Pendidikan / Sastra / Tokoh

A.A. NAVIS DAN CERITA TANPA TITIK

17/05/2020

Jika menyebut nama A.A. Navis, orang akan langsung menyebut “Robohnya Surau Kami”. Dibalikpun sama, jika orang menyebut “Robohnya Surau Kami”, berikutnya akan menyebut A.A. Navis.

Dulu sewaktu pelajaran Bahasa Indonesia di SMP, sewaktu giliran belajar sastra, nama-nama pengarang cerita dan judul karangannya harus dihafalkan. Ini perintah dari guru pelajaran. Maka sederet nama sastrawan dan karyanya mengendap di pikiran, mulai dari Siti Nurbaya-nya Marah Rusli hingga Layar Terkembang-nya Sutan Takdir Alisjahbana. Mulai dari Atheis-nya Achdiat Karta Mihardja hingga Jalan Tak Ada Ujung-nya Mochtar Lubis. Tapi semua judul karangan itu hanya berputar-putar saja di kepala lalu mengendap, dan hanya keluar lagi manakala ulangan Bahasa Indonesia berlangsung. Saya tak pernah tahu isi cerita dari semua judul karangan yang keren-keren itu secara utuh, karena tak pernah membacanya, karena guru tak pernah menunjukkannya. Mungkin karena sekolah tak punya bukunya. Entahlah.

Masa itu, buku benar-benar barang mewah. Jika saya ingin membaca buku, saya hanya bisa meminjam dari teman, itupun bukan buku-buku sastra seperti yang saya pelajari di sekolah, melainkan komik Indonesia macam Jaka Tuak atau Si Buta Dari Gua Hantu.

Walaupun demikian, pelajaran menghafal judul-judul karangan dan nama-nama pengarangnya sewaktu pelajaran di sekolah itu tetap saya syukuri hingga sekarang, karena ternyata hal itu secara tidak saya sadari telah menanamkan benih cinta di hati saya pada kesusasteraan. Saat itu jugalah saya tahu Ali Akbar Navis (A.A. Navis) dan Robohnya Surau Kami, walaupun saya tak pernah tahu tentang apa dan tentang siapakah karangan itu bercerita. Itu saya tahu hanya demi nilai pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya sudah bekerja dan mendapat gaji, buku-buku itu mulai terbeli satu-persatu. Beberapa penerbit ternama mencetak ulang dan menerbitkannya kembali. Lalu saya dengan rakusnya mengunyah dan melahap seluruh isi cerita dari karangan-karangan klasik itu yang sebagian besar pengarangnya telah tiada.

Dari sekian banyak karangan yang saya baca itu, Robohnya Surau Kami adalah salah satu karya yang saya baca beberapa kali. Sempat buku itu terselip di antara buku-buku lainnya di rak buku beberapa lama, tetapi beberapa kali saya cari dan baca lagi, dan belum membuat saya bosan. Dari sini saya menilai betapa kuatnya cerita ini bertutur. Walaupun cerita ini diterbitkan pertama kali di tahun 1956, di jaman sekarang pun konteks cerita ini masih relevan. Literasi Nusantara menderetkan Robohnya Surau Kami dalam “10 Buku Indonesia Sepanjang Masa Versi Goodreads” bersama dengan buku-buku lain seperti Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer, Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari dan buku-buku kontemporer seperti Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata dan 5cm-nya Donny Dhirgantoro.

Ketika pertama kali saya memegang bukunya di tahun 1998, saya menyangka bahwa Robohnya Surau Kami bercerita tentang sebuah surau (dalam konteks bangunan fisik) yang oleh suatu sebab lalu roboh dan menjadi tragedi karena memakan korban. Ternyata saya kecele. Robohnya Surau Kami ternyata adalah sebuah sindiran A.A. Navis yang dituturkannya dengan alur yang kuat walaupun bahasanya sederhana, dengan dialog yang bernas walaupun kalimat-kalimat itu sebenarnya tak lain daripada percakapan biasa dari orang-orang biasa.

Dari 10 cerita pendek yang terkumpul pada buku Robohnya Surau Kami itu, semuanya adalah cerita tentang orang-orang biasa, cerita yang kemungkinan terlahir dari peristiwa yang dialami oleh orang-orang yang ia kenal atau yang ia lihat atau yang ia temui di sekitaran kampungnya di Padangpanjang, Sumatera Barat.

Jika kita baca seluruh cerita yang tersaji di buku itu, kita melihat kepiawaian A.A. Navis dalam bertutur, karena ia bertutur dengan begitu rancak, dengan kalimat-kalimat yang mampu membawa pembaca pada suatu masa atau tempat, hingga kita sebagai pembaca terasa begitu dekat dan nyata pada peristiwa yang sedang terjadi.

Kalimat pembuka dari setiap cerita A.A. Navis selalu berdaya pikat, yang membuat pembacanya tertawan lalu mengikuti kalimat berikutnya, baris demi baris, paragraf demi paragraf hingga tanpa terasa habislah sebuah cerita. Pendeknya, pembaca tidak akan berhenti sebelum sampai pada kata tamat. Di bagian akhir, A.A. Navis biasanya akan menutup cerita yang untuk menyimpulkannya ia serahkan sendiri kepada pembacanya. Ia tak mau menyimpulkan. Ia tak mau menggurui. Ia tak mau menasihati siapapun.

Pada pembukaan Robohnya Surau Kami, A.A. Navis bertutur begini:

“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke Barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.”

Betapa kalimat pembuka yang indah dari si pencerita yang menggunakan kata ganti pertama tunggal “aku”.

Belum-belum kita sudah disuguhi dengan sebuah pemandangan tentang sebuah situasi di sebuah kota kecil, sebuah jalan menyusur, sebuah kampung, sebuah surau tua yang ada kolam ikannya dan pancurannya, dan seorang tua yang disebutnya Kakek. Situasinya tergambar begitu damai dan permai.

Yang membedakan cerita A.A. Navis dengan cerita milik pengarang lain adalah, A.A. Navis selalu mengolahnya menjadi cerita satir. A.A. Navis tidak hanya “master of satire” tetapi master of satire yang humoris atau master of humor yang satir.

Di kalimat pembuka di atas, sebenarnya A.A. Navis ingin melucu sekaligus menyindir tokoh Kakek yang digambarkannya dengan kalimat “seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.”

Apa yang muncul di benak kita ketika A.A. Navis mendeskripsikan mengenai seorang tua dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat?

Jika kita membaca kisah itu selanjutnya, di tengah cerita muncul seorang tokoh bernama Ajo Sidi, yang banyak omong, yang suka membual kesana-kemari, yang kemudian bertemu dengan Kakek di surau itu. A.A. Navis yang “nakal” sengaja mengontraskan kedua tokoh ini; satunya tokoh saleh, satunya tokoh pembual, pendosa.

Dan akhir kisah dari kedua tokoh itu dibikin oleh A.A. Navis begitu tak terduga. Ia seakan ingin mengecoh pembaca dengan membuat akhir cerita seolah-olah “tidak seperti yang diharapkan”. Tetapi di situlah keindahan sebuah kisah, bukan?

Pada penutup kisah Robohnya Surau Kami, A.A. Navis menyuguhkan dialog tokoh “aku” dengan istri si pembual Ajo Sidi tentang kematian Kakek:

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung-jawab, “dan sekarang kemana dia?”

“Kerja.”

“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya. Dia pergi kerja.”

Tamat. Selesailah kisah Robohnya Surau Kami itu. Dan kita sebagai pembaca diminta oleh A.A. Navis untuk menyimpulkannya sendiri. Ia membiarkan cerita itu lepas sendiri sehingga siapapun bebas menangkapnya, apakah menangkapnya secara utuh, atau hanya kena kepalanya, ataukah hanya kena ekornya. Begitulah cara A.A. Navis melucu dengan satir dan menyindir dengan lucu.

Cerita-cerita yang lain dalam buku Robohnya Surau Kami begitu beragam menceritakan tentang tokoh dan peristiwa, tetapi tetaplah satir yang humor dan humor yang satir.

Cerita yang ia beri judul “Pada Pembotakan Terakhir”, berkisah tentang Maria, seorang anak berumur sekitar 7 tahun, yang hidup bersama dengan ibu tirinya yang kejam. Si pencerita sebagai si “aku” adalah teman Maria yang rumahnya bertetangga tetapi dipisahkan oleh selokan kecil yang melintang tempat orang-orang membuang sampah. Setiap hari si “aku” ini mendengar tangis dan ratap Maria ketika dipukuli oleh Mak Pasah, ibu tirinya, karena tak berhasil menjual kue-kue bikinannya sampai habis terjual.

Di akhir cerita, lagi-lagi A.A. Navis menggantung ironi dengan sebuah tragedi yang dialami Maria yang mati karena babak-belur, tetapi Mak Pasah hidup enak. Si “aku” menuturkan begini:

“Kejadian itu sudah dua puluh lima tahun berlalu. Ibuku sudah lama meninggal. Tapi Mak Pasah masih hidup. Dia sudah lama tidak menjual kue lagi. Setelah gagal menjadi penjual kue, ia beralih berdagang emas. Dan kini ia sudah kaya dan bersuami muda.”

Tamat. Cerita berhenti. Tetapi kesimpulan kisah itu seakan menggantung, masih koma, belum titik. Dan A.A. Navis menyerahkannya kepada pembaca untuk menyelesaikan dan menyimpulkan sendiri dengan bebas.

Dan cerita-cerita yang lain di buku itu selalu menyisakan tanya yang belum terjawab. Begitulah A.A. Navis mengajar pembaca. Ia bertutur sampai selesai tetapi sebenarnya belum selesai, belum titik.

Bukankah kehidupan di dunia ini memang belum berujung pada titik? Kita melihat banyak ironi dalam kehidupan ini, bukan? Orang jahat hidup enak, orang baik hidup menderita. Itu adalah simplifikasi dari kisah kehidupan manusia yang kita coba pahami. Tetapi sesungguhnya apa yang kita lihat dengan kasat mata saat ini masih berhenti di koma, belum titik.

Dan A.A. Navis seakan mengerti ya begitulah adanya kehidupan. Itulah sebabnya hampir seluruh cerita yang ia tulis selalu diakhirinya dengan koma, karena ia menyadari tidak mungkin manusia yang serba terbatas ini sanggup untuk memberi titik pada kehidupan yang sedang berlangsung.

***

1 likes
Titus Jonathan

Author

Titus Jonathan