Nasional

Ahmad Tohari, Menulis dengan Dasar Kemanusiaan

04/02/2021

Tags: , , , ,

Bagaimana bisa, manusia tetap eksis ketika kemanusiaan telah mati? 

Ahmad Tohari - toetoer.com

Ronggeng Dukuh Paruk, adalah salah satu novel sensasional karya sastrawan Ahmad Tohari yang dipublikasi tahun 1982. Mungkin naskah ini hanya “kalah pamor” dari  naskah-naskah Pramoedya Ananta Toer yang begitu dicari orang kala itu.

Mengapa dikatakan sensasional? Karena memang kisah yang menceritakan tentang kehidupan seorang penari ronggeng dari sebuah desa kecil ini, terkesan sebagai sebuah kisah pembelaan terhadap mereka-mereka yang teraniaya pasca meletusnya Gerakan 30 September 1965. Lebih kontroversi lagi, naskah ini justru dipublikasi kala rezim Soeharto yang menjadi “trademark” pembasmi kelompok komunis di tanah air masih sangat perkasa di negeri ini. 

Pria kelahiran Banyumas ini sendiri mengaku menulis Ronggeng Dukuh Paruk sebagai sebuah kritik terhadap rezim yang sedang berjaya. Menurutnya, peristiwa 65 merupakan bagian dari dinamika “perang dingin” blok Barat yang direpresentasikan oleh Eropa dengan blok Timur yang direpresentasikan oleh Uni Soviet. Namun dampaknya ikut dirasakan oleh penduduk pelosok desa di Indonesia, tak terkecuali keluarganya.

“Ada kekesalan ketika itu, namun timbul rasa kasihan juga ketika orang-orang kampung yang dituduh komunis dibunuh (apalagi beberapa tepat di depan matanya). Orang-orang kampung hanya ikut-ikutan, mereka tergiur karena dijanjikan akan mendapatkan tanah garapan, namun tidak paham dengan Partai Komunis. Bagi saya, itu sekadar kritik. Tahun yang membuat trauma, pembunuhan dan pembakaran dimana-mana, dari desa hingga ibu kota terkena dampaknya,” kata Tohari kala diwawancara sebuah media ibu kota.

Mantan Redaktur Harian Merdeka ini menyatakan, sebagai salah satu saksi mata peristiwa besar seperti itu, menjadi beban bagi dirinya jika peristiwa itu tidak diabadikan dalam sebuah tulisan. “Sungguh tidak pantas jika peristiwa 65 tidak terekam dalam jejak karya sastra Indonesia,” katanya simpel.

Ahmad Tohari - toetoer.com

Kemunculan Ide

Sebagai sebuah ide, sebenarnya cerita Ronggeng  Dukuh Paruk  sudah menghilang dalam ingatannya sebagai sebuah pengalaman pribadi yang tak bisa terlupakan. Pada tahun 1965an, di desa Pekuncen, Jatilawang –desa yang menginspirasi nama Dukuh Paruk–, Tohari muda melihat masyarakatnya terbagi menjadi empat golongan yakni kaum Nasionalis PNI (Partai Nasional Indonesia), NU, PKI dan Muhammadiyah.  

Kontestasi politik itulah yang membuat ada pemisahan cukup signifikan antar satu golongan dengan golongan lain, bahkan saudara pun bisa saling tak tegur sapa dan putus hubungan hanya karena beda pandangan politik. 

Situasi ini semakin diperparah dengan kondisi kemiskinan yang terjadi di sana. Apalagi jika kemarau datang, Pekuncen yang tak punya sarana irigasi, membuat masyarakat semua jadi miskin, bahkan kelaparan.

Berbarengan dengan kemiskinan yang melanda, Gerakan 30 September 1965 malah pecah dan ini jelas membuat pemilahan kelompok jadi semakin tajam. Akhirnya banyak masyarakat yang dihukum tanpa peradilan, termasuk seorang gurunya yang harus  dieksekusi tentara di lapangan setempat karena dituding terlibat PKI. Yang membuatnya semakin miris, massa yang menonton justru bertepuk tangan tatkala suara bedil meraung dan timah panas menghujam jantung sang guru.

Bayang-bayang kekerasan sosial yang dia saksikan pasca meletusnya peristiwa G30S tersebut, memang tak dia tulis seketika itu juga. Ini karena dirinya masih terlampau muda untuk membuat catatan atau tulisan dari cerita tragis itu. Terlepas dari kejadian tak mengenakkan itu, Tohari justru menemukan tokoh Srintil sebagai inspirasi novelnya kemudian. Tokoh ini pun diperolehnya dengan tak sengaja, yakni ketika ia tengah berburu burung di sebuah hutan yang sepi. Di hutan itu, dia sempat bersua dengan seorang ronggeng muda nan cantik yang merupakan simpanan dari seorang petinggi desa. 

Semasa muda, suami Siti Syamsiah ini memang banyak melihat kehidupan kaum abangan di kampungnya yang menjadikan seni ronggeng dan wayang kulit sebagai bagian kebudayaan melekat setempat. Konon gadis inilah yang kemudian menginspirasi sang penulis untuk mewujudkannya dalam karakter Srintil dalam kisah Ronggeng Dukuh Paruk ini. 

Tohari mengaku sebelum memutuskan menulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, ada pergumulan hebat di batinnya. Dia pun sempat ragu untuk lanjut menulis atau membiarkan kisah ini hanya bersemayam di kepalanya. Sebab dia tahu kalau tetap menulis, dia tentu akan berhadapan dengan kelompok NU dan juga rezim Orde Baru yang tengah berkuasa. Namun akhirnya dia menuliskan juga kisah Ronggeng Dukuh Paruk ini dalam tiga seri, yakni Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Menariknya kemudian novel ini juga diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Spanyol dan Italia.

Ahmad Tohari - toetoer.com

Riwayat Ahmad Tohari 

Ahmad Tohari sendiri terlahir dari pasangan Muhammad Diryat dan Saliyem pada 13 Juni 1948. Ia merupakan putra asli Banyumas yang sempat menuntaskan jenjang pendidikan mulai tingkat dasar, menengah dan atas di Jawa Tengah.

Tohari merupakan anak keempat dari pasangan itu. Ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang hangat. Nilai kasih sayang, kedisiplinan, kejujuran, kesederhanaan dan keharmonisan yang sarat akan muatan agama menjadi pemandangannya sehari-hari. 

Selepas masa SMA di Purwokerto, Tohari pernah memasuki beberapa fakultas demi mengejar impiannya. Sebut saja ia pernah menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).

Setelah itu dia memulai karirnya di bidang jurnalistik hingga mendapatkan predikat sebagai redaktur di beberapa media massa Jakarta seperti Merdeka, majalah Keluarga dan Amanah serta bekerja di majalah BNI 46. Di masa itu, banyak tulisan yang berisi gagasan kebudayaan dimuat pada berbagai media massa. Walau demikian kemudian Tohari memilih menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota kelahirannya saja.

Selain sebagai penulis, Tohari juga banyak diundang sebagai pembicara di berbagai diskusi/seminar kebudayaan. Tahun 1990, pria yang gemar memancing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa.

***

*Gambar diambil dari mediaindonesia.com, nu.ir.id, ukmmapensastek.wordpress.com yang disesuaikan dengan toetoer.com

0 likes
Wahyu Wibisana

Author

Wahyu Wibisana