Nasional / Pendidikan

Dewi Sartika, Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Hindia Belanda

03/12/2020

Tags: ,

Ieuh barudak, ari jadi awewe kudu sagala bisa, ambeh bisa hirup (Anak-anak, kalau jadi perempuan harus segala bisa, biar bisa hidup)!”

sekolah istri - dewi sartika

 

Kalimat ini meluncur deras dari mulut tokoh pejuang pendidikan perempuan asal tanah Pasundan, Dewi Sartika. Dalam beberapa kesempatan, perempuan kelahiran 4 Desember 1884 ini terus mendengungkan semboyan ini setiap kali memberikan pelajaran kepada anak-anak didiknya. Tujuannya cuma satu, agar kaumnya bisa memiliki kesetaraan hak dengan kaum Adam di masanya.

Dalam sepak terjangnya, Sartika juga banyak mengkritik kolotnya pandangan kaum feodal Sunda terhadap perempuan. Karena itu dia kemudian banyak menyinggung pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan di Pasundan.

“Sangat penting memberikan pelatihan kepada bidan, perempuan yang bekerja di kantor, juru ketik, pembantu rumah tangga, pekerja perkebunan, dan lain-lain. Kita tidak boleh lupa bahwa di luar sana masih banyak perempuan yang harus mengisi ‘bakul nasi’ mereka dengan bekerja di pabrik atau perkebunan, padahal mereka belum diberikan pelatihan yang memadai,” tulis Sartika yang dikutip dari buku Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian karya Cora Vreede-De Stuers.

Karena Ayahnya, Uwi mendapat kesetaraan dengan laki-laki

Sartika mungkin menjadi salah satu perempuan dari beberapa perempuan ningrat Sunda yang beruntung karena punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan Belanda karena ayahnya memang seorang priyayi. Ketika itu, sang ayah yang berasal dari golongan ningrat mengizinkan anak perempuannya ini mendapat pendidikan ala sekolah Belanda. Walaupun ketika itu anak perempuan tak memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki, tapi sang ayah yakni Raden Somanagara tetap menyekolahkan Uwi—nama kecil Dewi Sartika, di sana. Apalagi ayah Sartika ini sebenarnya memanglah seorang pejuang kemerdekaan.

Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, karena tiba-tiba Pemerintah Hindia Belanda menangkap Raden Somanagara dan membuangnya ke Pulau Ternate hingga beliau meninggal dunia di sana. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika kecil kemudian dititipkan pada pamannya yang seorang Patih Cicalengka bernama Raden Demang Suria Kartahadiningrat. 

Akibat pembuangan itu, keluarga besar menganggap kehadiran Uwi sebagai anak buronan merupakan aib keluarga. Maka tak heran kalau Dewi Sartika kemudian hanya sempat bersekolah di Eerste Klasse School sampai kelas dua. Pendidikan Uwi pun buyar karena pembuangan sang ayah.

sekolah istri - dewi sartika

Membangun Pendidikan, Membela Kaum Perempuan

Sang paman yang dikenal sebagai seorang menak, juga memberikan perlakukan berbeda padanya di rumah itu. Salah satunya, dengan memaksa gadis kecil ini mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga dan harus menempati kamar belakang seperti layaknya seorang pelayan. Di antara banyaknya pekerjaan, Sartika juga harus mengantar saudara-saudara sepupunya pergi ke rumah seorang nyonya Belanda untuk belajar bahasa Belanda dan menulis-membaca. Ia sendiri tidak diperkenankan untuk ikut belajar.

Tak heran kalau hati kecil Uwi banyak melakukan “pemberontakan”. Hal ini karena dia menyadari bahwa keadaan kaumnya begitu lemah kedudukan sosialnya akibat tak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai. Sementara anak laki-laki memperoleh pendidikan yang lebih layak dan perempuan hanya diajari keterampilan rumah tangga dan adat belaka. Ketimpangan ini yang kemudian membuat Dewi Sartika tergugah untuk membela kaumnya.

Tapi di bawah tekanan seperti itu, bakat Sartika sebagai seorang pendidik malah muncul dengan sendirinya. Karena itu, gadis kecil ini kerap bermain sebagai guru di waktu senggangnya. Sartika pun mengajari anak-anak pembantu di kepatihan soal baca tulis. Dia menggunakan papan, arang, dan pecahan genting sebagai alat bantu mengajar.

Selain baca tulis, gadis muda ini juga banyak mengajarkan soal wawasan kesundaan yang dia dapatkan dari sang paman, sementara mengenai wawasan kebudayaan Barat, Sartika mencangkoknya dari si nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda yang jadi guru, tempat para sepupunya menimba ilmu. Hasilnya seluruh kepatihan Cicalengka sempat dihebohkan karena anak-anak pembantu di sana, ternyata mampu baca tulis dan paham mengenai kebudayaan Sunda dan Barat karena mendapat pendidikan dari seorang bocah cilik berumur 10 tahun.

Selepas remaja, cita-citanya memberi pengajaran terhadap kaumnya juga semakin menggebu. Bahkan lewat bantuan kakeknya R.A.A. Martanegara dan Inspektur Kantor Pengajaran Den Hamer, Dewi Sartika berhasil mendirikan sebuah sekolah khusus bagi kaum perempuan yang diberi nama “Sakola Istri” pada 1904. Sekolah ini menjadi sekolah perempuan pertama se-Hindia-Belanda. 

Tenaga pengajarnya ada tiga orang yakni Dewi Sartika dan dua saudara misannya, Ny Poerwa dan Nyi Oewid. Para murid wanita ini diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama. Pada awal pendirian sekolah ini, Sartika sempat menuai pertentangan, terutama karena budaya ‘pengekangan’ kaum wanita masih sangat kuat. Namun cita-cita serta kegigihan Dewi Sartika membuat sekolah tersebut tetap terwujud.

Sayang, “Sakola Istri”  hanya punya dua kelas, sementara animo perempuan Sunda yang ingin belajar sangat tinggi, sehingga sekolah Dewi Sartika ini tak lagi sanggup menampung semua siswa. Maka Sartika pun berinisiatif meminjam ruang belajar pada Kepatihan Bandung dan pada tahun 1905, sekolah ini menambah kelas. Tapi jumlah kelas yang ada tetap tak dapat memenuhi banyaknya minat para calon siswanya.

Maka kemudian Dewi Sartika membeli sebuah rumah di Jalan Ciguriang, Kebon Cau untuk lokasi sekolah barunya. Sekolah itu dibeli dengan menggunakan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Pada tahun 1909, Sakola Istri pun meluluskan angkatan pertamanya.

sekolah istri - dewi sartika

Dalam perjuangannya meningkatkan derajat kaum perempuan pribumi, Dewi Sartika malah menemukan jodohnya, yaitu Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seorang guru di Sekolah Karang Pamulang, sebuah sekolah Latihan Guru. Karena kesamaan visi dan misi, setelah menikah di tahun 1906, Dewi Sartika dan suami bahu-membahu memberikan pendidikan pada kaum hawa di tatar Sunda.

Pada tahun 1910, nama Sakola Istri diubah jadi “Sakola Keutamaan Istri”. Perubahan nama ini sekaligus juga mengubah kurikulum pelajarannya. Salah satunya dengan berusaha mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Sehingga pelajaran soal pembinaan rumah tangga mendapatkan porsi yang lebih banyak.

Bagaimana dengan biaya operasional sekolah? Semuanya dicari Sartika sendiri. Tapi dia tak pernah merasa bahwa sekolah ini jadi beban baginya. Apalagi sebagai suami, Raden Kanduruan Agah Suriawinata mendukungnya secara penuh. 

Seperti kata pepatah, kerja keras tak membohongi hasil, cita-cita Dewi Sartika yang semula bersifat lokal, perlahan namun pasti akhirnya bisa diadopsi oleh beberapa daerah. Tak heran kalau akhirnya, konsep pendidikan ala Sartika dengan “sekolah perempuannya”, akhirnya terus berkembang hingga ‘Sekolah Keutamaan Istri’ berdiri di 9 Kota Kabupaten se-Pasundan, seperti di daerah Garut, Tasikmalaya, dan Purwakarta. Bahkan ada satu sekolah yang didirikan di Bukittinggi Sumatera Barat oleh Encik Rama Saleh yang mengadopsi konsepnya.

sekolah istri - dewi sartika

Perjuangan Terakhir Dewi Sartika

Ironisnya, Era Perang Dunia I merupakan masa paling suram  bagi Dewi Sartika dan sekolahnya. Karena keuangan sekolah begitu minus, tapi berkat perjuangan sang pelopor, sekolah ini bisa memasuki usia ke-25 Tahun pada tahun 1929. Bahkan ‘Sekolah Keutamaan Istri’ bisa  memiliki gedung sendiri dan sekolah ini berganti nama lagi jadi Sakola Raden Dewi. 

Dewi Sartika pun mendapat penghargaan dari Pemerintah Kerajaan Hindia Belanda berupa Bintang Jasa  atas jasa-jasanya memperjuangkan hak kaum perempuan pribumi dalam bidang pendidikan, terutama di tanah Pasundan.

Pada Agresi Belanda tahun 1947, Dewi Sartika bersama seluruh rakyat Pasundan kemudian mengungsi untuk mempertahankan Indonesia. Saat berada di pengungsian, pada 11 September tahun 1947, Dewi Sartika mengembuskan napas terakhirnya di Tasikmalaya. Kala itu Sartika, persis berusia 62 tahun. Dia pun dimakamkan dengan upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian, makamnya dipindah ke  kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Kabupaten Bandung. Dan pada tanggal  1 Desember 1966 dan Dewi Sartika disahkan sebagai pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No 252 Tahun 1966.()

 

**’

*) Penulis seorang wartawan dan editor buku-buku kesusasteraan Melayu Tionghoa.

*) Sumber gambar: muskitnas.net

 

0 likes
Wahyu Wibisana

Author

Wahyu Wibisana