Musik / Nasional

Lagu Surabaya dan Perjuangan Musik Dara Puspita yang Terkekang

10/11/2020

Tags: , , ,

Dara Puspita Lagu Surabaya

Surabaya, Surabaya, oh Surabaya. Kota kenangan, kota kenangan takkan terlupa.

Membaca penggalan lagu Surabaya, mengingatkan kita pada satu kenangan masa perjuangan yang telah berlalu lama. Indonesia yang saat itu masih sangat muda, belum sepenuhnya merdeka karena sekutu yang tertinggal. Puncak 1945 menjadi tahun penuh tumpah darah, taktik, serta strategi perjuangan bagi tanah air. Ketika pasukan sekutu mendarat di akhir Oktober 1945, Surabaya bagai benteng persatuan yang kuat di bawah gerakan Pemuda.

Gelora suara Bung Tomo tersiar membara, memberikan kobaran api semangat pada rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Tak hanya senjata, perlawanan pada sekutu dilakukan dengan bambu runcing ‘tuk menahan kerasnya pertempuran. Sejumlah 1.000 orang gugur? Lebih! 20.000 orang tercatat gugur dalam pertempuran ini.

Bersyukur, pertumpahan darah menghasilkan kenangan yang agung. Peninggalan sisa perjuangan para leluhur ada dalam setiap buku sejarah, juga pada musik yang universal. Sebuah lagu kenangan yang diciptakan untuk kita sekarang, masih mesra melekat bahwa Surabaya memang layak disebut sebagai kota Pahlawan.

Surabaya, kota kenangan, takkan terlupa. Surabaya, di tahun empat lima kami berjuang, bertaruh nyawa.

Lagu Surabaya, diciptakan pertama kali oleh kelompok teater Bintang Surabaya. Lagu ini  telah digubah oleh A. Rachman (ayah dari personil Dara Puspita) dan populer di tahun 64-an, 20 tahun kemudian setelah peristiwa 10 November 1945. Rachman berharap dapat melanjutkan perjuangan kota Surabaya, dan memberi semangat patriotis itu pada anak-anak perempuannya. 

Sampai saat ini, irama lenso dan suara wanita khas Dara Puspita tak pernah absen diputar RRI Surabaya sebagai peringatan hari Pahlawan tanggal 10 November. 

Masuknya Musik Ke Barat-baratan jadi Gelora Tersendiri bagi Arek Suroboyo

Memang, menilik kondisi penduduk yang plural dan potensinya sebagai kota metropolitan, Surabaya menjadi tempat perkembangan berbagai jenis kesenian. Sebut saja, musik keroncong dan pertunjukan Ludruk adalah 2 cabang seni yang guyub dengan aset kebudayaan Jawa. Namun yang tak boleh diasingkan dari dampak heterogenitas-an adalah perkembangan dari sisi kesenian modern. Musik pop yang pada masa 60-an besar dengan nama The Beatles dan The Rolling Stone, mendunia hingga sampai di telinga arek-arek Suroboyo.

Cermin musik rock n roll juga masuk dalam darah Dara Puspita, sang kuartet wanita pertama band daerah Surabaya. Hal kreativitas kesenian modern pun tak ayal dipentaskan dalam pertunjukan musik di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Satu-satunya sentral ruang pertemuan antar pelaku seni dan penikmat seni bagi rakyat. Tak hanya bagi rakyat, bagi Dara Puspita sendiri THR adalah titik dimana awal karirnya serius di industri musik.

Kala itu grup musik kenamaan Koes Bersaudara bertandang ke Surabaya dan hadir dalam konser di THR. Tak melewatkan kesempatan, gadis-gadis Puspita sengaja mendekat, meminta tanda tangan, dan tak tanggung untuk meminta bimbingan dari band yang mereka kagumi itu.

Seribu keberuntungan datang, nekat mereka pun terjawab. Jiwa gelora muda yang menggebu mengantarkan karir mereka hingga sampai ke Jakarta menjadi murid dari grup Koes Bersaudara yang ternama. Bahkan status ‘murid’ tak menghentikan keinginan mereka untuk bisa tampil setara dengan gurunya. Nama Dara Puspita yang masih junior justru bisa menjadi band yang manggung bareng sekelas idola mereka. Elu-elu nama dan permintaan jabat tangan pun ramai riuh tak pernah luput dari ketenaran dampak modernitas.

Di sisi kesenian tanah Surabaya sendiri, ketenaran dari jalan modernitas dianggap menggerus seni kenamaan daerah yang sudah lebih dulu tertanam. Kehadiran musik yang kebarat-baratan dilarang masuk dan dibawakan di tanah air karena dianggap dapat memudarkan kecintaan pada tanah air.

Awal Kelahiran Genre Indorock di Indonesia 

The Tielman Broterhers - Toetoer
The Tielman Brothers

Bukan Dara Puspita atau Koes Bersaudara yang memulai. Bila diingat kembali The Tielman Brothers jauh lebih dulu memulai karirnya. Terlahir dari ibu pertiwi yang sama, perjalanan musik Tielman Brothers juga dimulai dari Surabaya. Digawangi oleh empat kakak beradik laki-laki dan adik perempuan, mereka sering tampil membawakan lagu-lagu dan tarian daerah tapi juga sering menampilkan gaya bermusik yang nyentrik.

Merekalah grup musik tertua yang berasal Indonesia. Kemampuan musik mereka diturunkan dari sang ayah, Herman Tielman asal Kupang dan Flora Lorine Hess. Seorang kapten tentara KNIL yang sering bermain musik bersama teman-temannya semasa tinggal di Surabaya. Percampuran budaya yang mereka terima berpengaruh pada bentukan kualitas musiknya, Indorock. Sebutan bagi genre rock dengan unsur keroncong yang dibawakan oleh Tielman Brothers.

Namun berbeda dengan Dara Puspita yang ter-influence dari The Beatles, The Tielman Brothers malah justru memperkenalkan musik indorock sebelum The Beatles besar. Aksi panggung mereka yang dikenal selalu atraktif dengan skill tinggi menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. 

Bahkan banyak yang menyebut Andy Tielman lah yang pertama mempopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.

Sadar bahwa kehadirannya terbatas di negeri sendiri, The Tielman Brothers nyaman bertengger di negeri lain. Tielman Brothers pada akhirnya pindah dan membesarkan namanya dari negeri Belanda. Masuk dalam musik internasional di tahun 1950-an, TTB sudah dipantek sebagai perintis musik rock n roll di Belanda. Kenamaan mereka jauh didapatkan sebelum The Beatles dan Rolling Stone bersinar. 

Namun sayang nama mereka justru tak mendapat banyak ingatan dari negeri sendiri. Sementara itu, Dara Puspita dalam waktu satu tahunan karirnya, telah melakukan 250 tur hingga ke Iran, Jerman, Turki, Hongaria dan negeri di Eropa lainnya. 

Yang Dikekang Malah Sampai Mancanegara

Meski tak bisa dilupakan bahwa suasana politis tahun 50-60an tidak menguntungkan band musik yang berekspresi, namun semangat mereka tak terhenti. Geloranya lanjut hingga sampai ke mancanegara. Berangkat dari asal daerah yang sama Surabaya, mereka hajar perjalanan karir dan layak dicatat namanya jadi musisi Indonesia yang berkelas dunia. 

Sedikit mengutip dari sebuah wawancara, Yok (personil Koes Bersaudara yang pernah dipenjara karena bermusik ala Barat) mengaku tidak pernah ingin menodai kedaulatan Indonesia. Mereka malah ingin mengharumkan nama Indonesia melalui musik.

Bagi Yok, bela negara bukan hanya lewat wajib militer, tetapi bisa lewat kesenian. “Kami ini betul-betul cinta Nusantara. Itu sebabnya kami menyampaikan pesan melalui musik. Kami ingin menanamkan rasa memiliki, rasa mencintai, menjelaskan bahwa Indonesia itu kaya raya. Sampai lautnya aja bukan lautan, tapi kolam susu. Itu harus dimengerti,” ujar Yok.

koes-bersaudara toetoer
Koes Bersaudara

Dara Puspita sendiri pada album Jang Pertama juga berisi lagu-lagu kecintaannya pada tanah air, seperti Pantai Pataya, Tanah Airku, Mari-Mari, Ali Baba, Burung Kakak Tua, Lagu Gembira, dan Surabaya.

Bagai keberanian kawula muda yang tak padam, suara mereka tersiar. Seperti aspirasi perlawanan Bung Tomo yang dengan lantang mengucap merdeka atau mati, suara seni dan musikalitas tinggi yang dimiliki Dara Puspita tersiar bebas mewakili kemerdekaan dari musik itu sendiri. 

Lagu Surabaya pada tahun 1964-an yang populer adalah pengingat. Bahwa di kota Pahlawan ini rakyat telah berjuang bersama bagi pertaruhan nyawa, begitu pula cerita bagi perjalanan seni yang mendunia.

2 likes
Ester Ria

Author

Ester Ria