Pendidikan / Tokoh

Ki Hajar Dewantara Yang Kritis Dan Intelek

01/05/2019

Tags: , , ,

Untuk hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019

Tidak salah Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah,” katanya. Selama 69 tahun hidupnya, ia semata-mata hanya memikirkan pendidikan untuk bangsanya.

Ki Hadjar Dewantara, Sedang Memikirkan Pendidikan untuk Indonesia

Walaupun ia sekolah dokter di STOVIA, ia tidak lantas menjadi dokter. Baginya yang lebih membakar semangatnya adalah menjadi seorang jurnalis. Mungkin ia berpikir bahwa dengan menjadi seorang jurnalis, ia dapat menyalurkan protesnya lewat tulisan-tulisannya yang tajam. Ia meyakini tajamnya pisau bedah milik dokter tidak akan bisa menandingi tajamnya pena miliknya.

Sebagai seorang bangsawan – ia terlahir sebagai seorang Raden Mas – ia tidak lantas duduk-duduk menikmati privileges yang diperolehnya dari garis keturunan darah biru itu, ia terus membuka mata, lebar-lebar, agar pandangannya terang untuk melihat sekelilingya. Ia terus mengasah pena untuk mempertajam tulisannya, dan mengkritik perilaku pemerintah kolonial. “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya,” tulisnya dengan dada bergemuruh. Ia muak dengan pemerintah kolonial yang menggerogoti tanah pusaka, lalu berpesta tanpa malu di tanah yang bukan miliknya.

Karena tajamnya pena itu, ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Bangka, lalu diasingkan ke negeri Belanda. Di sana ia justru belajar banyak dan pulang sebagai seorang intelektual.

Setibanya di tanah air, penanya semakin tajam dalam mengkritisi sistem pendidikan pemerintah kolonial yang dianggapnya membodohi dengan pendidikan ‘asal ada sekolah’. “Pengajaran yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial hanya untuk dapat menjadi “buruh” karena memiliki “ijazah”, tidak untuk isi pendidikannya dan mencari pengetahuan guna kemajuan jiwa-raga,” tulisnya pedas seperti tertuang dalam Azas 1922 Taman Siswa.

Mendirikan dan Mengajar di Taman Siswa

Dialah pendiri Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah sekolah yang aslinya dinamai ‘National Onderwijs Instituut Taman Siswa’ dengan konsep baru yang ia rancang sendiri. Konsep itu sebagai buah pergumulannya terhadap pembodohan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial yang cuma mendidik secara kognitif tanpa mendalami jiwa manusia yang seluas samudra itu. Maka ia pun membawa perubahan metode pendidikan dengan konsep ‘parenting’, yaitu dengan menelusuri kedalaman jiwa manusia sejak dilahirkan, tumbuh menjadi kanak-kanak, lalu dewasa. Baginya seorang manusia seutuhnya harus memiliki budi pekerti dan mengalami pengalaman lahir-batin sepanjang kehidupan.

Di tanggal 2 Mei ini, hari Pendidikan Nasional kita, kita merindukan sosok Ki Hajar Dewantara dengan keberanian dan kecerdasannya, yang kritis tetapi intelek, berwawasan luas dan berorientasi kepada kebangsaan kita, bukan sosok yang sok intelek tetapi asbun (asal bunyi) hanya demi bayaran.

7 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan