Peranakan / Sastra

Kesasteraan Melayu Tionghoa, Nasionalisme dan Ancaman bagi Belanda

02/03/2020

etnis tionghoa dan nasionalisme indonesia - toetoer.com

Oleh : Wahyu Wibisana *)

Dalam sebuah acara talks show yang dipandu pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar di sebuah radio swasta, saya ditanya apa motivasi saya menerbitkan kembali sejumlah buku Kesasteraan Melayu Tionghoa Indonesia? Pertanyaan itu juga yang selalu muncul ketika beberapa kawan tahu bahwa saya hanya menerbitkan Sastera Melayu Tionghoa ini dalam oplah 100 eks per judul. “Mana untung?” begitu kata berberapa teman.

Bagi saya pribadi, alasan pertama menerbitkan ulang naskah ini adalah ingin meneruskan apa yang sudah pernah dikerjakan almarhum ayah saya Marcus AS dan dua senior saya Parakitri T Simbolon serta Pax Benedito dari Kepustakaan Populer yang pernah menerbitkan buku seri Kesasteraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia sampai 10 jilid.

Ketika project ini dihentikan karena tak ada lagi sponsor yang membiayai dari rencana 25 buku yang diterbitkan. Karena itu ayah saya sempat berpesan agar saya mau menerbitkan ulang naskah-naskah Melayu Tionghoa ini. “Satu eksemplar pun kalau bisa diterbitkan,” katanya.

Tapi ketika saya mulai menerbitkan naskah-naskah ini, semakin lama saya makin tertarik dengan naskah-naskah peranakan Tionghoa ini. Karena dalam naskah-naskah kesasteraan Tionghoa ini, saya bisa melihat sebuah fakta dari sisi lain yang jarang saya dapati dalam literasi umum di tanah air. Fakta ini menjadi menarik karena pasti cukup relevan pada masanya karena kebanyakan penulis Kesasteraan Melayu Tionghoa adalah wartawan yang menuliskan fakta-fakta sejarah pada masa itu dalam naskah roman.

Maka tak heran kalau dalam sejumlah karya sastera Melayu Tionghoa ada sebuah catatan kecil entah di cover atau bagian pengantar yang memberikan gambaran bahwa ini kisah nyata. “Kisah ini adalah kisah yang benar-benar kejadian di…..” Bisa tanah Jawa, Bali, Sumatera atau menyebut nama kotanya seperti Batavia”. Itu sebabnya, kemudian saya memilih beberapa naskah yang berlatar belakang dari daerah/kota tertentu ini sebagai landasan dalam memilih naskah yang akan dicetak ulang.

Tapi perlahan namun pasti, saya kemudian memiliki sebuah alasan lain yang jauh lebih kuat dari sekadar alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya. Alasan itu adalah adanya “semangat nasionalisme” yang pernah dikobarkan oleh para penulis keturunan Tionghoa, bahkan itu tercetus sebelum adanya peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Berdasarkan catatan Sinolog Senior Claudine Salmon dan Leo Suryadinata, bibit-bibit nasionalisme kaum Tionghoa itu justru muncul jauh sebelum berdirinya Boedi Utomo 1908. Bahkan dalam catatan Leo Suryadinata seperti tertuang di bukunya “Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia”, api-api nasionalisme kelompok Tionghoa justru sudah muncul di akhir abad 19an dengan tokohnya Lie Kim Hok yang menerbitkan kitab eja Bahasa Melayu pada tahun 1884.

Kita tahu bahwa Bahasa Melayu adalah cikal bakal Bahasa Indonesia. Menurut Claudine Salmon, Lie Kim Hok jugalah orang yang mempelopori penerbitan naskah Kesasteraan Melayu Tionghoa kali pertama di tanah air lewat bukunya yang bertajuk Tjiet Liap Seng atau Tujuh Bintang pada tahun 1886. Sehingga kini banyak orang menyebutnya sebagai bapak Kesasteraan Melayu Tionghoa.

Selain itu, penggunaan Bahasa Melayu juga sudah digunakan kaum peranakan di media massa yang mereka kelola. Kaum peranakan Tionghoa diyakini sudah merintis media massa sejak 1884 yakni lewat Pembrita Betawi (1884-1914), Bintang Soerabaija (1887-1924) dan Bintang Betawi (1893-1906). Saat itu Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Melayu Rendah atau Bahasa Melayu Pasar, sekarang lebih sering dikenal sebagai Bahasa Melayu Tionghoa.

Pers Melayu Tionghoa terus berkembang, apalagi setelah pada tahun 1900 sejumlah tokoh Tionghoa termasuk Lie Kim Hok dkk mendirikan Lembaga Pendidikan modern bernama Tiong Hoa Hwee Koan. Perkembangan cepat sekolah-sekolah THHK ini juga yang menyebabkan perkembangan pers yang dikelola orang peranakan Tionghoa jadi semakin banyak di tanah air. Bahkan kemudian melahirkan dua media besar yang melegenda seperti Sin Po (1910) dan Keng Po (1923), yang nantinya sejumlah awak dua media ini juga membidani lahirnya dua media besar tanah air yakni Sinar Harapan dan Kompas.

etnis tionghoa dan nasionalisme indonesia - toetoer.com

Dengan perkembangan ini, secara otomatis bermunculan penulis-penulis besar macam Lie Kim Hok, Tjoe Bou San (1891-1923), Lim Koen Hian (1896-1952) dan Kwee Kek Beng (1900-1975). Geliat pers Tionghoa ini juga yang mendorong berkembangnya sastera-sastera Melayu Tionghoa peranakan. Pengaruh pergolakan dan nasionalisme yang terjadi di Tiongkok dalam menggulingkan Dinasti Qing kala itu, ikut bergelora di tanah air.

Sehingga semangat nasionalisme itu yang “ditularkan” oleh sebagian dari penulis-penulis ini kepada para pembaca mereka, yang saat itu juga ada dari kelompok non Tionghoa berkembang seperti bola salju. Bayangkan kala itu oplah mereka 3000-5000 eks per terbit, sementara yang “melek huruf” belum sebanding dengan jumlah penduduknya.

Dalam coret-coretan yang dibuat Claudine Salmon dalam bukunya “Literature in Malay by The Chinese of Indonesia”, paling tidak ada 2.646 judul karangan dengan hamper 806 pengarang/penerjemah/ penyadur berperan dalam dunia sastera Melayu Tionghoa ini. Hebatnya lagi, pesan moral soal nasionalisme di Indonesia juga terus digaungkan. Puncaknya adalah pemuatan Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman di Sin Po sebelum Sumpah Pemuda.

Leo Suryadinata berpendapat “cikal bakal nasionalisme” yang ditularkan lewat media-media massa milik orang Tionghoa peranakan inilah yang telah “mengganggu pikiran” pemerintahan Belanda di Tanah Air. Karena itulah Belanda kemudian mengklaim sastera Melayu Tionghoa sebagai bahasa rendah dan Belanda “mensponsori” sebuah lembaga yang kemudian kita kenal sebagai Balai Pustaka. Lewat semangat ejaan Van Ophisennya, Belanda menciptakan perbedaan antara sastera Bumi Putera dan Sastera Melayu Tionghoa. Padahal dalam catatan Leo, sebelum tahun 1920an, tidak ada pembedaan antara Melayu Tionghoa sebagai Melayu Rendah dan Melayu Tinggi.

Sehingga dampaknya, sejarah kesasteraan milik kaum Tionghoa ini terkucilkan dari sastera-sastera kelompok lain di negeri ini. Mungkin Belanda tak ingin tulisan-tulisan tentang nasionalisme kaum peranakan ini akan menulari pemikiran kaum Bumi Putera. Sehingga mereka cenderung menciptakan stigma sastera Melayu Tionghoa sebagai sastera picisan.

Ternyata dugaan Belanda memang menjadi kenyataan, setelah tahun 1920an itu, para penulis keturunan Tionghoa ini jadi semakin “berani” menyuarakan nasionalisme itu lewat karya-karya mereka. Seperti kita bisa melihat kisah yang bertajuk “Drama Boven Digoel” karya Kwee Tek Hoay yang bercerita tentang para tahanan politik Tionghoa dan non Tionghoa yang sama-sama diasingkan ke Boven Digul, Papua.

Kwee Tek Hoay tak sendirian, ada juga pengarang seperti Liem Khing Hoo yang menerbitkan buku bertajuk “Berdjuang” yang berisi tentang perjuangan seorang pemuda Tionghoa yang pergi merambah hutan di Kalimantan dan mendirikan pemukiman di sana. Belum lagi ada penulis lain seperti Im Jang Tjoe (Tan Hong Bun) yang menulis tentang Soekarno muda ketika sama-sama berada dalam tahanan Belanda pada tahun 1930an, artinya 15 tahun sebelum Soekarno dinobatkan sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

etnis tionghoa dan nasionalisme indonesia - toetoer.com

Puncaknya tentu saja terlihat lewat keberanian majalah Sin Po dalam menerbitkan lagu “Indonesia Raya” karya WR Soepratman yang akhirnya dikumandangkan pada gelaran Sumpah Pemuda. Jadi sekarang tergantung kita, apakah kita akan membiarkan asset-aset ini tetap teracuhkan oleh zaman atau mau dilestarikan, semua tergantung niat kita masing-masing.()

*) Penulis adalah wartawan dan pemerhati sastera Melayu Tionghoa.

-WB

0 likes
Ester Ria

Author

Ester Ria