Kebangkitan

Antara Politik dan Budaya: Konflik Budi Utomo, Dewan, dan Kesadaran

04/11/2019

Tags:

budi utomo - toetoer.com

Jiwa Budi Utomo yang lahir dari ungkapan cita-cita Sutomo di ruang kelas STOVIA adalah awal dari perjuangan pendidikan para kaum priyayi yang merasakan pembelajaran setelah Politik Etis diterapkan, tetapi semakin sadar akan hegemoni pemerintah yang sebenarnya hanya menghasilkan orang-orang yang bekerja pada pemerintah sebagai pegawai saja – suatu tujuan yang bukan diperuntukkan demi kemajuan intelektual rakyat Hindia Belanda secara keseluruhan. Praktis, pendidikan yang diterapkan Hindia Belanda tidaklah mengubah keadaan bangsa yang menderita dalam penjajahan.

Orang-orang yang setuju dengan pendapat Sutomo nantinya akan membentuk suatu perkumpulan, yang namanya berasal dari perkataan Sutomo pada Dokter Wahidin yang bergerak dalam bidang pendidikan untuk rakyat, “Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami!”

Dokter Wahidin dan Sutomo memiliki cita-cita yang sama, memberantas kebodohan dan menumbuhkan kesadaran nasional. Saat itu sekolah-sekolah tidak menjadikan kehidupan rakyat menjadi lebih baik, alhasil banyak yang memilih untuk tidak sekolah, karena sekolah hanya mengajarkan kurikulum Belanda, suatu hal yang tidak mereka butuhkan.

Maka terbentuklah Budi Utomo yang dikenal di Jawa. Cita-cita Budi Utomo dalam pendidikan merembet hingga ke kota-kota lain. Kebangkitan nasional semerbak. Perubahan sosial masyarakat semakin gencar disuarakan di tengah-tengah ketimpangan yang menerpa.

Pada 1908, Budi Utomo melaksanakan kongres di Yogyakarta, dan menghasilkan rumusan tujuan perkumpulan; kemajuan yang selaras untuk kemajuan negara dan bangsa. Saat itu kata “kemerdekaan” belum dipakai. Budi Utomo masih berusaha meningkatkan taraf hidup masyarakat pada saat itu, belum sampai pada pergerakan politik kemerdekaan. Dan pendidikan adalah salah satu caranya dari berbagai banyak jalan yang dapat ditempuh.

Hingga pada akhirnya, Dokter Cipto Mangunkusumo dan Dokter Radjiman Wedyodiningrat berselisih. Cipto menginginkan Budi Utomo untuk memperluas keanggotaannya bagi semua yang lahir, hidup, dan mati di Hindia. Dari keinginannya ini, jelas Cipto menginginkan Budi Utomo mulai memijaki dunia politik. Tetapi Radjiman tidak setuju karena berpikir bahwa rakyat belum siap untuk gerak seprogresif itu, seprogresif gerakan politik.

Dokter Cipto Mangunkusumo meletakkan jabatannya sebagai Komisaris Dewan Perkumpulan sekaligus keluar dari Budi Utomo. Cipto nantinya akan memprakarsai berdirinya partai politik pertama Hindia saat itu. Dan Budi Utomo, perlu bertahun-tahun lagi untuk menjadikan dirinya gerakan politik.

Situasi yang semakin mendesak membuat Budi Utomo mau tidak mau harus berjuang di ranah politik. Apa yang diperjuangkan Budi Utomo jelas berlawanan dengan kemauan kaum kolonial. Maka menjadi perkumpulan yang berusaha bergerak dalam kesejahteraan rakyat kian tertahan dengan keberadaan pemerintah kolonial. Bergerak dalam kebudayaan tidak akan serta-merta menjadikan Budi Utomo berhasil dalam perjuangannya, sekalipun Budi Utomo memiliki dasar sebagai perkumpulan yang kedaerahan.

Intrik tersebut membuat pemerintah merencanakan dewan perwakilan rakyat, yang rencana awalnya sangat ditentang Budi Utomo karena keanggotaan yang didominasi Belanda secara besar dan keberadaan perwakilan rakyat Hindia yang sangat terbatas, terlebih dewan yang satu ini sangat menyakiti perasaan kaum pergerakan, yaitu Dewan Jajahan (Koloniale Raad). Dari 29 anggota, hanya delapan yang non-Belanda, lima orang dari kalangan priyayi dan tiga orang yang ternyata juga berbagi bagian dengan orang Timur Asing.

Koloniale Raad mati sebelum lahir. Pemerintah pun membentuk Volksraad, dewan rakyat yang keanggotaannya lebih adil. Tetapi peran Volksraad ini langsung pudar. Tak lain, karena selama ada suatu kekuatan yang mampu mematahkan kehidupan kolonial, maka kekuatan itu harus ditekan sekuat-kuatnya. Volksraad pun tak lebih menjadi dewan dan tidak bekerja dengan semestinya.

budi utomo - toetoer.com

Budi Utomo dikenal sebagai perkumpulan yang kooperatif dengan pemerintah, dengan keberadaan wakil-wakilnya di Volksraad. Tetapi, pada akhirnya Budi Utomo memilih untuk menjadi perkumpulan yang non-kooperatif, sekalipun tetap memberikan kebebasan bagi anggotanya untuk memilih pilihannya sendiri antara menjadi kooperatif atau tidak. Perwakilan Budi Utomo di Volksraad tidak lagi dianggap sebagai perwakilan perkumpulan, tetapi hanya sebagai individu.

Pada akhirnya, ide Dokter Cipto Mangunkusumo baru direalisasikan lama setelah ia mengundurkan diri dan telah diasingkan. Budi Utomo sendiri bisa dikatakan terlambat untuk terjun, bahkan setelah Sumpah Pemuda. Budi Utomo telah menjadi akar dari banyak pergerakan yang tumbuh, hingga menjadi pohon yang lebat. Pergerakan yang berdasarkan kesadaran berbangsa hadir, dan nantinya melahirkan anak-anak revolusi yang membebaskan bumi pertiwi.

Budi Utomo, suatu perkumpulan yang memiliki cita-cita pendidikan luar biasa, menuju pergolakan politik yang mendesaknya semakin besar dan gencar guna meningkatkan derajat hidup rakyat yang bertahun-tahun hanya mampu berharap. Sayangnya cita-cita awal mereka tidak diketahui khalayak, karena rakyat hanya tahu hal-hal yang nyata, bukan mimpi-mimpi belaka.

Sumber:

Muljana, Prof. Dr. Slamet. 2012. Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan. Yogyakarta: LKiS.

Vlekke, Bernard. H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

***

35 likes
Raza Pahlawan

Author

Raza Pahlawan