Pendidikan

Watak Manusia Unggul Indonesia Idaman Ki Hadjar Dewantara

23/12/2019

Tags:

 

Ki hadjar dewantara - toetoer.com

 

“Ambuka Raras Angesti Widji” adalah sebuah penanda tahun diresmikannya Pendapa Agung Tamansiswa pada tahun 1938. Candrasengkala tersebut memiliki makna yang tidak hanya perlambang namun memiliki arti yang mampu menjangkau hampir seluruh gagasan dan cita-cita seorang Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. 

Seperti dikatakan beliau saat berpidato pada Permusyawaratan Pendidikan Kesenian Tamansiswa di Yogyakarta tanggal 14 Mei 1954, “Ambuka Raras” bermakna membuka suara (nembang atau menyanyi/ melakukan kesenian) sebagai pepucuk daripada “Angesti Widji” atau mendidik. Pepucuk pendidikan bermakna sebagai landasan dari pendidikan (Dewantara, 1977:355). Bila kita perjelas maknanya, kesenian adalah landasan pendidikan. Mengapa ini menjadi penting dan diutamakan oleh Ki Hadjar Dewantara di Tamansiswa? Benang merahnya bisa kita runtut sejak beliau diasingkan di negeri Belanda, 9 tahun sebelum mendirikan Perguruan Tamansiswa, atau 32 tahun sebelum Indonesia merdeka.

Tahun 1913, karena menulis artikel “Als Ik En Nederlander Was” yang cukup keras menyindir pemerintahan Hindia-Belanda, maka Ki Hadjar Dewantara yang masih bernama Soewardi Soerjaningrat diasingkan ke negeri Belanda bersama 2 sahabatnya, Douwes Deker & Cipto Mangunkusumo. Saat berada di kapal singgah di pelabuhan sekitar India, Soewardi ingat hari itu ulang tahun istrinya – R.A. Soetartinah (Nyi Hadjar Dewantara) – yang ikut pula menyertainya. Karena tak berbekal cukup, maka beliau menghadiahi istrinya dengan sebuah tembang macapat karya Mangkunagoro IV berjudul “Kinanti Sandhung”. Ini adalah awal mula benang merah yang akan kita rangkai. 

Selanjutnya di pertengahan tahun-tahun pengasingannya di negeri Belanda, 1916, beliau mementaskan tembang “Kinanthie Sandoong” dalam format piano. Konversi notasi gamelan ke notasi piano (pentatonis ke diatonis) inilah yang kemudian beliau sebut dengan “Sariswara”. Pementasan piano “Kinanthie Sandoong” ini diselenggarakan dalam rangkaian pentas aneka kesenian mahasiswa Hindia-Belanda (kelak Indonesia) di negeri Belanda yang berasal dari berbagai penjuru nusantara. Gubahan ini merupakan pertama kalinya seorang Hindia-Belanda (Indonesia) melantunkan tembang Jawa dalam notasi piano di tanah Eropa. Praktek pengalaman ini yang kelak menjadi sebuah kesadaran beliau, betapa bangsa kita membutuhkan persatuan yang kuat untuk mewujudkan kemerdekaan yang sejati bagi nusantara.

Ketika beliau pulang ke Indonesia, 1919, beberapa tahun kemudian beliau memutuskan untuk beralih dari perjuangan lewat jalur politik ke jalur pendidikan. Keputusan ini selain karena pengaruh istrinya, juga karena pengaruh pemikiran-pemikiran beliau yang bergaul dengan aneka teori para pesohor pendidikan saat di Belanda. Di sanalah beliau justru mendapat sertifikat mengajarnya, tentu saja setelah mendalami aneka teori dari tokoh-tokoh paedagogi seperti Frobell, Montessori, Rousseau, Pestalozzi, Dalton, Dalcroze, Rudolf Steiner hingga Rabindranath Tagore. Pengaruh inilah yang mendorong beliau di tahun 1922 mendirikan Perguruan Nasional “Taman Siswa” – sebuah perguruan nasional kebangsaan pertama yang guru, murid dan materi khas pelajarannya diambil semua dari bangsa sendiri. 

ki hadjar dewantara - toetoer.com

Setelah itu muncullah pendidikan berbasis “Jiwa Merdeka”. Pendidikan jiwa merdeka ditujukan agar bangsa yang terjajah saat itu mampu untuk berpikir mandiri, tak terperintah sekaligus tertib terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Tiga unsur “Jiwa Merdeka” ini yang tidak terpisahkan. Selanjutnya Soewardi yang berubah nama menjadi Ki Hadjar Dewantara menggagas “Sistem-Among” yang selanjutnya terkenal dengan istilah “Tutwuri Handayani”. Dalam sistem ini anak-anak dididik sesuai kodrat alamnya masing-masing anak yang memiliki keunikan tersendiri. Dalam sistem ini, kecerdasan hanyalah alat semata, lain tidak. Yang utama adalah “bunga yang kelak jadi buah” dan buah pendidikan adalah menjadi manusia yang bermanfaat seluas-luasnya (Dewantara, 1977:94)

Yang menarik dari pendirian Perguruan Nasional “Taman Siswa” adalah bagaimana Ki Hadjar Dewantara menggali semua potensi cara mendidik dari para pesohor paedagogi dunia saat itu, sekaligus mengkonversikannya ke metode milik bangsa sendiri (seperti halnya saat beliau mementaskan “Kinanthie Sandoong di Belanda). Sistem-Among yang diterangkan di atas-pun berdasarkan pengamatan beliau saat kaki-nini (kakek-nenek) kita menemani anak-cucunya bermain di sawah-sawah. Hal ini dilakukan beliau agar bangsa ini tidak tercerabut dari akar budaya sendiri dan tidak kehilangan kepribadian sebagai bangsa yang sebenarnya sudah memiliki budaya adiluhung. Pemikiran awal inilah yang kemudian memunculkan konsepsi “TRI-KON” yang karenanya kelak beliau diganjar penghargaan Doctor Honoris Causa oleh Prof Dr Sardjito, Rektor pertama Universitas Gadjah Mada di hadapan Presiden RI pertama, Ir Soekarno. 

TRI-KON merupakan fatwa Ki Hadjar Dewantara yang merangkai semua gagasan beliau dalam pendidikan. Bagi seorang Ki Hadjar, paguron/sekolah adalah tempat untuk menyemai keluhuran kebudayaan. Kebudayaan bangsa sendiri yang adiluhung yang selalu terjaga (KONsentris), namun mampu berkembang  menyesuaikan zaman (KONtinyu), dengan tanpa ragu menyerap berbagai budaya luar yang bisa diolah dan diramu dengan budaya sendiri (KONvergen). Diharapkan bangsa ini memiliki budaya adiluhung yang selalu berkembang maju, yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Gagasan istimewa Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa menjadi sangat khas dan berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya, yaitu pendidikan keseniannya. Begitu khas dan istimewanya pendidikan kesenian di Tamansiswa, sehingga dipahatkan dengan sangat jelas oleh Ki Hadjar di anak tangga Pendapa Agung Tamansiswa, “Ambuka Raras Angesti Widji”, yang artinya adalah kesenian melandasi pendidikan yang kemudian dipraktekkan dengan sangat intensif kepada siswa-siswanya. 

Bagi seorang Ki Hadjar Dewantara, kesenian merupakan sarana istimewa yang paling efektif untuk menerjemahkan semua teori pendidikan yang beliau dapat selama diasingkan di negeri Belanda. Dengan sangat piawai Ki Hajar meramunya dalam gabungan cara-cara khas kakek-nenek moyang kita saat mendidik anak-anaknya melalui berbagai kearifan lokal keseniannya. Perhatikan ketika beliau mencari padanan teori “Anthroposophy” -nya DR Rudolf Steiner yang terkenal itu dengan teori “Sastera Genbdhing” -nya Sultan Agung Hanyakrakusuma yang menyebutkan bahwa suara/lagu/gendhing itu langsung mendidik rasa, tidak melalui otak/kecerdasan. Dari sinilah beliau memunculkan versi lain dari Sariswara yang diciptakan saat di Belanda yang awalnya berupa konversi notasi gamelan ke piano. Beliau menyebutnya “Metode Sariswara”. Sebuah metode gabungan tiga pelajaran seni sekaligus, bahasa indah (sastra) – tembang (lagu) – cerita (drama/permainan). Tiga gabungan pelajaran inilah yang diterjemahkan oleh para empu tangan kanan beliau dalam berbagai model pendidikan kesenian yang sangat khas Indonesia dan tidak ditemui di negara lain (JC Wang DR; NIU-USA:2017).

ki hadjar dewantara - toetoer.com

Sariswara sebagai sebuah metode pendidikan semakin menegaskan cita-cita Ki Hadjar Dewantara bagi watak masa depan seorang anak generasi bangsa ini, yaitu watak yang sudah dicita-citakan oleh beliau dalam konsepsi TRI-KON. Sejak usia dini anak-anak sudah digembleng dengan cara-cara sangat khas milik bangsa sendiri melalui gabungan bahasa/sastra – lagu – cerita. Dalam pengajarannya lirik bahasa bersastra indah dalam balutan cerita permainan atau drama musikal yang berisi pelajaran budi pekerti yang sangat dibutuhkan untuk memberi landasaan watak seorang anak yang dibiasakan suka akan keindahan dan kehalusan. Melalui metode ini, Ki Hadjar Dewantara memasukkan seluruh gagasan-gagasan watak TRI-KON sebagai landasan gerak jiwa anak kelak untuk menjadikannya sebagai manusia unggul berwatak luhur khas Indonesia.

Sayangnya Ki Hadjar Dewantara dan para empu tangan kanan beliau sudah wafat. Sementara penggalian Metode Sariswara saat ini baru sebatas pendidikan kesenian yang berbasis “Jawa-Sentris”. Seharunyalah tidak! Seperti arahan beliau, seharusnya muncul “Metode Sariswara” di berbagai belahan penjuru daerah se-nusantara ini. Bayangkan masing-masing daerah se-nusantara mendidik generasi bangsanya dengan cara yang khas, namun memunculkan keunggulannya masing-masing bagi landasan wataknya sesuai ciri masing-masing daerahnya. Bila itu semua mampu dilakukan, maka tak heran gambaran yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara sejak awal, yaitu persatuan hakiki bangsa melalui persatuan kebudayaannya, yang didapat dari persatuan puncak-puncak sari kebudayaan daerah se-nusantara, menjadi mewujud-nyata (Dewantara, 1977:264). Landasan watak inilah yang diharapkan menjadikan generasi bangsa Indonesia kelak mampu melanjutkan sekaligus mengembangkan lebih baik lagi keadiluhungan kebudayaan bangsa ini yang sangat kuat berakar dari watak kesadaran rasa persatuan masing-masing suku bangsanya yang sejak dini telah ditanamkan melalui Sistem Among & Metode Sariswara.

Ringkas kata kita cuplik beberapa tulisan Ki Hadjar Dewantara; bahwa sekolah adalah tempat menyemai kebudayaan (Dewantara, 1977:264). Kesenian adalah bagian paling dekat dengan usaha kebudayaan untuk menanamkan benih atau bekal budi pekerti (watak atau tabiat) yang akan merapatkan anak dengan jiwa bangsanya. Dengan pelajaran kesenian akan mendapatkan “cultiveren”, yakni memasakkan jiwa dan raga anak-anak agar kelak mencapai derajat manusia utama serta dapat menyusun perikehidupan yang pantas dalam masyarakat yang akan dipikul bersama-sama oleh mereka sekalian. 

Pelajaran kesenian sangat berfaedah menolak pengaruh “intelektualisme” yang merajalela hingga mengalahkan moral (Dewantara, 1977:328). Untuk menjadi bangsa yang memiliki kebudayaan luhur yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, maka Indonesia tidak hanya membutuhkan “kemerdekaan negara”, namun juga membutuhkan “kemerdekaan kebudayaan”. Kesatuan bangsa mengharuskan adanya kesatuan kebudayaan. Kalau rakyat Indonesia berani mengakui puncak-puncak kebudayaan di seluruh kepulauan Indonesia sebagai kebudayaan bersama sebagai “kebudayaan bangsa”, maka saat itulah kita merupakan bangsa yang berkebudayaan luhur dan murni (bukan penjiplak) (Dewantara, 1977:264).

***

15 likes
Listyo H. Kris

Author

Listyo H. Kris

Peneliti di Laboratorium Sariswara, sebuah laboratorium yang fokus menggali konsepsi pemikiran dan praktek Ki Hadjar Dewantara yang menjadikan kesenian sebagai landasan pendidikan.