Negeri Belanda, Inggris, Prancis, Jerman Barat, dan Roma.

Bidang tulis-menulis tak hanya membawanya ke Belanda. Tahun 1952, Ia berkunjung ke Amerika dan Eropa Barat dengan tugas dari Dep. P&K untuk mempelajari soal-soal pendidikan orang dewasa (termasuk penerbitan bacaan-bacaannya) dan ‘university extension courses’. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia juga mempelajari seni drama di Amerika Serikat.

Setelah kemerdekaan, Achdiat menjabat ketua bagian naskah/majalah baru dan terpilih menjadi salah satu anggota juri Hadiah Berkala BMKN untuk kesusasteraan pada 1959. Selama dua tahun Achdiat menjadi dosen Sastra Indonesia Modern di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta. Tahun 1960, ia menjabat sebagai Kepala Inspeksi Kebudayaan Djakarta Raya dan memberi kuliah di FS-UI tentang Kesusasteraan Indonesia Modern. Pada tahun 1961-1969 ia dipercaya untuk menjadi Lektor Kepala (senior lecturer) di Australian National University (ANU) Canberra.

Di bidang tulis-menulis, Achdiat tak pernah berhenti berkarya. Meski dia telah mendulang sukses di novel Atheis, dia terus berkarya dan menciptakan beberapa karya seperti Bentrokan Dalam Asmara (drama, 1952), Keretakan dan Ketegangan  (kumpulan cerpen, 1956), Kesan dan Kenangan  (1960), Debu Cinta Beterbangan  (novel, Singapura, 1973), Belitan Nasib (kumpulan cerpen, 1975), Pembunuhan dan Anjing Hitam (kumpulan cerpen, 1975), Pak Dullah in Extremis  (drama, 1977), Si Kabayan, Manusia Lucu  (1997), Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang dan terakhir Manifesto Khalifatullah (novel, 2006). Karya terakhir inilah konon malah ditulisnya ketika dia telah memasuki usia 90 tahunan lebih. Ini menunjukkan betapa tinggi dedikasi dirinya sebagai seorang sasterawan yang benar-benar produktif.

Achdiat sudah meninggal di Negeri Kanguru, tepatnya di Canberra, Australia, 8 Juli 2010 pada usia 99 tahun. Namun nama Achdiat hingga kini tetap dikenang oleh para pencinta sastera.

***

1 likes
Wahyu Wibisana

Author

Wahyu Wibisana